Bertemu Si Bulu Merah

in fiction •  13 days ago

BUTIRAN keringat mengucur deras dari ubun-ubun Seuman Badeuk. Matanya memerah, tangannya terlihat gemetar. Seuman terus berupaya menggali tanah berkarang menggunakan kayu dan pedang. Dia tidak sendiri. Ada Ben Puteh dan Cage yang ikut membantu. Mereka sedang mempersiapkan kuburan untuk Arya, si tangan kanan Brahim Naga. Arya mati dalam belitan sanca saat mereka sedang mencari bekal makanan di Pulau Weh, kemarin.

Brahim Naga duduk bersila di depan jenazah Arya, tak jauh dari lubang yang sedang digali. Dia terus menatap tubuh sahabatnya tersebut yang telah membiru. “Apa yang akan kusampaikan pada istrimu,” lirih Brahim Naga. (Baca: Kisah Kematian Si Tangan Kanan)

Dia kembali mengepal-ngepal tinju. Mencaci maki sanca yang sudah mati dan menjadi santapan para prajurit yang kelaparan. Tak jauh dari lokasi mereka, puncak Jaboi masih saja bergemuruh. Sesekali mengeluarkan asap tebal berbau belerang yang ikut tertiup angin hingga ke tempat Brahim Naga.

“Bergegas. Kita harus bergerak menjauh dari lokasi ini. Maafkan aku Arya, jasadmu tak mungkin kami bawa lebih jauh dari sini,” kata Brahim Naga.

Belasan prajurit Brahim Naga akhirnya berhasil menyiapkan pusara untuk Arya. Mereka kemudian menguburkan sang pahlawan dengan suasana penuh duka. Proses penguburan akhirnya selesai. Brahim Naga selanjutnya menyusun strategi baru untuk melakukan penyisiran di wilayah kepulauan tersebut. Kali ini, mereka tidak mau lagi tercerai berai. Mereka bergerak beriringan dengan formasi mata panah.

Rombongan Brahim Naga akhirnya berhasil menjauh dari Jaboi. Di lokasi baru ini ada sedikit tanah lapang yang membuat Brahim Naga dan kawan-kawan berinisiatif mendirikan pondok. Pantainya juga terlihat teduh meski sesekali mereka kelimpungan karena harus menahan hempasan angin dingin dari arah teluk.

“Buat pondok sementara. Dua hari ke depan kita akan melanjutkan perjalanan ke arah sana,” kata Brahim Naga seraya menunjuk puncak bukit di punggung teluk.

Orangutan Image by Pixabay

“Kenapa harus ke sana? Bukannya di sini lebih aman? Kita juga dapat memantau kapal-kapal yang berlayar dari daratan Lamuri. Siapa tahu, ada kapal kerajaan yang mengetahui keberadaan kita disini, jadi kita lebih siap,” kata Ben Puteh.

“Ya, karena itulah kita harus menjauh dari pantai ini. Jangan sampai ada kapal kerajaan yang mengetahui kita berada di sini. Kondisi prajurit belum siap beradu fisik. Kau lihat, mereka kelelahan baik raga maupun jiwa. Apalagi komandan mereka baru saja meninggal,” kata Brahim Naga.

Ben Puteh kemudian memahami alasan Brahim Naga. Benar saja, jika mereka bertahan di sana, api unggun yang dihidupkan kala malam justru akan terlihat jelas dari arah perairan. Ini justru mengundang maut bagi kelompok mereka.

Dua hari berlalu, pasukan Brahim Naga akhirnya mulai mendaki ke arah perbukitan di punggung teluk yang landai. Babi-babi hutan sesekali mengiringi langkah mereka. Tak jarang, babi hutan jantan menantang Brahim Naga dan kawan-kawan karena merasa terganggu.

Kedatangan Brahim Naga juga mengundang perhatian Si Bulu Merah. Makhluk itu berdiri gagah di pucuk pepohonan seraya menyeringai. Telapak tangannya yang besar sesekali menumbuk dada. Mulutnya yang lebar komat kamit tak karuan. Si Bulu Merah kemudian mengaum seakan-akan memberikan sinyal kepada kawanan Brahim Naga untuk menjauh. Sinyal ini diketahui oleh Brahim Naga yang meminta teman-temannya untuk berhenti sesaat.

Brahim Naga kemudian memerhatikan Si Bulu Merah jantan yang sedang mengencingi beberapa pepohonan. Makhluk itu kemudian menepuk-nepuk tangan dan dadanya seraya mematahkan ranting-ranting pepohonan.

“Tunggu. Lihat di sana, makhluk apa itu? Apakah mereka manusia?” Ben Puteh menunjuk ke pucuk pohon ketapang.

“Entahlah, mungkin Si Bulu Merah. Hati-hati saja, makhluk itu dapat menyerang kita jika merasa wilayahnya kita ganggu,” kata Brahim Naga.

Merasa diperhatikan, Si Bulu Merah menyeringai menunjukkan dua taringnya yang runcing. Dia kemudian memperlihatkan wujudnya dengan bergerak turun dari pohon Ketapang.

“Iya benar, Si Bulu Merah. Biasanya makhluk itu tidak mengganggu kecuali saat ini sedang musim kawin. Mungkin dia menduga kita sedang mengincar para betina di wilayahnya,” kata Brahim Naga.

Brahim Naga kemudian meminta para prajuritnya untuk tidak bertindak gegabah, tetapi tetap siaga. Dia menarik kapak dan memasang kuda-kuda ketika mengetahui Si Bulu Merah mendekat ke arahnya.

Melihat lawan yang siaga, Si Bulu Merah mengurungkan niatnya. Dia malah bergerak memanjat pohon kelapa dan menjatuhkan beberapa tandan buahnya yang segar. Si Bulu Merah kemudian mengeluarkan suara yang sedikit bersahabat dan selanjutnya menghilang di balik rimbunnya pohon ketapang.

“Agh... aku sempat berfikir dia bakal menyerang kita. Ayo ambil kelapa-kelapa itu, si tuan rumah menyambut kita,” kata Brahim Naga.

Para prajurit tidak menunggu dua kali perintah Brahim Naga. Mereka mengumpulkan beberapa butir kelapa yang terpisah dari tandan. Salah satu diantaranya bahkan langsung melubangi kelapa tersebut untuk meneguk airnya yang segar.

Begitu pula dengan beberapa prajurit yang lain termasuk Brahim Naga, Ben Puteh, dan Cage.

Kala mereka menyantap daging kelapa yang masih muda itu, sayup-sayup terdengar suara lelaki dari balik semak-semak. Brahim Naga diam. Prajuritnya juga ikut hening.

“Ssstt…” Brahim Naga memerintahkan Cage untuk mengintai.

Orang yang mendapat perintah langsung bergerak mendekati suara tersebut. (bersambung...)


Catatan: Tulisan ini merupakan serial fiksi yang saya garap dalam satu bulan terakhir. Tulisan-tulisan sebelumnya juga telah dipublikasi di blog ini dengan judul Petarung Cilik, Pulau Volcano, dan Lereng Lemur. Baca juga tulisan pertama berjudul Pawang Harimau, dan cerita sebelumnya; Kisah Kematian Si Tangan Kanan.


Posted from my blog with SteemPress : https://abigibran.000webhostapp.com/2018/09/bertemu-si-bulu-merah

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Congratulations! This post has been upvoted from the communal account, @minnowsupport, by boynashruddin from the Minnow Support Project. It's a witness project run by aggroed, ausbitbank, teamsteem, someguy123, neoxian, followbtcnews, and netuoso. The goal is to help Steemit grow by supporting Minnows. Please find us at the Peace, Abundance, and Liberty Network (PALnet) Discord Channel. It's a completely public and open space to all members of the Steemit community who voluntarily choose to be there.

If you would like to delegate to the Minnow Support Project you can do so by clicking on the following links: 50SP, 100SP, 250SP, 500SP, 1000SP, 5000SP.
Be sure to leave at least 50SP undelegated on your account.