Nilai Moral
Pola membawa kehidupan semua orang terlihat sama, lahir dan kemudian mati. Mungkin hanya proses antara ada dan hingga tiada tersebut yang sering berbeda, takdir membawa tiap individu mencicipi dunia dengan keadaan dan kondisi mereka masing-masing.
Lahir untuk kemudian tumbuh menjadi dewasa, lalu menua hingga akhirnya mati, adalah pola dunia menghadirkan generasi baru untuk lahir. Atas izin sang pencipta semua berulang menjadi siklus yang tidak terhenti, hingga terompet makhluk bersayap besar berbunyi.
Terkadang saya berpikir apa yang bisa kita wariskan dari proses hidup tersebut? rekaman gerakan tubuh di Tiktok dalam irama Dance Stecu Stecu? atau foto menikmati pemandangan dan mencicipi makanan mahal yang kita upload di Facebook, atau cerita hebat yang kita bagikan di platform ini? atau kehebatan kita dalam menduduki amanah tertentu? dengan bintang dari bahu hingga kepala? emas? berlian? berhektar tanah?
Di temani secangkir kopi pahit tanpa gula, saya lagi bermain-main dengan pikiran malam ini. Gabut, generasi sebelumnya mengartikan intuisi saya malam ini, dan saya mencoba menggunakan 10 jari memilih huruf yang sudah terhafal sehingga menari-nari di papan keyboard dengan pikiran gabut.
Saya mencoba menemukan definisi sendiri tentang apa yang bisa kita wariskan untuk dunia dan generasi berikutnya. Nilai-nilai kehidupan, ya... nilai selalu memiliki makna dan memiliki harga yang bernama moral.
Nilai dari kehidupan adalah bagaimana kita dapat konsisten memperlihatkan kepada dunia tentang moral, itu sebabnya manusia paling berpengaruh nomor satu di Dunia menanamkan nilai-nilai tersebut dari 13 abad lebih yang lalu.
Hingga kini warisan tentang nilai-nilai kehidupan yang beliau bawa tetap dapat di ikuti dan di ajarkan kepada generasi berikutnya, ini menjadi nilai yang sebenarnya harus kita wariskan kembali kepada dunia dan generasi berikutnya.
Moral itu merupakan prinsip, tetapi bukan berarti dia merupakan sesuatu yang anda anggap benar tapi kenyataannya salah. Moral merupakan nilai kebaikan yang membuat anda dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, bukan malah keras kepala dengan sebuah kesalahan dan beranggapan itu benar dalam cara anda melakukan, memikirkan dan menilai sesuatu.
Menurut saya, parahnya lagi dunia salah mengartikan moral hanya sebatas tingkah laku, padahal moral cermin kata batin yang bukan saja muncul dalam wujud perbuatan, tapi juga hadir dari pikiran dan perasaan. Kekeliruan itu membuat kita semua akhir-akhir ini sulit membedakan mana yang waras dan mana yang gila, Bisa gila harta, gila jabatan, gila validasi, gila cinta, gila...gila...dan gila, sehingga moral memudar bahkan hilang.
Pengalaman hidup mengajarkan saya, bahwa mereka yang tidak memiliki moral akan tersesat sendirian dan terjebak pada pola kelakuan dan pemikiran mereka masing-masing yang cenderung salah. Mereka terlupakan dan sering di abaikan di kehidupan, disebabkan orang tidak ingin moral mereka terpengaruh sehingga berdampak kepada kehidupan orang lain, menjauhi mereka yang tidak bermoral dan melupakannya adalah cara terbaik untuk menghindar.
Lantas, saat kopi sudah menyisahkan serbu hitam di dasar gelas, saya kemudian berpikir lagi, bagaimana saya dapat memperbaiki moral dan menjaga moral saya sehingga dapat mewariskannya?
Dengan Menghela napas, saya putuskan untuk memikirkan hal itu di lain waktu, namun jika anda yang membaca ini dapat memberikan pandangan. Silahkan, saya senang untuk membacanya....tapi usahakan di atas moral yang seharusnya.
Izinkan saya mengungkapkan apa yang terfikir dalam benak saya terkait tema diatas.
Sebagai manusia kita tentu jauh dari kata sempurna. Bahkan makna Insan atau manusia secara etimologis adalah harmonis, lemah lembut, tampak atau pelupa.
Jadi sudah bisa difahami bahwa kita memiliki banyak kekurangan dalam hidup ini.
Tugas kita adalah selalu memperbaiki diri dan berusaha melakukan hal-hal yang baik dan berguna serta berusaha untuk tidak menyakiti atau menzalimi orang lain.
Dalam perspektif agama bahkan hanya dengan memindahkan duri kecil di jalan, itu bisa sebagai jalan turunnya ridha Allah SWT dan dengan demikian mendapatkan ganjaran syurga. Aamiin..
Hal-hal baik atau buruk yang dilakukan mencerminkan akhlak seseorang, baik bagi dirinya sendiri, keluarga maupun orang banyak. Dan terkait standar akhlak baik atau buruk tentu dipengaruhi oleh banyak hal, seperti pengalaman, pengetahuan dan pemahaman kita terhadap agama serta nilai-nilai moral. Tetapi secara umum kita dapat menilai "Jika kehadiran kita dalam suatu komunitas itu bisa menyenangkan atau membahagiakan orang banyak maka itu artinya kita sudah berakhlak baik, begitu juga sebaliknya jika kehadiran kita menyusahkan orang banyak, itu artinya ada yang salah dengan perilaku dan akhlak kita."
Moral atau akhlak tentu dimulai dari fikiran dan perasaan kita yang kemudian diwujudkan dalam bentuk tingkah laku kita terhadap sesama.
Pada faktanya, banyak kita temukan orang yang "tersesat" dan terjebak dengan perilaku dan akhlak yang buruk, sementara yang bersangkutan tidak menyadarinya.
Mereka terkadang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan benefit bagi pribadinya sendiri tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.
Langkah yang bijak tentu dengan menjauhi orang-orang yang "toxic" seperti itu karena biasanya mereka susah untuk diberi pemahaman dan merasa benar sendiri.
Jadi daripada membuang-buang energi kita atau bahkan berdampak buruk bagi kita, lebih baik menjauh darinya.
Kita nggak usah khawatir bahwa yang bersangkutan akan kehilangan teman, karena mengutip kata-kata orang tua : Leumo akan bersama-sama ngon Leumo, keubeu akan bersama-sama ngon keubeu sehingga kita menilai seseorang dari temannya atau circle nya.
Sebagai manusia sangatlah dhoif jika kita menilai diri kita adalah orang yang bertaqwa, karena itu adalah hak prerogatif dari Allah SWT.
Yang bisa kita usahakan adalah berusaha melaksanakan amar makruf nahi mungkar, dan itu tidaklah mudah. Dan kita hanya berusaha mewariskan nilai-nilai baik kepada penerus kita sesuai dengan pemahaman dan ketentuan dalam agama kita.
Diluar hal tersebut, kita berharap dan berdoa semoga Allah SWT menuntun jalan kita agar mendapatkan ridho dari-Nya.
Aamiin...Aamiin...
Terima kasih telah memberikan saya pencerahan yang luar biasa ini Pak @alee75.
Tidak ada satu paragraf pun yang harus saya pertanyakan, kematangan berpikir serta kebijaksanaan dalam menyikapi banyak hal, membuat saya belajar dari komentar panjang yang anda tulis.
Sisi terbaiknya anda merupakan teman saya, walau berbeda generasi. Di situlah saya dapat belajar bagaimana generasi anda menilai sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari generasi saya. Sehingga saya dapat belajar banyak hal baik, dari apa yang saya dengan dan saya lihat.
Leumo akan bersama-sama ngon Leumo, keubeu akan bersama-sama ngon keubeu. 😁 Istilah atau majas yang membuat saya tertawa.
Terima kasih Pak, semoga harapan anda pada bagian akhir komentar, dapat kita peroleh bersama-sama.
Kalau anak sekarang, simplifikasinya "Satu Circle" artinya beberapa orang mempunyai kecenderungan untuk berada dalam satu komunitas yang memiliki banyak kesamaan. Bisa karakter, hobby, idealisme dan lain sebagainya.
Man ureung tanyoe Aceh kan punya kekhasan dalam mengungkapkan sesuatu seperti lewat Haba peu antok dan lain-lain. Tetapi dibalik itu semua ada hal dan pesan moral yang ingin disampaikan.
Dalam perspektif agama di kenal istilah orang baik akan bertemu dengan orang baik yang merujuk pada hadist Rasulullah SAW: "Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai", yang menyiratkan dan menekankan betapa pentingnya memilih teman yang baik, karena pertemanan dapat mempengaruhi perilaku dan akhlak seseorang.
Jika merujuk ke nilai agama, saya pikir nomenklatur Akhlak memiliki status tertinggi. Moral adalah bagian darinya, yang terbentuk secara otomatis bila kita bisa meraih predikat Taqwa.
Jadi sebenarnya beragama dan bernegara adalah sebuah kesatuan, keduanya harus terintegrasi untuk mewujudkan harmonisasi kehidupan. Muncul pertanyaan di benak saya, apakah negara kita sudah benar-benar merdeka? Dari?, bagaimana keadaan moral anak bangsa sekarang?
Saya lebih suka menambahkan sedikit susu dalam secangkir kopi hitam itu, bukan mencoba menghindar dari rasa pahit, tetapi lebih kepada ingin mengisi hal-hal yang manis dan putih dalam kehidupan.
Senang melihat komentar anda di sini bang @fajrularifst.
Sayangnya saya tidak bisa mewariskan Taqwa, karena tuhan yang mengetahui tingkat ketakwaan seseorang. Akhlak yang mencakup hal yang begitu luas saja, juga saya sadari belum sepenuhnya saya miliki. Hingga moral menjadi nilai kehidupan yang mungkin dapat saya wariskan.
Benar bang @fajrularifst. beragama dan bernegara adalah sebuah kesatuan, Pancasila menyebutkan hal itu, sila pertama dan ketiga.
Tahun 1945 atau tepatnya 17 Agustus, secara fakta dan hukum Indonesia sudah merdeka, tidak ada lagi pertanyaan tentang hal ini.
Krisis identitas dan degradasi moral, ini jawaban berdasarkan fakta. Itu sebabnya hal ini penting untuk di cegah dengan cara mewariskan Nilai-nilai kehidupan dalam bentuk perbaikan moral.
Perbedaan selera, hal biasa. Tidak semua rasa perlu dimaniskan bang
@fajrularifst
Terima kasih sekali lagi, .
Pahitnya kopi menyimpan makna, orang yang terbiasa dengan pahitnya kopi akan lebih peka terhadap rasa manis yang nikmat, dan mereka yang terbiasa akan rasa manis, bagi mereka itu biasa saja.
Ya benar sekali bang rzramadhan.
Jika besok kita berjumpa, kita ngopi lagi. ☕☕☕☕
Congratulations
This post has been curated by
Team #5
@damithudaya
dalam ya pak 🙂 @fantvwiki tulisannya, dan penuh makna, anyway saya senang membacanya juga membaca komentar teman2 steemian hebat yang selalu memberi support serta inspirasi.
smoga hidup kita bisa terus menebar manfaat minimal buat diri sendiri dan orang2 terdekat kita
Aamiin ibu, saya merasa senang ibu juga membaca postingan yang alakadarnya ini. Terima kasih telah memberikan doa dan semangatnya.
sama2 pak