Bastian & Me #4. Mengemas Rindu Dalam Secangkir Sanger

in #writing3 years ago (edited)

Menapaki kembali kampung halaman. Ada rasa yang sulit dijelaskan. Seperti paduan antara rindu yang terjawab dan keterasingan yang tak mampu diuraikan.

Pulang kampung. Menemukan kembali panas pesisir yang konstan, ramainya lalu lintas -- dan pagi tadi -- debur ombak di Alue Naga. Dalam hati ada terbetik juga. Besok kalau bisa ingin menjumpai cemara pantai yang berdesir dihembus angin laut, terhampar di pesisir Ulee Lheu.

Tapi juga ada keterasingan yang menguar pelan seiring panas yang mengapung dari jalanan ibukota provinsi ini.

Wajah kota yang semakin tak dikenal. Bangunan baru. Jalan dengan dandanan berbeda. Lorong yang sebelumnya tak ada. Bangunan, nama, tempat. Berbeda.

Ini tempat yang sama. Tapi juga berbeda. Jejak-jejak yang lama sudah semakin pupus. Ada yang terlupakan dan menghilang.

"Tak ada yang abadi, Fay." Bastian berbisik pelan. Ia menatap kubah dan bangunan masjid di seberang jalan. Sekarang masjid itu semakin apik dan menawan. "Aku, kamu, kita semua akan tergilas oleh waktu. Pada satu titik, bahkan kenangan keberadaan kita akan pupus. Hilang. Tak ada yang tahu."

IMG_20180228_105901_HDR-01.jpeg

Ya, kita semua akan pupus. Dari tanah yang kemudian akan kembali menjadi tanah. Menulis, di lembaran kertas ataupun aplikasi digital, hanya memperpanjang keberadaan kita. Tapi tak jadi jalan keabadian. Pada satu titik kita akan terlupakan secara utuh.

Aku menatap cangkir di hadapanku. Sanger. Racikan dan teknik menyajikan kopi Aceh ini tak semudah kelihatannya. Terlalu banyak susu membuatnya jadi kopi susu. Terlalu banyak gula, maka musnahlah citarasa kopi smokeyyang menjadi khas robusta Aceh.

Sejenak ku tekuni buih yang perlahan meletup, hingga akhirnya menyisakan cairan kecoklatan dalam cangkir belimbing. Aroma khas yang membumbung dari cangkir itu, menyatu dengan ragam aroma lain. Wangi Mi Aceh yang sedang dimasak di depan sana. Kepulan asap rokok yang diam-diam meracuni siapapun, bahkan orang seperti aku yang sudah lama berhenti merokok. Harum parfum branded bertemu dengan aroma parfum non alkohol yang hanya sepuluh ribu rupiah sebotol. Semua diaduk oleh kipas angin yang berputar pelan di langit-langit ruangan.

Perlahan-lahan aku menyesap dan meresapi aroma dan rasa Sanger yang masih lumayan panas. Memejamkan mata. Terlintas gambaran meja yang ramai dengan gelak tawa, obrolan dan debat. Tak tentu arah, dari cerita di Ruang Kuliah Umum, politik, film, buku, dosen, hingga gingsul Erie Susan.

Ku buka mata dan meletakkan cangkir. Hanya catu cangkir setengah berisi. Piring berisi penganan rekan kopi. Meja marmer ini terlihat terlalu luas, dengan tiga dari empat kursi tak berisi.

Bastian menghilang. Mungkin berlarian dalam benakku atau berbaring santai di salah satu kenangan.

Ibu-ibu berbaju pegawai negeri tergelak dalam percakapan mereka di seberang meja. Samar tedengar obrolan mengenai manuver politik dari meja lain. Tujuh pemuda sibuk dengan gawainya masing-masing, mengelilingi meja lainnya.

Aku tersenyum, lalu menunduk. Tak ingin disangka gila. Berdamai dengan kenyataan, adalah cara sederhana membahagiakan diri. Menikmati apa yang ada, tanpa perlu ribut dengan yang tak dimiliki. Jalani saja. Bahagia kadang kala memang tak seindah bayangan kita. Tapi bukan berarti tak bisa dinikmati.

Hidup tidak selalu indah. Yang penting, jangan sampai lupa untuk berbahagia.

IMG_20180228_131941.jpg

IMG_20180228_105348.png

Sort:  

World of Photography Beta V1.0
>Learn more here<

You have earned 5.20 XP for sharing your photo!

Daily Stats
Daily photos: 1/2
Daily comments: 0/5
Multiplier: 1.04
Server time: 07:37:35
Account Level: 0
Total XP: 64.95/100.00
Total Photos: 12
Total comments: 3
Total contest wins: 0
When you reach level 1 you will start receiving up to two daily upvotes

Follow: @photocontests
Join the Discord channel: click!
Play and win SBD: @fairlotto
Daily Steem Statistics: @dailysteemreport
Learn how to program Steem-Python applications: @steempytutorials
Developed and sponsored by: @juliank