Sumur Tua dan Kisah Orang Mengamalkan Ilmu Hitam

in story •  last year  (edited)

image

Di kebun itu tumbuh segala jenis tumbuhan, jinak maupun liar. Juga tumbuh banyak pepohonan besar maupun kecil. Kebun itu lebih menyerupai lampoh soh, seakan-akan tidak jelas lagi siapa pemiliknya. Sangat tidak terurus. Selain terdapat sebuah sumur tua yang tidak jelas lagi bentuknya, juga ada satu lokasi berbentuk paya. Sedikit dangkal. Tapi selalu ada airnya sekali pun bukan di musim penghujan.

Salah satu penanda lokasi paya itu adalah keberadaan sebatang pohon sentang yang diameternya lebih besar dari tubuh orang dewasa, dan kain kafan putih! Tak ada yang tahu siapa yang selalu menaruh kain putih itu di sana, dan anehnya kain putih itu selalu baru. Jarang sekali aku melihat kain putih kumal dan kotor berada di sana. Orang-orang di kampung menduga ada seseorang yang selalu melakukan ritual meletakkan kain kafan putih di sana, dan yang bersangkutan boleh jadi sedang mengamalkan suatu ilmu hitam.

Ya, di kampungku masih ada orang yang percaya soal ilmu beginian. Ada yang mengamalkannya secara turun-temurun, dari orang tua diturunkan ke anaknya. Jadinya, mereka terpaksa melakukan ritual yang bagi sebagian orang aneh. Coba, ada orang yang setiap mau adzan magrib selalu pergi ke bagan (wc atau toilet) kampung yang baunya bisa bikin hidung perih. Lalu, dia mandi secara bertelanjang di sana. Tak hanya itu, agar ilmu hitam itu melekat padanya yang bersangkutan harus tidur dalam kondisi telanjang.

image

Ada pula bentuk ritual yang lebih mirip dengan budaya kaum barbar dan kanibal. Demi mengamalkan ilmu hitam, orang-orang rela menunggu bayi meninggal dan mengambil organnya. Dia akan menunggui kuburan bayi itu hingga sepi dan menggalinya saat malam. Praktek begini biasanya kita saksikan di dalam sinetron-sinetron yang khusus diproduksi untuk menakuti anak kecil. Karena keberadaan orang semacam itu, biasanya masyarakat dan pihak keluarga dari bayi yang meninggal itu akan menjaga kuburan itu hingga tujuh hari lamanya.

Di kebun yang berupa lampoh soh tapi ditumbuhi banyak tumbuhan liar dan pohon besar maupun kecil itu, sering terjadi hal-hal aneh yang tidak masuk akal. Misalnya, ada orang yang terus saja tersesat di dalam kebun, yang membuatnya harus jalan ke sana-sini sampai tidak tahu lagi jalan pulang ke rumahnya, sekali pun antara rumahnya dengan lampoh soh itu begitu dekat. Ada nenek-nenek yang bepergian seorang diri tiba-tiba sudah berada di atas pohon, yang kalau dipikir-pikir sangat mustahil bagi sang nenek itu untuk memanjat. Semua itu dianggap ulah geuntuet, satu jenis hantu yang kerap aku dengar saat kecil, dan sialnya hingga aku besar tidak pernah bertemu dengan hantu ini.

image

Sumur tua itu juga tidak kalah angkernya. Sumur yang letak lubangnya sudah tertutupi dengan semak-belukar itu dianggap ada penunggunya. Anak-anak kecil terutama yang belum bisa menghafal surat Al Fatihah sangat dilarang mendekati sumur ini. Banyak anak kecil yang sakit-sakitan setelah bermain-main di lokasi sekitar sumur. Di dalam sumur itu, selain ada penunggunya berupa makhluk halus, juga banyak terdapat hewan berbahaya seperti ular hitam berbisa, kalajengking dan dan lintah beracun. Ular dari sumur ini hanya keluar sekali dalam setahun, dan itu terjadi kala purnama bulan Agustus dalam kalender masehi.

Sementara hantu penunggu sumur, sering keluar saat gerimis pada malam Jumat. Dan, biasanya seisi kampung akan mendengar tangisan anak kecil di beberapa rumah yang berdekatan dengan lokasi sumur. Setelah suara tangisan itu mereda, mulailah orang-orang mendengar suara yang menyerupai tulang beradu tulang, berjalan ke sana-sini, membuat seisi kampung memilih berdiam di rumah. Saat itu, segala doa dan ayat Al Quran akan dibaca tak henti-hentinya demi mengusir hantu yang berupa tulang berjalan itu mendekati rumah. Kengerian begini hanya sebanding saat Aceh dibalut konflik, ketika menjelang magrib orang-orang tak ada lagi yang berani keluar rumah.

Aku terbiasa hidup dalam kondisi begitu, dan kini rasa takut itu sudah putus. Namun, aku melihat banyak sekali keanehan di sekitar sumur tua dan paya berkain kafan itu. Pohon mangga, durian, jambu hutan, dan kelapa yang ditanam dan tumbuh di sekitar sumur tua dan paya itu tidak ada yang berbuah. Sejak aku kecil hingga sekarang tak pernah aku melihat pohon-pohon itu berbuah, sementara yang tumbuh di lokasi lain di kampungku semua berbuah.

image

Note: foto tidak berhubungan dengan isi tulisan

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Peu na jak meuamai bak mon tuha nyan?

Lon hana...karena lon amai ileume puteh haha

Hahahahaha, ada tumbuhan jinak seulawit ini ya, keren li tuh tumbuhan.

  ·  last year (edited)

Neuk tuleh bak leubue, tumbuhan liar bak uroet

Oman, ngeri kali kok? Masih ada sampai sekarang? Di jaman kita tenggelam dalam dunia steemit, awak nyan mantong dalam ritual kain kafan?

Terus, ada diintip sama orang kampung ga siapa pelaku ritual itu?

Hehehe, sejak tahun lalu ga pernah dapat info update lagi sejak ada percobaan pembunuhan untuk keluarga yang mengamalkan ilmu hitam itu. Ga pernah pun aku terlalu bernafsu mengetahui soal beginian kecuali sekadar biar tak ketinggalan info saja.


Postingan ini telah dibagikan pada kanal #Bahasa-Indonesia di Curation Collective Discord community, sebuah komunitas untuk kurator, dan akan di-upvote dan di-resteem oleh akun komunitas @C-Squared setelah direview secara manual.
This post was shared in the #Bahasa-Indonesia channel in the Curation Collective Discord community for curators, and upvoted and resteemed by the @c-squared community account after manual review.

Bang, aku tadi sempat bingung baca dan lihat fotonya, kok ndak nyambung sampai baca 'note' di akhir tulisan😆
Ceritanya bagus bang... fotonya juga keren lah, ada yang terlentang dengan posisi gimanaaaa... gitu😀