[Cerpen #4] AKU MERINDUKANMU

in #steempress8 years ago (edited)


Banyak orang yang mengatakan jika cinta memang buta. Bahkan terkadang gila.

Lalu apa yang membutakan dan membuat cinta itu gila?

 

Kupandangi potret lama di galeri ponsel, seketika senyumku mengambang melihat betapa bahagianya kita dulu. Meski tidur kita selalu ditemani nyamuk-nyamuk di ruangan besar dengan puluhan penghuninya, ranjang-ranjang bertingkat dua dari kayu yang warnanya sama sekali tidak kusukai, satu hitam, satunya hijau, merah tua dan beberapa dibiarkan tak berwarna. Tetapi ruangan itu membara oleh semangat-semangat yang terpancar dari setiap wajah penghuninya. Begitu juga kita, bangun pagi yang sewaktu di rumah hampir jarang tapi di sini menjadi kebiasaan. Lari dan senam pagi menjadi salah satu kegiatan yang kita tak pernah kita lewatkan.

 


source

Siang hari kita pun terbiasa mengantri panjang hanya untuk satu pentang makanan yang terkadang tidak membuat perut kita girang, iya, makanan itu hambar tidak berasa, dingin karena terlalu lama di tempat terbuka. Tetapi kita masih bisa tertawa dan menikmati hari-hari yang sama hingga berminggu-minggu bahkan berbulan lamanya. Kita juga masih bisa menikmati keceriaan sore hari dengan cemilan gossip ringan dan ribuan impian yang mulai memenuhi kepala kita.

Kita tidak terpisahkan, kemana pun bersama dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kamu menjadi rajin setelah tiap hari kubangunkan shalat subuh, kamj mengatakan bahwa beruntung mengenalku. Begitu juga aku, masih melekat di ingatanku saat kamu berjam-jam mendekap aku ketika aku sedang demam, tidak lelah membacakan dzikir-dzikir mengagungkan Asma-Nya, yang beberapa waktu kuajarkan padamu.

Sampai tiba waktunya perpisahan, kita dipisahkan oleh para makelar kerja yang punya aturan dan kita hanya bisa menerima nasib diri menjadi bawahan dengan senyum kecut di bibir yang tak pernah terpoles warna-warni dari lipstik bermerk bahkan lipstik murahan.

Seminggu kemudian giliranmu menyusulku terbang ke negeri orang. Sampai di situ kita berhenti berkomunikasi hingga beberapa bulan, masing-masing sibuk mencari perhatian dari para majikan. Hingga sebulan, dua bulan tiba akhirnya waktu liburan dan kita kembali di pertemukan. Libur pertama setelah menanti dua bulan kerja masih dengan apik mengikuti aturan dan masih berkutit dengan mimpi untuk menjadi pekerja yang baik yang tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan.

Perlahan semua itu hilang, keglamoran dunia baru mulai menggoda mata, lampu-lampu jalan yang terang di negeri orang mulai kita nikmati, tempat-tempat indah mulai memaksa hati kita untuk menyukainya hingga setiap minggu kita bersenang-senang menikmati keindahan alam negeri orang.

Waktu pun begitu cepat berputar, kehidupan berubah tanpa pernah terpikirkan. Masalah mulai datang menghampiri kehidupanmu, mulai merampas sedikit demi sedikit keceriaanmu hingga tiba jarak memisahkan aku dan kamu. Pekerjaanmu menjadi jauh, kita tidak lagi bisa setiap minggu bertemu, aturan jam kerja semakin membuat kita tidak pernah sama sekali bertemu, hingga sampai setahun kita hanya menikmati kebersamaan dalam dunia maya. Namun, aku selalu berusaha kembali menumbuhkan semangatmu setelah mendengar curhatan setiap malammu.

 


source 

“Aku sudah lelah, aku kelelahan, nasib benar-benar tidak adil."

Setiap hari kata-kata itu menjadi salam pagi, siang dan soremu padaku. Bahkan mengutuk gelar S1 mu yang kenyataannya tidak memuaskanmu menikmati hari di negeri orang, kamu mulai membandingkan nasibku dan nasibmu. Sampai akhirnya aku kehilangan kontak denganmu, semu menjadi sepi, akun-akun di media sosialmu menjadi hilang, no teleponmu mulai diam, aku kalang kabut mencari jejakmu, apalagi setelah ibumu tiap hari mengirimiku pesan demi pesan menanyakan kabarmu, aku mulai mengutuk dirimu yang hilang tak memberi kabar, aku mulai merindukanmu di antara kekesalanku yang seperti ditinggalkan.


 

Enam bulan berlalu, ternyata semesta masih menginginkan kita terus bersama menjadi sepasang teman yang ditakdirkan untuk saling menyemangati. Kamu kembali, iya kamu datang lagi dengan membawa jutaan maaf dan curhatan rindu yang kamu tabung enam bulan ini. Dan aku sangat bahagia, seperti menemukan cinta yang selama ini kuimpikan.

Kamu juga tahu, selama ini aku lebih suka bercerita dengan penantian cintaku, cerita tentang tujuan akhir dari seorang wanita, menjadi istri yang baik untuk suami yang mencintaiku dan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak yang shaleh dan shaleha yang punya nasib lebih baik dari ibunya.

Kala itu kamu sempat tertawa dan bertanya apakah kita akan memiliki semua itu? Iya, kamu pun sebenarnya menginginkan apa yang aku impikan. Meski sesekali kamu bergumam bahwa mimpimu tidak lah setinggi mimpiku, kamu bilang mimpiku adalah cukup untuk tidak tertarik pada orang sepertiku, pada sesama jenis. Kamu tertawa sambil menunjuk pada dua orang di depan kita, dua orang yang sedang dimabuk cinta, sayang bukan hanya mabuk saja cintanya tetapi gila, iya mereka sudah gila saling mencintai sesama jenis, menikmati dan memamerkan keromantisannya di terbuka, tepat di depan mata kita, senja kala itu membuatmu berkata bahwa lingkungan tidak akan mengubah kenormalanmu.

 


source 

Tapi apa kenyataannya, dunia ini tidak menyukai dan tidak bersahabat dengan orang yang sedang putus asa dan terluka sepertimu. Kamu terkalahkan oleh kejamnya dunia dari percikan-percikan lelah yang membuatmu benar-benar hancur. Kamu menjadi berubah, lukamu benar-benar membuatmu berbeda dari kamu yang aku kenal dulu. Kamu menjadi teramat menyedihkan di mataku.

Kamu mulai hilang kepercayaan, mulai memohon-mohon padaku untuk terus berbohong pada ibumu, bahwa dirimu tetap yang dulu, anak mamih yang siap menerjang kehidupan demi mamih dan adik satu-satunya, yang rela mengesampingkan cibiran bahwa S1nya hanya mampu menerbangkan dirinya ke negeri orang. Dan tentu saja itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal bagiku, bukan karena ibumu atau siapa pun tapi karena aku tidak ingin melihatmu seperti itu, karena aku menyayangimu.

Kamu mulai membela dirimu, di tengah isak tangis itu agar aku memahamimu. Dengan bermacam-macam alasan kenapa kamu bisa menjadi seperti itu, dengan ribuan permohonan agar aku tidak membencimu. Tapi tetap saja aku tidak mau mengerti semua itu, bukan benci tapi bagiku aku lebih memahami sebuah cinta semu. Cinta yang berlalu begitu cepat dalam fajar asmara yang mudah sirna daripada cinta tak normalmu yang melupakan kodrat sebagai seorang perempuan.

Kamu mengatakan telah berulang kali mencoba melawan untuk tidak tertarik pada lelaki jadi-jadian, namun masalah hidup yang sebenarnya hanya ujian sesaat telah membawamu pada jurang kehancuran di saat seperti itu kamu bilang butuh teman sedangkan aku terpisah jarak, maya tidak mampu membuatmu merasa nyaman dan dia memberikanmu pundak kenyamanan di tengah kewalahanmu menghadapi secuil getir kehidupan.

"Dia hadir tepat saat aku membutuhkan, bahkan saat aku tidak tahu harus kemana di negeri orang sedangkan kamu jauh dan aku tidak mau membebanimu dengan masalahku. Dia selalu ada memberiku rasa nyaman hingga aku merasa bergantung padanya."

Ucapanmu itu membuat darahku naik, aku lupa pada privasi seorang sahabat yang kutahu aku tidak menerima ada orang yang memanfaatkan kelemahanmu. Maka saat itu juga kumarahi habis-habisan dia yang telah membuatmu buta dan gila, padahal aku tahu semua bukan hanya kesalahannya, jika saja kamu kuat.

Namun kemarahanku justru membuatmu harus memilih antara aku dan dirinya. Pilihan konyol dari lelaki jadi-jadian itu, dia pun terang-terangan di depanmu menyalahkan aku yang tidak punya perasaan memisahkan hubungan cintamu dan dirinya, dia juga mengatakan kalau aku cemburu padanya. Kata-kata yang menyedihkan sama seperti dirimu saat ini yang tak mampu lepas dari cinta yang bagiku tidak masuk akal. Sampai akhirnya kamu memilih dia dan memutuskan tali pertemanan dengan memohon padaku untuk tidak membencimu, tidak mengatakan pada ibumu dan merelakan dia bahagia. Hanya dengan alasan bahwa dia telah memberimu banyak rasa aman dan nyaman.

Dan kamu pun pergi.



 

Tidak terasa pipiku sudah basah, tetes-tetes berjatuhan tepat di wajahmu, wajah yang tersenyum manis dalam potret lama di galeri ponselku. Hari ini aku benar-benar merindukanmu, merindukan kenangan kita dulu. Aku sama sekali tidak membencimu, hanya hatiku serasa teriris sembilu, kupikir kamu akan berubah menjadi orang sukses menggapai mimpi-mimpi kita terlebih dahulu dariku atau setidaknya kamu masih sama seperti yang kukenal.

Aku menjadi benar-benar tidak rela cinta dan perasaan itu mengingkari kodratmu sebagai seorang wanita yang harus menjadi pendamping pria. Tetapi saat itu aku berjanji dalam hati untuk ada di dekatmu, membantumu untuk keluar dari kelemahanmu, hanya saja kamu memilih meninggalkanku demi dirinya.

 

Aku Merindukanmu sahabatku dan aku menyayangimu 💙

 

 

@nnaachlam

 

 


Posted from my blog with SteemPress : https://nnaachlam.com/cerpen-4-aku-merindukanmu/

Sort:  

Sahabat lebih istimewa dari kekasih...
Karena,dgn sahabat hari akan lebih bsrwarna

Posted using Partiko Android

Saya juga merindukanmu....

Semoga @nnaachlam juga akan memulai hidup yang indah dan lebih indah

Posted using Partiko Android

Resteemed your article. This article was resteemed because you are part of the New Steemians project. You can learn more about it here: https://steemit.com/introduceyourself/@gaman/new-steemians-project-launch

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.33
JST 0.100
BTC 64685.76
ETH 1872.76
USDT 1.00
SBD 0.38