The Secret Life of Mara #10

in steempress •  16 days ago

 

 

 

Buku, Tua, Awan Awan, Pohon, Burung, Bank, Rush

pixabay

Setelah mampu menghentikan tangis, mama menatap matanya lama. Tidak berkata apa pun. Namun seperti membaca dari matanya. Tiba-tiba sebuah senyum merekah di bibir mama. Tangannya mengembang.

Mara lari ke pelukan mama. Dia memejamkan mata, berupaya keras tidak mengeluarkan airmata. Mara tahu, mama mengerti mengapa dia memilih jalan ini. Mara menggigit bibir, ketika merasa ayah menepuk-nepuk bahunya perlahan. Ridha orangtua sudah diperoleh.

Dia hanya mampu meminta maaf pada keduanya dalam hati, sepanjang malam. Berjanji pada Allah, memohon padanya, agar dia diberi anugerah, hingga bisa menggantikan airmata kesedihan dan hilangnya harapan mama dan ayah, berkali-kali lipat. Tak henti Mara memohon ampun pada-Nya, sampai jatuh dalam pelukan malam.

Dia berhutang budi pada Bu Supinah dan sekolah ini. Karena nilai terbaik saat lulus SMP dan rekomendasi kepala sekolah SMP, dia mendapatkan beasiswa setiap bulan dan bebas biaya selama tiga tahun di SMA. Termasuk biaya berbagai lomba yang diikutinya.

Saya akan membalas kebaikan Ibu dan sekolah ini suatu hari nanti. Janji Mara dalam hati. Perkenankan doaku Ya Allah.

Dia juga berjanji pada diri sendiri, akan terus belajar walaupun tidak melalui bangku kuliah.

 

Rose, Bunga, Cinta, Roman, Cantik, Kecantikan, Bloom

pixabay

Mara menarik nafas perlahan. Sehari semalam, dia sudah merasakan segala sesuatu di sekelilingnya, terlihat lebih indah. Langit sore. Matahari pagi. Bunga-bunga mama yang bermekaran. Kicau burung. Bahkan awan juga tidak lupa memamerkan bentuk.

Jantungnya seperti mau copot, saking cepatnya berdetak, begitu senyum Firman terbayang. Ingin bertemu lagi dengan Firman.

Masakan mama terasa sangat lezat.

Semua urusan terasa mudah dan mungkin.

Mara menggigit bibir, begitu kata-kata kasihan Nida terdengar jelas. Hatinya sangat sakit. Tapi ....

Nida benar. Apa yang bisa diberikannya pada Firman? Dia tidak ingin dikasihani. Kalau memang dia akan menikah nanti, dia menginginkan hubungan seperti mama dan ayah. Dia tidak sudi merasa hutang budi pada suaminya. Seperti mama Nida yang sering memarahi papa Nida di depan orang.

Dia akan menjadi penambah, bukan beban bagi laki-laki yang akan dipilihnya jadi pasangan hidup.

Tidak ada, yang tidak bisa dilakukannya .... Dia ... tidak pantas untuk Firman .... Walaupun semua mimpi indah musnah, hatinya bersedia melepaskan sosok yang telah dikaguminya sejak kelas 7 ....

Mara menarik nafas panjang perlahan. 24 jam sudah lebih cukup. Ini jauh melampaui harapan terbaiknya. Dia tidak pernah berani membayangkan, bisa merasakan perasaannya disambut Firman.

Bayangan Mama yang tersenyum semalam, seraya mengusap lembut rambutnya muncul di layar pikirannya. Tatapan lembut Mama meredakan rasa marah Mara pada diri sendiri.

“Rambut kamu indah sekali, Mara. Kamu tahu? Lebih indah dari rambut Mama saat seusiamu.”

Mara mau tidak mau tersenyum. Pujian Mama selalu menyejukkan hati.

“Kamu akan memasuki hidup dewasamu. Hatimu baik … jangan mulai melangkah dengan kemarahan di hati … sedikit kebencian yang ada dalam hatimu, akan jadi sebutir benih, yang pasti tumbuh dan berkembang. Kamu tidak mau kan, punya pohon kebencian besar dalam hatimu?”

Mara menarik nafas panjang. Dia menggelengkan kepala. Sering kali tidak bisa mengikuti jalan pikiran Mama.

Melihatnya terdiam, Mama melanjutkan.

“Apa pun yang jadi realita di depan matamu, selalulah yakinkan dirimu sendiri ‘Allah sangat baik kepadaku’, ucapkan terus dalam hatimu ‘Subhanallah, walhamdulillah, wastaghfirullah‘, hatimu akan menjadi penyelamat hidupmu.”

Aliran keras kalimat Bapak Kepala Sekolah bagai banjir bandang, menarik Mara kembali ke ruang kepala sekolah. Benar-benar meluluhlantakkan semua yang dilaluinya. Dia mengerti konsekuensi penolakan itu. Namun harga pribadi yang harus dibayar, terlalu besar, bila dia berkeras terus kuliah. Dia tidak mau mengorbankan, orang-orang yang sangat berarti baginya. Walaupun Mara yakin, mama dan ayah, pasti akan mendukungnya sepenuh hati.

Mara tahu, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri, bila terjadi sesuatu pada anggota keluarganya, karena kesalahannya.

Subhanallah, walhamdulillah, wastaghfirullah … Subhanallah, walhamdulillah, wastaghfirullah ….

Perasaan bingung, sedih, takut yang bercampur dalam hati, mulai mereda. Ketenangan perlahan menyusup dalam hati. Mara terus melafalkan kalimat-kalimat itu dalam hati.

Sebuah keyakinan tiba-tiba muncul dalam hati dan pikirannya. Dia tidak tahu kapan dan bagaimana. Tapi dia pasti bisa menepati janji.

Mara menundukkan kepala. Menerima dan merasakan keyakinan itu dalam setiap pembuluh darahnya. Mengucapkan syukur pada Pemilik Segala Urusan dalam hati, tanpa henti.

 

Jangan Lupa Bahagia

Bandung Barat, Rabu 4 Juli 2018

Salam

 

Cici SW

 

 


Posted from my blog with SteemPress : https://cicisw.com/2018/07/04/novel2-010/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Oh fiksi yang bagus, aku harus baca dari awal dong... dan ditunggu kelanjutannya

·

Terima kasih @haristourist :)

Wow cerita yg keren 👍👍
Luar biasa ibuk ini😂🙏

·

Terima kasih @denysatika

·

Terima kasih @denysatika

Wuahhhhh, terhanyut aku bacanya kk ☺️
Keren 👍👍👍👍👍

·

Terima kasik Kak @diyanti86.
Ditunggu terus lho koreksinya, ya :

·
·

Koreksi punya aku juga donk, mbak 😄👌, EYD blom khatam, dah ganti aja jadi PUEBI 🙈. Mana tau ada yang nggak pas dalam karya aq 😉✌️🙏🏻


Postingan ini telah dibagikan pada kanal #Bahasa-Indonesia di Curation Collective Discord community, sebuah komunitas untuk kurator, dan akan di-upvote dan di-resteem oleh akun komunitas @C-Squared setelah direview secara manual.
This post was shared in the #Bahasa-Indonesia channel in the Curation Collective Discord community for curators, and upvoted and resteemed by the @c-squared community account after manual review.
·

Terima kasih @c-squared