Please Stop Racism at School! - Tolong Hentikan Rasisme di Sekolah! (Eng - Ina)

in #steemiteducation3 years ago (edited)

BeautyPlus_20171015142128_save.jpg

Last friday, I went to my children's school to pick up their mid-semester reports. I was waiting until the last, I wanted to make sure I had enough time to talk to the teachers. Besides, I felt that it is much better to talk in private instead of having too much people around. I knew there was something wrong happened.

Hari Jumat yang lalu, saya pergi mengambil rapor anak-anak di sekolah. Saya sengaja menunggu giliran terakhir karena ingin mendapat krsempatan bicara dengan guru mereka. Lagipula, saya merasa lebih baik bicara sendiri daripada bersama dengan banyak orang. Saya tahu pasti bahwa ada yang buruk terjadi.

Two months before, some of parents asked me to sign a petition. They reported some "inappropriate manner" of the teachers. Another teacher, religion teacher was even reported for sexual abuse, slapping, and verbal abuse. These parents had a meeting before, I did not come since I was on duty in another region of my country. So, I signed the petition for solidarity, eventhough I didn't feel comfortable about it.

Dua bulan sebelumnya, beberapa orang tua murid meminta saya menandatangani sebuah petisi. Mereka melaporkan ada perbuatan tidak baik dilakukan oleh para guru. Ada lagi guru agama yang dilaporkan sudah melakukan pelecehan seksual, menampar, dan melakukan kekerasan verbal dengan berkata kasar tidak senonoh. Para orang tua murid ini telah mengadakan rapat, saya tidak hadir karena sedang tugas di daerah lain. Saya menandatangani petisi tersebut walaupun saya merasa tidak nyaman, saya tidak tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Semua hanya "katanya", dan yah karena solidaritas saja saya akhirnya tandatangan juga.

When finally I had a chance to talk to the teachers, I was really shock! My children was actually got rasicm abuse from their friends. The teachers who tried to help and protect my children, warned these kids not to do that. But, they didn't want to listen and reported different stories to their parents. Of course, the parents will also protect their own childrens. Then, that was why they had this petition.

Ketika akhirnya saya mendapatkan kesempatan bicara dengan para guru-guru anak saya ini, saya terkejut! Mereka melaporkan bahwa anak saya terkena pelecehan rasisme dari teman-temannya. Guru yang berusaha membantu dan menolong anak saya, memberi peringatan kepada anak-anak itu. Namun, mereka tidak menerima dan malah melaporkan kepada orang tua masing-masing dengan cerita yang berbeda. Tentu saja orang tua akan selalu panas bila tahu anaknya karena masalah dan akan berusaha melindungi. Oleh karena itulah kemudian petisi ini muncul kemudian.

One of the teacher told me, "Your daughter used wrong uniform, she was supposed to wear long skirt, long sleeves, and vail every Friday. At that time, she was wearing short sleeves, but with long skirt and veil. Her classmates bullied her, they said your daughter should change her religion. It was totally wrong, and I can not accept such behaviour, especially from my own student.

Seorang guru bercerita, "Anak ibu waktu itu salah pakai seragam, dia seharusnya pakai rok panjang, tangan panjang, dan kerudung setiap hari Jumat. Dia malah pakai kemeja tangan pendek walau pakai rok panjang dan kerudung. Beberapa teman sekelasnya mengejek dia dan malah menyuruh anak ibu ganti agama saja. Itu salah besar dan saya tidak bisa menerimanya apalagi itu murid saya sendiri".

I told the teacher that I knew she made a mistake. She had 8 uniforms for 5 days at school. It was too much, and the possibility to make mistake is quiet huge. Unluckyly, my daugter did it on Friday, other kids might did it on the other days. I let her made a mistake to teach her realize the risks and consequences, but not to have this kind of racism.

Saya menjawab bahwa saya tahu bahwa anak saya salah pada hari itu. Dia memiliki 8 seragam berbeda untuk 5 hari sekolah, kemungkinan salahnya besar. Dia tidak beruntung karena melakukan kesalahan fatal di hari Jumat, anak lain mungkin melakukannya di hari lain. Saya membiarkan anak saya melakukan kesalahan itu agar dia sasar penuh resiko dan konsekuensinya, tetapi tidak untuk mendapatkan rasisme seperti demikian.

Another teacher told me, "Yes, some students bullied your other daughter just because they know that she has different religions in the family. They said they your daughter will be in hell, and should be in hell, since she doesn't unite with the same religion. I was angry with it. That's must be the parents who teach them to behave like that. Who else?".

Guru yang lain cerita, "Ya, beberapa orang murid melakukan pelecehan kepada anak ibu yang satu lagi hanya karena mereka tahu di keluarga ibu berbeda-beda agama. Mereja bilang anak ibu akan masuk neraka, harus di neraka karena dia bergaul dan bersama orang -orang yang beda agama. Orang tua anak-anak pasti yang mengajarkan mereka, habis siapa lagi?".

The religion teachers? Well, he should be out from my children's school. He is a crazy man with high libido and bad temper. He might be to affraid to admit the truth until he is unable to control himself. My children even asked me, "Why he told me a lot about religion, about good things and bad things, but he did so much bad things to my classmates? He dare to kiss the girls and touch their boobs and butts!". Wew! But, I dont understand why they kept this teacher, perhaps religion teachers are belong to heaven and those bad manners he did, was just a wind. Weird!

Soal guru agama? Dia seharusnya dikeluarkan dari sekolah. Dia kurang waras sepertinya, punya libido tinggi dan cepat marah. Terlalu munafik barangkali untuk mengakui hasrat, sehingga tidak sanggup lagi mengendalikan diri. Anak saya sempat bertanya, "Kenapa dia selalu mengajarkan agama, yang baik dan buruk, tapi dia sudah jahat sama teman-teman? Dia malah pernah mencium anak perempuan daan menyentuh dada pantat mereka!". Amit-amit! Saya tak paham kenapa guru seperti ini malah dipertahankan dan dibela, mungkin karena dia guru agama penghuni surga, dan semua kelakuan buruknya hanyalah angin tak penting. Aneh!

I don't undertand why children could behave like that. There are too many possibilities, but for sure they learn alot from their parents and society. It is so sad, none of religion teach us to be too much, fanatic, and abusive. I do not believe if there is any religion who allow us to do racism, it is the person! The person who think that they are good people who defend the truth, but in fact, what they did is ruining this world, destroying good manners, and disgrace their own religion.

Saya tidak mengerti mengapa anak-anak sekarang bisa berperilaku demikian. Ada banyak kemungkinan, namun yang pasti mereka belajar banyak dari orang tua dan lingkungan. Hal ini sangat menyedihkan karena tidak ada satu agama pun yang membenarkan perilaku berlebihan, fanatik, dan melakukan kekerasan. Saya tidak percaya jika ada agama yang mengijinkan kita untuk melakukan rasisme, ini soal manusianya! Manusia yang merasa mereka tergolong orang baik yang membela kebenaran, namun faktanya, merekalah yang sudah menghancurkan dunia ini, merusak akhlak baik, dan mempermalukan agama mereka sendiri.

Please think about it! We might not be the same, but we all hope for the same thing, a better world! So, please stop racism at school! It is tottally wrong!

Pikirkanlah kembali! Kita mungkin tidak sama, tetapi kita semua memiliki keinginan yang sama, yaitu dunia yang lebih baik. Tolong hentikan semua bentuk rasisme di sekolah! Semua itu sudah salah kaprah!

Bandung, 15 Oktober 2017

Warm Regards - Salam hangat,

Mariska Lubis

Sort:  

Gemesss banget baca yg kaya ginian. Dan iya memang, sekarang makin banyak orang tua yang malah mengajarkan rasisme ke anak2nya, menganggap agama/ras mereka yg paling benar. Saya pun dr keluarga yg berbeda2 agama, dan keponakan saya, waktu itu pernah mengalami hal yg serupa, dikata temannya "kamu tidak seagama sama aku, kamu nanti bakal masuk neraka lho, aku gak mau main lagi ah sama kamu". Nah looooh, klo bukan ajaran/mencontoh dr ortu nya, dapet ilmu rasisme dr mana ni bocah?

Itulah, saya juga gemas banget! Kenapa sampai tega mengajarkan seperti itu? Itu sama saja menutup anak dari realita kenyataan hidup bahwa dunia ini penuh perbedaan.

Aduh... saya nggak bisa komentar lagi mbak. Mungkin ini yang menjadi penyebabnya.
http://m.dw.com/id/romo-magnis-pendidikan-budaya-di-indonesia-dihabisi-oleh-formalisme-agama/a-40840690
Pendapat romo Magnis mungkin ada benarnya :)

Kalau ditanyakan mengenai pendidikan budaya, saat ini pendidikan budaya itu sangat lemah. Dimakan habis oleh isu agama, yaitu agama yang formalistik. Jadi wacana budaya terdesak oleh pengaruh pemikiran sempit agama yang sangat formalistik. Dan di sana tidak ada unsur budaya lagi. Pemikiran formalistik juga tidak mengajarkan agama dengan baik. Hanya formalisme saja. Jadi pendidikan budaya memang masih sangat lemah.

Misalnya, mengapa tidak secara intensif dilakukan kegiatan baca sastra Indonesia? Indonesia kaya sekali dengan karya sastra, banyak sekali sastrawan muda. Tulisan-tulisan mereka, seperti Okky Madasari, diterjemahkan misalnya ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Tetapi di Indonesia, mereka justru tidak dibaca, tidak diajarkan. Padahal, dengan membaca buku, budaya, hati dan wawasan bisa diperluas.

Sebenarnya, kalau ada orang bertanya Indonesia itu apa, baca saja sastranya. Di situ ada semua aspek kehidupan. Jadi, apa yang disebut kepekaan budaya, itu yang tidak ada dalam pendidikan budaya di indonesia.

Saya sependapat dengan beliau tetapi bukan hanya soal membaca, karena kita sudah banyak yang rajin membaca, tetapi tidak juga paham arti dan makna tulisan yang dibaca walau sudah berulang-ulang dan hafal serta fasih. Justru itulah saya selalu ingatkan untuk belajar menulis dengan baik dan benar juga, karena orang yang belajar menulis baik dan benar akan lebih paham dalam membaca. Allah pun menulis agar kita membaca, dan memberikan contoh bagaimana menulis yang baik dan benar agar paham isi dari apa yang Allah tuliskan. Makanya jangan heran bila semua ulama dari agama pun dulu, sangat antusias dan pandai menulis, bukan hanya berucap dan menghafal serta menasehati. Mereka benar-benar dalami, hayati, pelajari, dan ekspresikan dalam kata-kata mereka sendiri tanpa harus mencopas atau mengkopi tulisan yang sudah ada, memberikan contoh dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, itu yang membuat mereka hebat. Kini? Semua hanya pandai bicara, baca pun hanya sekedar baca sehingga kata tidak ada arti dan makna. Pembodohan pun mudah dilakukan dan diteruskan jika tidak mau berubah dari diri sendiri. Terima kasih banyak @happyphoenix!

Oh,so sorry to hear that mbak. Wah,berarti klo menurut versi mereka,saya masuk neraka juga dong sebab dulu kuliah di univ katolik dan berteman dgn orang2 non muslim. Alamak! Sempitnya

Nah kan! Kesel banget ya @horazwiwik, sementara kita belajar banyak dengan bisa toleransi dan saling menghargai, berbeda juga sama-sama ciptaan Allah.

iya mbak, kan bersaudara tidak cuma dalam satu agama, tapi bersaudara dalam kemanusiaan juga.

Kita kan sama2 ciptaan Allah...

Tugas berat ya kak hehe cemungut :)

Bentar lagi juga dirimu tahu [email protected] wkwkwk

Televisi telah menjadi ibu bagi anak anak kita sekarang. Televisi sebagai tempat mereka "belajar" tentang kehidupan.

Inilah bahayanya @dsatria. Sinetron itu merusak sekali!

Si rasis oh sirasis

Hahaha lebih baik sirait aja @masriadi!

yg itu banyak di medan

Biasanya karena ada perbedaan latar belakang si murid

Semua punya latar belakang kehidupan yang berbeda, tidak ada yang pasti sam.

Seharusnya tidak boleh ada pelecehan rasisme di sekolah,dan guru di sekolah harus bertindak keras kepada murid yang melakukannya,supaya tidak terjadi lagi kedepan...

Iya benar @fadhielshaqieer cuma ortunya tidak terima anak ditegur guru.

itulah ciri-ciri ortu yang memanjakan anaknya secara berlebihan..

Bukan hanya memanjakan tetapi merusak anaknya sendiri dan masa depan.

Capek jadi guru sekarang kayaknya..

Capek banget! Kasihan...

Kalau dulu saya sekolah guru adalah orangtua ketiga karena merekalah kita ini bisa mengenal dunia dan sekarang baru tahu tanpa guru kita ini tidak ada apa-apanya, bravo terhadap guru semua dan terus semangat untuk membimbing para siswanya walaupun badai menerpa.

Guru yang baik pasti akan membantu anaknya belajar dengan baik dan benar.., guru penuh pengabdian...

Waduh, Kasihan sekali anaknya Cut kak, semoga kedepan menjadi bisa belajar dari kesalahannya untuk mencermati seragam dan harinya. Lucu juga ya murid jaman sekarang, kok mainnya rasis korban sinetron atau apa ini ?!
Guru Agamanya juga malu-maluin Agama saja, kalau mau cabul jadi gigolow saja jangan jadi pendidik juga, memang nafsu birahi itu kalau tidak terpuaskan di rumah ya begitulah jadinya, wkwkwkwkwk Guru sontoloyo !!!

Beragam ya persoalan disekolah anaknya cutkak :D

Iya sepertinya korban sinetrin ya @dilimunzar... kacau guru agamanya juga... salam untuk keluarga ya @dilimunzar.

rasisme oh rasisme, sepertinya masih perlu dikaji lebih lanjut dari mana asala usulnya. terima kasih telah berbagi

Apalagi kalau bukan pembodohan dan kebodohan, kesombongan yang merasa sangat tahu dan paham sehingga merusak semuanya.

Memalukan, potret wajah dunia pendidikan sudah semakin semraut. Makin hari makin ga beraturan, saya sebagai salah satu dari bagian korp PGRI dan mantan guru sekolah dasar merasa malu dengan kejadian seperti itu kak @mariskalubis , semoga segera dapat solusi dan jawaban dari petisi yang kakak ajukan. Salam hangat dari aceh

Sama kakanda ku yang cantik dan baik hati yang selalu hadir mengisi kekosongan postingan bg dilimunanzar :) salam hormatku untuk mu kakanda

Semangat pagi kakak syantik

Kita sadari bahwa, pendidikan bahagian penting dari hak asasi manusia (HAM). Semua orang wajib memiliki akses terhadap pendidikan yang layak. Maka dari itu, pendidikan mesti diperoleh oleh semua tanpa memandang; ras, suku, agama, fisik, latar belakang sosial, kemampuan ekonomi, jenis kelamin, afiliasi politik bahkan kepercayaan agama. Rasisme merupakan pola-sara yang lahir kemudian, karena berbagai pengaruh menurut saya. Padahal dalam pasal 4 ayat 1 UU Sikdiknas nomor 20 tahun 2003, sudah jelas disebutkan “pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa”. Sekolah perlu membangun budaya toleran untuk mendidik peserta didik agar tidak rasis.

Salam
@usmanosama

Ya, perlu ada kerjasama antara guru, orang tua, dan juga seluruh lingkungan bangsa dan negara bahwa rasisme itu merusak dan fokus saja pada tujuan bersama yaitu memajukan bangsa dan negara inimencapai masyarakat adil makmur sejahtera, tenang, dan damai, serta rukun.

Salam hangat selalu @usmanosama.

Benar mbak Mariska Lubis, tiga elemen penting dalam pendidikan harus berjalan ke arah pencapaian positif. Orang tua siswa, guru dan lingkungan, menjadi faktor penentu ke arah menghilangkan rasisme dalam bentuk apapun.

Salam kembali mbak @mariskalubis.

Masalah rasisme memang isu sensitif. Anak-anak memang harus didik peka terhadap isu rasisme. Harus ditumbuhkan rasa saling menghormati terhadap perbedaan.

Sekolah adalah tempat terbaik belajar berbeda dalam segala hal. Sangat setuju
dengan mbak mariska. Tantangan ini bukan hanya sekolah yg heterogen. Tapi di sekolah yg secara suku. Agama dan daerah yg sama. Mereka tidak terbiasa dengan keragaman.Tulisan ini makin memberi peneguhan bagi kami . @mariskalubis

Coin Marketplace

STEEM 1.24
TRX 0.13
JST 0.144
BTC 60482.72
ETH 2160.12
BNB 593.64
SBD 8.99