Terminal (2)

in indonesia •  3 months ago

Perlahan aku mulai menemukan persil-persil kalimat. Meski telah melakukannya berulangkali, penjelasan mengenai tempat ini sungguh personal. Aku mesti menyampaikannya dengan cara yang berbeda kepada tiap perempuan yang mempesonaku dan berhasil kuyakinkan untuk kemari.

“Seorang kawan yang mendalami ilmu mimpi…”

“Ilmu mimpi?!” selanya.

“Ya. Perluasan dari dari psiko-analisa!” jawabanku memperbesar lukisan tanda tanya di parasnya.

Emang-nya ada ilmu gituan? tanyanya tak sabar.

“Ada!” jawabku. “Biar kujelaskan dulu, nanti kau boleh tanya apa saja,” potongku sebelum ia sempat melanjutkan bertanya.

“Beberapa tahun lalu, kawanku itu sedang mencari responden untuk studinya soal konstruksi mimpi. Dia mengeluh karena kekurangan responden,” ujarku merunut peristiwa. Menjelaskan padanya mengenai curhatan yang membangkitkan minatku untuk menjadi responden. Angin berdesir genit ketika tatapku menangkap parasnya yang mulai memahami penjelasanku.

“Ternyata peranku tak berhenti sebagai responden. Aku menemukan sesuatu yang tak terjangkau oleh metode analisa konstruksi mimpi yang sedang disusunnya: Aku menemukan cara mempermanenkan konstruksi alam mimpi dan memasuki pikiran manusia lain. Singkatnya, aku sekarang sedang menculik jiwa kamu yang sedang berada di alam mimpi, bahkan ketika di alam nyata kau tak sedang tertidur!” wajahnya tampak tercekat saat kalimat terakhir terucap, sebelum aku menarik napas dalam. Menyelami rasa bersalah yang ada di diriku tiap kali menjelaskan Terminal.

“Mmm… maksud kamu alam mimpi itu benar-benar ada? Tiap manusia bisa berinteraksi di alam mimpi? Terus, aku sekarang sedang tak berkuasa atas alam bawah sadarku?” cecarnya tak sabar.

“Ya, ya dan tidak!” ujarku meringkas jawab atas tiga pertanyaannya. “Tidak, karena bukan kau yang tak berkuasa atas alam bawah sadarmu, melainkan aku yang sedang menguasai alam bawah sadarmu!”

Ia terhenyak. Raut wajahnya kini menjadi perpaduan mimik kaget, kagum dan takut. Semua berpadu dalam beberapa milidetik. Mulutnya menganga. Tatapannya melongo.

Tubuhnya tersentak, ia mencoba menguasai diri. “Oke. Aku tambah bingung pas kamu jelasin ‘bukan aku yang tak berkuasa atas alam bawah sadarku, tapi kamu yang sedang menguasai alam bawah sadarku’, begitu, ‘kan?”

“Ya,” jawabku sambil memperbaiki posisi duduk.

Emang apa bedanya?”

“Coba kamu pikir lagi,” balasku mencoba mengajaknya berpikir. Kubiarkan jeda beberapa menit untuk memberinya kesempatan berpikir. Tiba-Tiba seulas senyum merekah dari parasnya.

“Iya. Kamu bener,” serunya dengan nada riang.

Chelsea tampak sebagai pribadi tanpa prasangka dalam pengamatanku; sebentang kanvas putih di toko perlengkapan melukis. Ia tak lagi menyela dengan pertanyaan saat aku menceritakan lebih lanjut mengenai Terminal, realitas tempat kami bernaung kini. Ia mulai tersenyum saat menyadari bahwa tempat ini, tempat yang kusebut Terminal ini adalah wujud kenakalan dari kelelakianku.

“Berarti aku bebas melakukan apa saja di tempat ini?” tanyanya dengan mata berbinar.

“Ya,” jawabku.

“Segalanya?!” tanyanya lagi dengan nada tak percaya. Kujawab dengan anggukan, juga senyum yang tak mampu kutahan saat melihat binar mata dan selaksa riang terbit dari parasnya. Ia telah kembali. Tidak. Ia telah memahami. Ia memahami, bahkan menyatu dengan apa yang mesti ia pahami.

“Kalau ‘gitu, aku mau berenang sekarang,” kujawab dengan membentangkan tangah ke arah kolam renang yang ada di sebelah kirinya. Ia sudah bangkit dari tempat duduk, mengitari sekelilingnya. Menyentuh tiap benda. Koleksi bonsai dan suiseki, kolam koi, taman vertikal. Seolah hendak menyentuh setiap helai daun ficus pumila yang menutupi dinding setinggi 4 meter di halaman belakang.

Belum puas ia memandang saat putaran observasinya kembali ke tempat aku berdiri. Aku menunjukkan ruang ganti. Tempat loker bikini bertulis namanya.

“Semuanya masih baru,” ujarku. Ia tampak memilih bikini model sling. Aku tersenyum melihatnya. Ia membalas dengan tatap penasaran.

“Kenapa, sich?!”

Each choise describes personality!” ujarku.

“Kamu nggak capek terus-terusan baca aku?” serangnya.

“Sejujurnya, inilah proses yang paling kunikmati ketika menghadapi penghuni baru terminal ini. Menemukan kebaruan dari yang baru,” balasku.

https://www.verywellmind.com/thmb/5l4vAECCmhcgEKpWCYU0md7yZ28=/768x0/filters:no_upscale():max_bytes(150000):strip_icc():format(webp)/173063471-crop-56a792163df78cf772973acc.jpg

Mentari sore mengantar hangat yang segera tersapu desir sang bayu. Dedaunan masih berkuasa mengantar bisik yang kadang terdengar mendesis. Kutinggalkan ia saat pangkal betisnya tercelup ke dalam air kolam menyemburatkan warna tosca.

Bersambung…

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!