Cerpen: Syafa

in STEEM INDONESIA4 years ago (edited)

pexels-gustavo-fring-5163399.jpg

Sumber

Seorang lelaki bernama Syafa tengah kegirangan. Dia terlihat senyum-senyum sendiri saat turun dari pesawat yang baru dia tumpangi.

Masih berada di sekitar bandara. Pikirannya sudah melayang ke berbagai tempat saking senangnya.

Sudah sangat lama lelaki itu merantau ke negeri orang. Dia sengaja melakukannya untuk mengumpulkan banyak uang untuk bekal masa depannya.

Dia juga tidak sabar menelepon temannya memberi kabar baik. Lalu mengatakan jika dirinya sudah sampai di tanah air. "Dua minggu lagi kita harus bertemu. Harus! Kita rencanakan secara matang-matang desain toko roti yang akan kita buka. Tapi tunggu setelah urusanku dengan keluarga selesai, " ucapnya bersemangat.

"Akhirnya teman kita pulang juga setelah merantau bertahun-tahun," temannya membalas. "Oke. Aku dan Satria akan siap-siap lebih lanjut. Pesanan kemarin juga sudah selesai. Kamu selesaikan urusan keluarga saja dulu di rumah," tambahnya berterus-terang.
Telepon tertutup. Lelaki itu lanjut mencari tempat duduk paling nyaman di sekitar bandara. Dia menunggu adiknya yang akan menjemputnya.

Di depannya ada orang berlalu lalang. Tapi pikirannya sudah jauh terbang. Memikirkan apa saja yang akan dia lakukan.

Hanya saja setelah menunggu beberapa lama Nabila tak kunjung datang. Adiknya tak memberi kabar lagi. Jika sedang berada di jalan. Sepertinya tidak.

Syafa menyalakan batang rokoknya. Sambil beranjak berdiri melihat sekitar siapa tahu Nabila sudah ada di lokasi sedang mencarinya. Lalu duduk lagi karena tidak melihat siapa-siapa. Syafa sedikit kesal.

Telepon berdering tiba-tiba dari ponsel yang ada di saku bajunya. Nabila. Akhirnya perempuan itu menghubunginya.

"Di mana? Aku sudah menunggu lam-"

"Kak ...! Kakak ada di mana?! Cepat pulang ke rumah!" kata Nabila dengan nada tinggi.

"Aku menunggu jemputanmu! Bukankah kamu akan men-"

"Pulang saja naik angkutan! Cepat kak. Cepat! Ayah sakit! Tiba-tiba dia pingsan. Ayah tidak pernah seperti ini sebelumnya!" Adiknya berbicara dengan panik.

"Kenapa? Apa yang terjadi?"

"Tidak tahu. Pokoknya cepat balik! Atau kalau enggak kita ketemu di rumah sakit saja! Pak De menyarankan untuk membawa ayah ke rumah sakit!"

"Baiklah-baiklah. Kamu yang tenang. Kakak akan menyusul."

Syafa kaget. Ayahnya memang memiliki riwayat penyakit. Tapi tidak pernah sampai pingsan apalagi ke rumah sakit.

~|~

Berkat penanganan medis yang cepat dan tepat. Ayahnya kembali pulih. Lelaki tua itu mengungkapkan kebahagiaannya bisa bertemu dengan Syafa. Dua tahun adalah waktu yang sangat lama ditinggal anaknya merantau.

"Terima kasih, Syafa. Ayahmu minta maaf karena merepotkanmu. Apalagi menyambut kepulanganmu dengan cara seperti ini," kata ayah sambil tertunduk sedih.

"Sudah. Jangan dipikirkan lagi. Kesehatan memang mahal, Yah."

~|~

Malam hari pukul 19.00 Syafa bertemu dengan Satria dan Edo. Seperti yang sudah mereka janjikan sebelumnya. Rencananya adalah membangun bisnis toko roti bersama. Mereka sudah siap dengan rencana-rencana yang akan dieksekusi.

Kopi dan gorengan pesanan sudah sampai di atas meja. Rokok yang dinyalakan juga sudah mengepul ke sela-sela ruangan. Syafa, Satria, dan Edo akhirnya bisa bertemu setelah menunggu dua tahun lamanya.

Hanya saja pertemuan itu beberapa puluh menit berlangsung tanpa ada pembicaraan sama sekali. Syafa hanya menunduk. Sedangkan Satria dan Edo memalingkan pandangannya ke arah lain.

Hingga setelah rasa canggung terasa begitu lama. Syafa berbicara.

"Maaf. Maafkan aku Sat, Ed. Aku tidak bisa menepati ucapanku sendiri. Aku sudah tidak mungkin mendanai usaha yang akan kita buat bersama. Aku sudah tidak sanggup berpikir lagi. Rencana kita gagal."

Mereka berdua terdiam.

"Kalian juga sudah tahu, ayahku baru masuk rumah sakit. Semua uangku habis untuk membayar perawatan dan obat-obatan. Semua hasil kerja kerasku dua tahun merantau," ucap Syafa lagi memelas.

Kedua temannya masih terdiam. Mereka mendengarkan ucapan Syafa. Tapi tidak memberikan reaksi kecuali ekspresi kecut.

Syafa paham jika temannya akan marah mendengar ucapannya. Dua hari yang lalu, Satria dan Edo telah menyewa ruko yang akan mereka gunakan untuk tempat bisnis toko roti bersama.

"Ayolah. Aku mohon jangan diam dan membuatku semakin frustasi. Aku tahu aku salah. Aku tidak menepati janjiku. Tapi ak-"
"Ruko kita sudah siap. Begitu juga barang-barang yang kamu pesan sudah ada di sana semuanya. Semuanya, Syafa. Tapi semuanya masih bermodal janji pada pemiliknya. Mau ditaruh mana mukaku?!"

Suara Satria terdengar dengan jelas. Mereka berdua mengerti ada emosi kekesalan dari ucapan yang diungkapkan lelaki itu.

"Sudah. Kita pulang. Besok kita bertemu lagi saat pikiran tenang," Edo segera menengahi dan mengajak Satria pergi dari tempat itu.

Rencana bisnis akan berakhir sejak mereka memulainya.

Syafa tampak kacau dan bingung dengan apa yang sudah dia lakukan. Uang hasil kerja kerasnya habis untuk pengobatan ayahnya. Tapi dia harus melakukannya.

~|~

Keesokan harinya mereka bertemu lagi. Syafa, Satria, dan Edo. Di warung kopi tempat sebelumnya bertemu.

Syafa masih lesu. Tubuhnya seolah tidak memiliki tenaga lagi untuk membela diri. Dia tak begitu suka menatap wajah kedua temannya. Jika hari ini akan disalah-salahkan dan dimaki. Syafa tidak peduli lagi.

"Aku sudah meminta izin istriku. Aku bisa membantu pembiayaan. Tidak banyak. Tapi ada uang setelah menjual beberapa barang di rumah dan menggunakan tabungan. Keinginan kita adalah untuk mencari penghasilan. Nanti bisa diganti belakangan."

"Aku juga baru saja menjual beberapa perlengkapan musik dan mainan-mainan hobi yang bisa dijadikan uang. Termasuk laptop dan perkakas berat. Aku bisa membantu beberapa biaya awal. Tinggal mencari pembeli yang cocok," kata Satria menambahi.

"Kami minta maaf pertemuan kita sebelumnya tidak menanggapi alasanmu. Kami juga bingung dengan solusi yang harus digunakan. Kamu tau sendiri. Kita bukan orang kaya."

Syafa mulai berbinar-binar. Ungkapan kedua temannya membuatnya senang. Dada yang sebelumnya dia rasakan sangat sesak, kini terasa melegakan. Juga pikiran yang awalnya terasa kacau menjadi lebih tenang.

"Kalian memang sahabat terbaik!"

"Kamu harus membantu lewat otakmu. Jangan cuma senyum-senyum sendiri," kata Edo bercanda, sambil menyenggol lengan Syafa.

"Ya, ya, ya! Pasti ada jalan keluar lain asalkan dicari. Pasti! Aku akan mengusahakan kebutuhan lainnya untuk melengkapi kekurangan. Aku akan melakukan sekuat tenaga, pikiran, mendedikasikan waktu yang kumiliki untuk bisnis kita," kata Syafa bersemangat. "Rencana akan tetap berjalan!"

Selesai.

Cerpen lainnya mungkin kamu suka: Bisco; Meli; Toilet Tengah Malam; Hari Pertama; Tamara.

Sort:  

Sorry for the late reply. I liked the story. It is good to read these are real friends and they all are willing to invest in their business. Such a pity they did not do it two years earlier.

🍀♥️

 4 years ago 

Thank for appreciated it.

I think you know what it's like when "a piece of art that's written in earnest, is read by someone else"

Thank you very much

This post has been upvoted through Steemcurator09.

image.png


Curated By: @juichi

 4 years ago 

Thank you so much 🌷
Have a wonderful weekend ❤️🍀

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.33
JST 0.101
BTC 64123.01
ETH 1813.38
USDT 1.00
SBD 0.38