The Little Cat's Oni | Kucing Kecil Oni |

in fiction •  25 days ago



Oleh: Rizki Safria Nanda

Oni baru saja menyapu halaman yang berantakan dengan dedaunan kering dan ranting. Musim hujan ini, angin meniup kencang menggugurkan daun-daun tua dan mati. Oni menyapu daun-daun itu dan menumpuknya di bawah pohon mangga rindang. Menumpuk seperti gunungan emas oleh daun yang coklat kekuningan. Terkadang angin kecil datang, usil, meniup tumpukan itu hingga meruah lagi ke tanah. Membuat halaman kotor lagi seketika. Tapi Oni, tetap rajin menggesekkan sapu lidi warna-warninya, meminggirkan daun-daun hingga menepi di tumpukan lagi.

Seekor kucing kecil menyusup ke halaman yang mulai bersih. Tubuhnya kotor penuh dengan noda becek kecoklatan yang membuat siapa saja tidak mau menyentuhnya. Kucing itu merangkak perlahan-lahan, membawa tubuh kurusnya hingga berhenti di bawah pohon mangga yang rindang. Ia mengeong kesakitan. Ternyata, kakinya terluka.

Oni kasihan melihat kucing buluk itu. Matanya berair, tubuhnya kotor. Perutnya membengkak karena kedinginan. Tulang-belulangnya jelas terlihat. Sepertinya sudah beberapa hari ia belum makan.

Oni segera meletakkan sapunya di halaman. Ia berlari ke dapur rumah, menuju sebuah meja saji yang penuh dengan masakan hangat dan lezat. Ia ingin mengambil sepotong ikan tongkol kecil goreng. Dilihatnya Ibu yang sedang mencuci piring. Ia meminta izin.

“Bu, bolehkah Oni mengambil satu ikan tongkol kecil ini?” tanyanya sambil menunjuk seekor ikan tongkol kecil. “Mau dibawa kemana ikan itu, Oni?” tanya Ibu sambil membilas piring yang penuh busa sabun.

“Ingin diberikan pada kucing kecil kurus di luar, Bu. Dia kelaparan.”

Ibu menggangguk mengizinkan. Oni senang bukan main. Ia segera berlari menghampiri kucing kecil yang mungkin sedang beristirahat di bawah pohon.

Tak sengaja, Andi teman sekelasnya bersama seekor kucing angora barunya, melintas tepat di depan pagar halaman Oni. Ia sedang membawa kucingnya jalan-jalan sore. Andi berniat untuk mampir ke rumah Oni, sambil memperkenalkan kucing cantik barunya. Andi mengintipi halaman rumah Oni yang luas dari balik pagar yang tinggi. Andi memanggil-manggil Oni yang asyik bermain dengan kucing kecilnya.

“Oni. Oni!!” teriak Andi.

Oni segera menoleh ke luar pagar. Dilihatnya Andi menjinjit seraya berusaha mengintip dari balik pagar. Oni menghampirinya.

“Hei, Andi. ada apa? Sedang apa? Masuk.” ajak Oni seraya membuka pagar.

“Oh, tidak. Aku hanya sedang membawa kucing kecilku jalan-jalan sore. Karena lewat di depan rumahmu, aku mampir. Hei, lihat nih kucing baruku.” kata Andi seraya memperlihatkan kucing angora dipelukkannya. Kucing Andi memang cantik. Bulunya tebal, panjang, lembut, dan putih bersih. Bola matanya hitam. Ekornya panjang. Mengeliat di tangan Andi. Sesekali mengeong. Suaranya merdu dan manja.

“Andi! Kucingmu cantik sekali. Kau beli di mana?” tanya Oni penasaran.

“Ini bukan aku yang membeli. Tapi Mama yang membelinya langsung dari toko. Harganya mahal. Aku yakin tidak semua orang bisa membelinya.” Ucap Andi sombong.

Uh! Kata-katanya membuat Oni geram. Enak saja mengatakan kalau tidak semua orang bisa membelinya. Seketika ia teringat pada kucing kecil itu.

“Oh!! Aku juga punya kucing, Ndi.” Jawab Oni dengan bangga untuk kucing buluknya.

“Ah! Yang benar?! Aku boleh melihatnya?” tanya Andi penasaran.
***


Oni mempersilakan Andi dengan senang hati. Ia tak sabar ingin mengenalkan kucing buluk yang begitu istimewa baginya.

Ketika mereka tiba tepat di bawah pohon mangga, kucing itu sedang asyik menggigit ikan tongkol goreng yang lezat. Seakan tidak memperdulikan Oni dan Andi yang mendekatinya. Oni tersenyum sambil memandang lucunya kucing kecil yang ia temui tadi. Tapi Andi, malah terkejut melihat kucing yang kotor itu.

Andi segera mengusir kucing yang asyik dengan ikan gorengnya.

“Hussh!!! Pergi kamu!” kata Andi seraya menyepak kaki kucing kecil yang terluka. Kucing itu mengeong kesakitan.

Oni terkejut melihat sikap Andi yang sengaja menyepak kaki kucing yang terluka itu. Oni terlihat kecewa. Segera digendongnya kucing kecil yang melompat kesakitan ke tubuh Oni.

“Andi! Apa yang kamu lakukan? Ini kucingku” tegas Oni sambil memeluk tubuh kucing kecil yang bersedih.

“Oni, kamu tidak salah? Ini kucing barumu?” tanya Andi tidak percaya.

“Iya. Memangnya kenapa? Tidak percaya? tanya Oni dengan wajah sedih. Ia tidak suka perlakuan Andi yang menyakiti kucingnya.

“Ih!!! Dia kotor, kurus, untuk apa dipelihara? Lihat, badannya penuh becek. Dan kakiknya terluka. Dia pasti membawa penyakit. Tidak pantas dirawat!! Uh!! Tidak seperti kucing anggoraku!” jawab Andi lagi. Andi kelihatannya jijik melihat kucing kotor dan kesakitan itu.

Mendengar ucapan Andi, Oni mendengus. Ia tak terima kucingnya dibeda-bedakan.

“Andi, semua kucing itu ciptaan Tuhan. Semua kucing harus dirawat. Tidak harus bersih, sehat, dan lucu seperti kucingmu. Kucing kotor ini juga harus kita jaga.. Ibuku bilang, kita tidak boleh pilih kasih dengan sesama makhluk hidup. Semua makhluk hidup berhak untuk disayang. Bayangkan saja, jika kamu lebih jelek dari pada kakakmu, dan Ibumu hanya menyayangi kakakmu. Apa kamu mau?” jelas Oni membela kucing kecil itu.

Andi terdiam. Ia terlihat memikir sesuatu. Mungkin dia sedang membayangkan ucapanku. Jika benar, dia itu lebih jelek dari kakaknya, dan Ibu hanya menyayangi kakaknya, ia pasti merasa sedih.

“Aku tentu tidak mau! Aku juga ingin disayang Ibu!” Katanya dengan wajah cemburu. “Makanya, jangan suka memilih kasih. Perbuatan itu tidak baik. Bayangkan jika hal itu terjadi pada diri kita, Andi.” Kata Oni mengingatkan.

Andi sadar, ia setuju dengan ucapan Oni. Ia meminta maaf karena telah melakukan hal salah.

Andi memuji kata-kata Oni yang dianggapnya benar itu.

Ya, memang benar apa yang Oni katakan. Sesama makhluk hidup harus saling menyayangi. Sama seperti yang Oni lakukan pada kucing buluknya. Meskipun tubuh kucing itu kotor, tapi Oni tetap merawatnya dengan senang hati. Baginya, memberikan kasih sayang kepada sesama makhluk hidup, adalah suatu hal yang membanggakan. Dengan menyayangi sesama, kita dapat mengerti arti hidup dan pentingnya kasih sayang di dunia ini. Semua makhluk akan hidup damai tanpa merasa dibeda-bedakan.[]

Rizki Safria Nanda, alumni D-III Kesekretariatan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh. Cerpen ini ditulis saat menjadi anggota Komunitas Jurnalisme dan Sastra Unimal.






Badge_@ayi.png


follow_ayijufridar.gif

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!