Sastra yang Menggetarkan Jiwa: Borobudur Writers and Cultural Festival 2018 |

in #culturallast year (edited)

image


image


Martin Aleida banyak menulis kisah orang-orang yang dituduh anggota atau simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam cerpen-cerpennya. Ada yang benar-benar terlibat dalam partai berhaluan kiri tersebut, ada yang hanya dituduh atau menjadi korban fitnah. Tapi intinya, mereka mengalami ketidakadilan seperti hukuman tanpa proses Pengadilan. Bahkan ada korban yang menjalani "hukuman" tersebut sampai sekarang.


image


Sastrawan yang juga mantan jurnalis ini menjadi salah satu pertimbangan saya ketika memutuskan ikut dalam Borobudur Writers and Cultural Festival 2018 di Yogya dan Magelang, 21 - 25 November 2018. Saya ingin berguru langsung dari Martin Aleida. Belajar tentang banyak hal, terutama proses kreatif Martin Aleida dalam menulis. Saya selalu terinspirasi dengan cara orang menulis dan membangun tradisi kepenulisan yang kuat.


image


Maka ketika ia tampil memaparkan pengalaman residensi menulis tentang orang-orang yang kehilangan Tanah Air akibat kekejaman resmi Orde Baru, saya tidak membuang kesempatan itu. Keberadaan Martin Aleida dalam BWCF 2018 terlalu mubazir kalau hanya mendengar pengalamannya menulis di luar negeri. Banyak pengalaman lain yang bisa didengar dari sastrawan tersebut, dan ia begitu rendah hati membagi ilmu dan pengalaman. Saya dan beberapa penulis muda lain seperti Ratna Ayu Budhiarti dan Joshua "Mas Beib" Igho, menemani makan siang Martin dan kesempatan itu menjadi ajang tranfers pengalaman, motivasi, dan ilmu menulis.

Sebelumnya, setibanya di Hotel Manohara di Magelang, tempat acara berlangsung, saya melihat Martin Aleida duduk di belakang meja buku. Ssaya langsung menyapanya dan berdiskusi hal-hal ringan. Tentu tidak berjalan lancar, karena banyak yang menginterupsi. Minta tanda tangan dan foto. Dia melayani dengan sabar.


image


Ketika sesi Martin Aleida memberikan presentasi, saya beruntung mendapat kesempatan bertanya. Tidak mudah mendapatkan kesempatan bertanya karena waktu terbatas dan banyak peserta lain yang ingin bertanya. Saya bertanya tentang proses kreatif Martin Aleida dalam menulis korban kekerasan, baik fisik maupun psikis. Saya sering menulis tentang korban kekerasan konflik bersenjata di Aceh, tetapi sering merasa sedih dan terluka ketika menulisnya. Barangkali karena terlalu dekat dengan secara fisik dan mental dengan korban sehingga terasa seperti membuka luka sendiri saat menuliskannya.

Kalau sudah dalam situasi seperti itu, saya sering meninggalkan tulisan yang belum selesai dan menghibur diri bahwa saya tidak boleh "mengeksploitasi" kekerasan di Aceh demi karier kepenulisan. Tapi kemudian rindu kembali untuk melanjutkan karena kejadian itu harus tercatat, meski dalam bentuk fiksi. Dalam kisah fiksi, kebenaran terkadang lebih bebas disuarakan dibandingkan dalam karya-karya jurnalisme.

Martin mengatakan, menulis memang membutuhkan keberanian. Kalau ada penulis yang mengangkat kasus-kasus kekerasan seperti itu, bukan berarti kita mencari siapa yang salah atau siapa yang benar. “Tapi kita tidak ingin kasus itu terulang lagi,” ujarnya.


image


Dia menambahkan, sastra itu berpihak kepada korban, kepada orang tertindas. Tidak ada karya sastra di dunia yang memihak kepada rezim yang zalim. Sastra itu menggetarkan jiwa pembaca, mengajak pembaca melawan ketidakadilan, meski hanya dalam hati atau pikiran, begitu kata Martin Aleida.


image


Badge_@ayi.png


follow_ayijufridar.gif

Sort:  

Jangan berhenti menulis, menulis itu membebaskan.

Ungkapan di atas saya pinjam dan saya simpan ya, Bang.

Bagus sekali untuk motivasi agar terus menulis @iqbaladan. Saleum literasi.

Terima kasih, Bang. Semoga kami yang pemula dan amatiran masih juga terus termotivasi untuk menulis, karena menulis itu katanya bekerja untuk keabadian. Saleum literasi.

Thanks for using eSteem!
Your post has been voted as a part of eSteem encouragement program. Keep up the good work! Install Android, iOS Mobile app or Windows, Mac, Linux Surfer app, if you haven't already!
Learn more: https://esteem.app
Join our discord: https://discord.gg/8eHupPq