Maka Nikmat Tuhan Manakah yang Kau Dustakan

in aceh •  5 months ago

images (60).jpeg

Assalamualaikum Sahabat Steemian!

Penggalan terjemahan ayat di atas adalah surat Ar Rahman. Dalam hal ini kita patut bersyukur masih diberi kenikmatan yang banyak oleh Sang Pencipta.

Ingatlah!

Sang Pencipta memberikan Oksigen secara cuma-cuma kepada kita semua, lantas apa yang kita lalukan dalam ibadah?

Cukupkah oksigen yang melimpah seperti yang kita rasakan hanya dibalas dengan 5 kali sholat sehari semalam? Itupun kalau tidak lupa, itupun kalau khusyu'.

Maka, Nikmat Tuhan Manakah yang Kau Dustakan.

Sahabat Steemian!

Pada nuansa bulan Syawwal ini mari kita tingkatkan ibadah kita untuk berterimakasih kepada Sang Pencipta atas semua nikmat-nikmatnya.

Hidup kita, mati kita, ibadah kita semua harus hanifan atau murni tertuju pada-Nya.

Di manakah kita habiskan umur ini? Berkah dan berguna kah hidup kita untuk keluarga, teman dan sesama?

Mulailah untuk merenungi diri kita, instrospeksi ke dalam jauh relung hati kita, temukan mutiara cinta sejati Ilahi Robbi di sana.

Semoga menginspirasi.

Salam @maziero681

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Bener banget tu ganzz.. Orang orang jaman sekarang mah lebih memprioritaskan.. Semua hal yang sifatnya duniawi, dibandingkan dengan memikirkan perbekalan apa yang akan mereka bawa ketika mati.. Hehe

·

Harus imbang antara duniawi dan ukhrowi, fi dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah.

·
·

Betul, bang tapi kok rasanya, ketika orang-orang mengatakan mereka bisa menyeimbangkan antara duniawi dan ukhrowi, mereka akan lebih condong kepada salah satu di antara keduanya... Hehe

·
·
·

Itu manusiawi, seperti seseorang yang kadang berbuat salah dan kadang juga segera bertaubat, maka sudah sepantasnya manusia selalu mawas diri, dan mengendalikan hawa nafsunya, karena hawa nafsu itu ibarat anak kecil jika tidak disapih ia akan minum susu ibu hingga besar. Begitu pula nafsu kita yang mengarah ke kehidupan duniawi ini harus dikendalikan dan disapih dari diri kita sehingga mampu lebih fokus pada ukhrowi.