Maaf #ending (cerpen)
Di Blang Padang, sebuah lapangan berolah laga, nongkrong, aku duduk sendiri jogging. Menikmati soup buah. Tidak sengaja aku melihat, Siska, pacarku. Aku berniat menyapanya. Tiba-tiba aku melihat seorang lelaki menggandeng mesra tangan Siska. Siska balas mencium pipinya. Aku sangat kenal siapa lelaki itu. Namanya Dodi, sahabatku dari kecil. Jantungku terasa ditusuk. Marah. Kecewa. Sedih. Perasaan itu menyatu. Malamnya aku mengakhiri hubungan dengan Siska. Padahal baru tiga bulan kami menjalani hubungan itu.
“Kamu mau putus, ayo. Emang sih selama ini aku cuma manfaatin kamu biar dekat dengan Dodi. Sekarang ia pacar baruku,” ucapnya enteng melalui sambungan telepon. Perasaanku kacau. Hubunganku dengan Dodi kandas. Aku tidak sanggup membayangkan mengapa ia sampai setega itu. Lebih sakit rasanya bila pacar kita diselingkuhi oleh sahabat sendiri. Daripada dengan orang lain.
Aku terpuruk. Sahabatku ternyata seorang pengkhianat. Dikhianati dengan cara ini, sakit sekali. Tengah malam aku merenung. Aku tidak ikut empat ujian akhir semester. IPK-ku anjlok. Dari 3,60 menjadi 2,80. Orang tua di kampung protes keras. Mereka menelepon siang malam. Kebanyakan tidak aku angkat. Sebab aku takut.
Teringat perkataan Rahmi, jika kita memiliki persoalan, ceritakan semua itu kepada Allah. Dia-lah zat tempat mencurahkan isi hati. Di sanalah rahasia kita paling aman tersimpan. Aku melaksanakan salat tahajud, sesuai perkataan Rahmi terdahulu. Setelah salat, kutadahkan kedua tanganku. Kuceritakan semua gelisahku. Air mataku menetes. Aku menangis sesenggukan. Telah lama aku meninggalkan-Nya. Sekarang aku bersama-Nya. Hatiku merasa nyaman, damai, setelah semua tercurahkan. Aku menyadari satu hal berarti, ternyata, hubunganku selama ini bersama Siska, sebuah kesalahan. Aku telah melakukan apa yang dilarang-Nya.
Aku membuka kunci layar handphone-ku. Jam sudah menunjukkan pukul 14.15 wib. Ada sebuah pesan singkat. Pesannya sudah masuk empat jam lalu. Aku tidak membalasnya. Nomornya tidak kukenal.
Aldi, apa kabarnya?
Aku dengar kamu sakit.
Satu pesan masuk lagi. Kali ini dari Zahara, kawan akrabnya Rahmi.
Assalamualaikum, Aldi
Aku mau jumpa kamu di perpus, besok, pukul 10 pagi. Bisa tidak?
Ok. Aku membalasnya singkat.
Zahara memberiku sebuah buku pink. Covernya dua gambar perempuan berhijab. Zahara mengatakan buku ini miliknya Rahmi. Isinya berkisah tentang kehidupan Rahmi selama sekitar empat tahun di Aceh. Di tengah-tengah halaman, aku tidak menyangka, namaku tertera di sana. Sambal membacanya, pikiranku terus menerawang kejadian-kejadianku dengan Rahmi. Aku baru sadar, selama ini dialah yang selalu ada di sisiku. Ia membantu mengerjakan tugas kuliah, selalu menanyakan kabarku. Bahkan ia mau mendengar permasalahanku dengan Siska.
Setelah habis aku membaca pada bagian itu, air mataku mengalir sendirinya. Aku tidak peduli keadaan di sekitarku lagi. Mahasiswa di perpustakaan menatapku aneh. Apa peduliku. Zahara menceritakan kejadian sebenarnya yang tidak aku tahu ketika di lobby. Katanya, Rahmi melihatku berduaan bersama Siska di atas sepeda motor. Saat itu Rahmi bersama beberapa teman yang lain sedang mengumpulkan dana untuk disalurkan kepada korban gempa. Aku beralasan pulang kampung supaya tidak ikut serta mengumpulkan sumbangan. Sebenarnya aku sudah berjanji kepada Siska untuk jalan-jalan. Meskipun pada akhirnya perjalanan kami berakhir dengan tuduhan Siska bahwa aku selingkuh.
Kata Zahara, Rahmi sudah diopname sekitar seminggu. Karena itu aku tidak melihatnya di kampus. Ketika aku berjumpa di lobby, sebenarnya Rahmi sudah merasakan tidak enak badan. Malamnya ia pingsan, kemudian dilarikan ke rumah sakit. Sekarang aku ingin segera bertemu Rahmi. Aku ingin meminta maaf. Aku juga merasa sangat menyesal. Perasaanku mulai berbeda. Tidak tahu kenapa, aku merasakan bahwa aku tidak ingin kehilangan Rahmi. Aku ingin memilikinya. Hari ini juga aku akan mengungkapkan keinginanku. Keinginan untuk menghalalkannya sebagai istriku. Kebahagiaan sejati bukan berasal dari pacaran. Melainkan sebuah hubungan yang sah. Hubungan yang akan memperoleh keberkahan dari-Nya. Rahmi, tunggu aku.
Rabu, 19 Juli 2017
Aldi, itulah namanya
Hari ini aku begitu paham bagaimana perasaan cinta itu. Memang sakit sekali rasanya melihat dia bermesraan dengan perempuan itu di atas motor. Sementara itu aku sedang mengumpulkan sumbangan untuk korban gempa. Entah bagaimana aku harus menjelaskan ini pada-Mu. Yang jelas, aku berharap dia menjadi lelaki yang baik, dekat dekan-Mu.
Minggu, 30 Juli 2017
Kebohongannya hari itu tidak bisa kuterima. Berkali-kali air mataku menetes. Walaupun begitu, aku sangat ingin menjenguknya. Berhari-hari dia hilang tanpa kabar. Berulang kali ia tidak ikut ujian. Tuhan, bantu aku menghadapi perasaan ini. Jika kami memang jodoh, pertemukan kami dalam lingkaran hubungan yang halal. Bila bukan, kuburkan perasaan ini sedalam-dalamnya. Sampai ajal menjemput, hilangkan namanya dari hatiku.
Senin, 31 Juli 2017
Sudah beberapa hari aku terbaring di rumah sakit. Malam ini aku mengirimkan pesan singkat kepada Aldi. Aku merasa gelisah tidak dapat kabar apa-apa darinya. Bahkan dari teman-temannya. Tapi, Aldi tidak membalas. Apa karena dia tidak tahu nomor baruku? Atau memang dia sedang dalam masalah besar?
Jino ka jelas bahwa ada boh kol dalam bakwan
Hahaha..peu jih yg ka jelas..hehehe..
Congratulations @furqanzedef! You have completed some achievement on Steemit and have been rewarded with new badge(s) :
Click on the badge to view your Board of Honor.
If you no longer want to receive notifications, reply to this comment with the word
STOPTo support your work, I also upvoted your post!
Do not miss the last post from @steemitboard!
Participate in the SteemitBoard World Cup Contest!
Collect World Cup badges and win free SBD
Support the Gold Sponsors of the contest: @good-karma and @lukestokes
sambal oh sambal membaca....
Pedas Kak ya..hehehe.
iya, aku menemukan sambal di tulisan Furqan.