Menulis, Literasi Kenabian
SETELAH Tuhan memerintah Nabi Muhammad saw. untuk membaca, siapa pula yang akan menulis? Pertanyaan ini tentu menarik, karena membaca dan menulis adalah tamsil kulit dan ari, lidah dan jalkun.
Tak ada yang menyangkal bahwa kemampuan membaca yang dimiliki oleh Muhammad tiada bandingan di muka bumi. Sekali saja Jibril mengucapkan wahyu Allah, langsung terekam dalam memori Muhammad. Oleh karena itu, wajar jika Muhammad tidak perlu menuliskan ayat-ayat Tuhan. Ingatan Muhammad lebih kuat daripada tinta yang sudah dituangkan di atas kertas.
Muhammad sebagai penghulu segala umat sangat paham bahwa ingatan manusia terbatas, mudah lupa dan cenderung suka lupa. Oleh karena itu, Muhamamd memerintahkan sahabat untuk menuliskan ayat demi ayat yang diterimanya dari Allah swt.
Mulanya, Muhammad meminta para sahabat menyetor hapalan wahyu yang pernah didengarnya agar Muhammad tahu sejauhmana keabsahan wahyu tersebut dicerna oleh para sahabat. Beberapa waktu kemudian, Muhammad mulai melihat betapa pentingnya wahyu dan hadis didokumentasikan lewat tulisan. Mulailah Muhammad meminta para sahabat menuliskan wahyu dan hadis di mana saja. Awalnya, ayat dan hadis ditulis para sahabat di kulit unta, di tulang belulang, di batu, dan tempat-tempat lain yang memungkinkan.
Para penulis di zaman nabi antara lain Zaid bin Tsabit, Ubai bin Ka’ab, Muaz bin Jabal, Muawiyah, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali. Setelah Nabi Muhammad wafat, barulah para sahabat mencari cara menuliskan ayat dan hadis lebih terstruktur.
Pada masa kekalifahan Abu Bakar, dipilihlah Zain bin Tsabid sebagai ketua pengumpul ayat dan hadis yang berserakan di tulang, batu, dan tempat-tempat lain tersebut. Semua dukumpulkan kembali menjadi satu naskah yang disebut “suhuf”.
Masa kekalifahan Usman, Zait bin Tsabid masih dipercaya sebagai editor naskah. Karena tulisan Arab yang masuk ke editor ketika itu beragam, akhirnya dipercaya Said bin al-‘Ash sebagai orang yang mendikte karena bahasa Arabnya lebih fasih. Ayat-ayat yang sudah terkumpul rapi itu diberi nama “Mushaf Usmani”.
Tradisi menulis terus berlanjut pada kalifah berikutnya. Tradisi menulis ke dalam aksara alfabet pun dimulai sejak ditemukannya mesin cetak oleh Guttenberg. Tradisi menulis terus berkembang mengikuti zaman dan tekonologi. Kini, orang tidak hanya menulis di kertas, tetapi sudah di komputer, laptop, handpone.
Singkatnya, menulis adalah literasi dari nabi untuk dilakukan oleh sahabat dan dilanjutkan oleh seluruh umat manusia. Sebagia umat nabi, sudah sepatutnya kita menulis dengan mengemban empat sifat nabi: benar, jujur, amanah, dan cerdik/pintar.
“Saya umat nabi, maka saya menulis!”
Herman RN
Fasilitator Menulis
==========English Version===========
AFTER The Lord Ruled The Prophet Muhammad. to read, who will write? This question is certainly interesting, because reading and writing are skin and ami tamsils, tongues and turkeys.
No one denies that Muhammad's reading ability is incomparable on earth. Once Gabriel uttered the revelation of Allah, instantly recorded in Muhammad's memory. Therefore, it is natural that Muhammad did not need to write down the verses of God. Muhammad's memory is stronger than the ink that has been poured on paper.
Muhammad as penghulu all the people very understand that human memory is limited, easy to forget and tend to forget. Therefore, Mohammed ordered his companions to write verse after verse he received from Allah swt.
Initially, Muhammad asked the Companions to deposit the revelation he had ever heard so that Muhammad knew the extent to which the revelation was validated by the Companions. Some time later, Muhammad began to see how the importance of revelation and hadith is documented through writing. Muhammad began to ask the Companions to write revelations and hadiths everywhere. Initially, verses and hadiths were written by the Companions on the camel's skin, on the bones, on the rocks, and elsewhere possible.
The writers of the time of the prophet include Zaid bin Thabit, Ubai bin Ka'ab, Muaz bin Jabal, Muawiyah, Abu Bakr, Umar, Usman, Ali. After the death of the Prophet Muhammad, the Companions sought to write a more structured verse and hadith.
At the time of Caliph Abu Bakr, Zain bin Tsabid was chosen as the leader of the verse and hadith collectors scattered on bones, stones and other places. All collected back into a single manuscript called "suhuf".
The period of the Caliph Uthman, Zait bin Tsabid is still believed to be the editor of the manuscript. Because the Arabic script that came into the editor when it was varied, Said bin al-'Ash finally trusted as the one who dictates because his Arabic is more eloquent. The well-crafted verses were named "Ottoman Manuscripts".
The tradition of writing continues on the next caliph. The tradition of writing into alphabet alphabets was started from the invention of the printing press by Guttenberg. The tradition of writing continues to evolve with the times and tekonologi. Now, people not only write on paper, but already on computers, laptops, handpone.
In short, writing is the literacy of the prophet to be done by the Companions and continued by all mankind. As a prophet, it is fitting for us to write with four prophets: true, honest, trustworthy and clever.
"I am a prophet, so I write!"
Herman RN
Facilitator Writing
Dan ini anehnya, pemikiran dan ilmu pengetahuan Islam seiring dengan kemampuan litetasi umatnya.
Miris, kak, bukan hanya aneh.
Salut ,, terus berkarya bang @hermanrn
Terima kasih @anis09
Mantap, luar biasa tulisan bg @hermanrn sukses selalu
Terima kasih @abdulhalim
Saya sudah vote ya.
Terima kasih Bang @dsatria
Zaman now, literasi dikuasai oleh kaum lain. Postingan @hermanrn mengingatkan kembali tradisi literasi kaum Muslimin.
Semoga bermanfaat Bang @ayijufridar.
gron bang . . .