Pendekar Pewaris Prahara #1. Bara Cakar Api: Suatu Malam di Pesisir Nanggroe

in #writing3 years ago

Screenshot_2018-07-30-11-06-08-166_com.niksoftware.snapseed.png

  1. Suatu Malam di Pesisir Nanggroe.

Kegelapan malam menyembunyikan kapal selam kecil yang mendekat dan perlahan muncul ke permukaan. Empat laki-laki penumpangnya berloncatan dengan cepat, dan melenting menggunakan puncak ombak sebagai pijakan.

Dengan waspada mereka mendaratkan kaki mereka di permukaan pasir. Sejak keputusan mengejutkan delapan tahun lalu, ketika dengan dukungan penuh parlemen dan rakyat, presiden yang baru terpilih mengubah bentuk negara menjadi negara federal, negara ini telah berkembang menjadi salah satu kekuatan yang ditakuti.

Seolah mengambil kembali kejayaan masa lalunya. Setiap provinsi, yang pada satu masa di masa lalu adalah kerajaan, kembali mengukuhkan nama mereka. Setiap provinsi yang berubah menjadi negara bagian itu membangun diri mereka menjadi wilayah maju dan memiliki kekuatan mandiri.

Awalnya 10 tahun silam. Belajar dari kesalahan dalam memilih presiden sebelumnya, yang nyaris mengakibatkan negara bangkrut dan hampir kehilangan banyak aset, rakyat secara cermat menilai dan memilih. Ahmad Munawar, ahli sejarah dengan prestasi internasional yang juga doktor kehormatan di bidang sosial politik, terpilih menjadi presiden termuda dalam sejarah seratus dua puluh tiga tahun usia bangsa, dengan wakil seorang akedemisi dan ulama, Profesor Nur Hidayat. Bersama mereka menjadi dwi tunggal ketiga dalam sejarah. Bangsa ini bangkit kembali untuk kedua kalinya.

Negara bagian paling barat, Nanggroe, tempat kapal selam mini itu berlabuh, adalah salah satu wilayah yang menjadi incaran koalisi negara-negara Euromerica. Perhimpunan negara dari dua benua Eropa dan Amerika. Dideklarasikan bersamaan dengan terbentuknya lembaga khusus yang mengelola urusan pengungsi dan mediasi perang, Zionhill. Beranggotakan seluruh negara Euromerica serta beberapa negara asia dan timur tengah.

Lokasi Nanggroe yang berada tepat di mulut semenanjung malaka memang sangat strategis dalam mengendalikan jalur lintas laut dan udara. Bisa menguasainya berarti menguasai banyak hal. Dari perekonomian hingga pertahanan.

Empat orang prajurit dari kesatuan tempur khusus EDF, Euromerica Defence Force, mengaktifkan perlengkapan jelajah malam mereka. Meskipun mereka adalah para pendekar dan prajurit tangguh di negara masing-masing, namun mereka tidak bisa menyombongkan diri ketika memasuki wilayah ini.

Pesisir Nanggroe adalah wilayah yang serupa Segitiga Bermuda di tahun 40’an. Bedanya yang menghilang bukanlah kapal atau pesawat terbang.

Pasukan mata-mata dari berbagai negara yang mencoba menyusup masuk. Misi sabotase, penculikan, pembunuhan tokoh politik, atau ilmuan, atau ulama, atau siapapun.

Terhenti di saat pasukan, atau tim, atau agen rahasia, atau apapun sebutannya memasuki wilayah pesisir ini, menghilang. Lenyap begitu saja.

Meskipun negara bagian ini terbuka bagi siapapun yang ingin berkunjung, namun di balik keramahan dan keterbukaan itu, terdapat wilayah mengerikan bagi kekuatan asing yang mencoba mengganggu negara mereka.

Pemimpin dari tim kecil empat orang itu memperhatikan sekelilingnya melalui lensa perangkat penglihatan malam. Semua terlihat benderang seperti siang hari, tapi dalam pendar cahaya kehijauan. Awalnya hanya ada hamparan pantai yang kosong. Lalu tiba-tiba ia melihat sesosok tubuh bergerak dengan kecepatan tinggi menuju tempat mereka berada. Pola geraknya membentuk zig-zag. Sesaat sosok itu berada di sisi kiri, lalu berkelebat dan lenyap, untuk sepersekian detik berikutnya muncul di bagian kanan, lalu berkelebat lagi.

Anggota timnya tentu melihat juga kedatangan sosok itu, karena ia mendengar mereka mengokang senapan serbu mereka.
Tapi dengan kecepatan yang sangat mengagumkan, pemimpin tim melihat ketiga anggotanya dilumpuhkan. Dalam hitungan kurang dari dua detik, sosok yang semula berada belasan meter jauhnya, telah berdiri tepat dihadapan mereka.

Sosok berbalut pakaian gelap itu dengan sigap menekan tangan prajurit di hadapannya, memotong gerakan mengarahkan senjata dari prajurit itu. Disaat bersamaan ia melepaskan dua tendangan melingkar yang secara beruntun menghantam kepala dua prajurit lain, suara keras benturan tendangan menunjukkan betapa kuatnya tendangan itu, menyamarkan suara tulang yang patah. Kedua prajurit nahas itu terkulai jatuh. Bersamaan dengan hantaman siku merubuhkan prajurit pertama.

Pemimpin tim bahkan tak melihat yang mengenai tubuhnya apakah pukulan atau tendangan, ia hanya melihat sosok itu melakukan gerakan memutar, dan tubuh pemimpin tim terlontar ke atas.

Mata pemimpin tim menatap bulan di langit yang perlahan muncul dari balik awan malam. Lalu rasa dingin menyebar, merambat naik dari tengah dadanya, diikuti oleh panas yang mendadak menyusul dibelakang rasa dingin. Pandangannya dipenuhi oleh bulan yang tiba-tiba menjadi sangat cemerlang, lalu gelap.

Pemimpin tim terjatuh dalam keadaan sudah tak lagi bernyawa. Dan semua itu terjadi dalam waktu kurang dari tujuh detik.

Screenshot_2018-07-30-11-27-05-811_com.android.chrome.png
Image source pixabay.com

Sosok berbaju gelap itu menatap jauh ke laut. Meskipun samar, ia bisa merasakan kehadiran satu kapal tempur di lautan. Perkiraannya, kapal itu berada di zona internasional.
Ia berbalik mendekati tubuh-tubuh yang bergelimpangan. Tak lama, ia menemukan benda yang dicarinya. Tepat seperti yang dikatakan oleh intel. Lima buah peledak EMP.
Peledak itu tidak akan menghasilkan ledakan dan panas api. Tapi detonasinya akan menghasilkan gelombang elektro magnetik. Yang bisa menghancurkan perangkat elektronik apapun dalam radius tertentu.

Informasi dari intel mengatakan bahwa satu unit peledak di tangannya itu, mampu mematikan, membakar, dan menghapus data perangkat elektronik dalam radius dua kilometer.

Ia menengadah, memandang puncak beberapa menara tak jauh dari situ. Terlindung di balik satu bukit kecil dan pepohonan, adalah Pusat Pengawasan Laut. Secara umum diketahui sebagai tempat data dan pemetaan kawasan laut, perikanan dan salah satu menara pemantau cuaca dari Badan Meteorologi. Tapi bagi militer, tempat itu adalah pangkalan radar dan persenjataan laut.

Sosok berbaju gelap itu dengan cepat mengumpulkan tubuh musuh. Menumpuknya dalam satu tumpukan. Dan mengikatnya dengan jaring khusus. Lampu led kecil di cakram baja pengunci simpul jaring berkedip pelan. Mengirim pesan pada drone pengangkut.

Ia lalu merogoh ke ransel kecil yang dikenakannya, mengeluarkan satu benda berbentuk tabung. Sedikit lebih besar dari kepalan tangan. Kemudian melemparkanya ke laut. Tabung itu melesat ke arah kapal selam yang mengapung dalam kesunyian, jauh di sana. Letupan kecil terdengar ketika tabung menghantam permukaan baja. Kabut berwarna abu-abu menyebar dengan cepat.

Sekilas memang seperti kabut, namun sebenarnya itu adalah kumpulan ratusan ribu mikrobot. Robot berukuran nano, sangat kecil, mengunyah dan menguraikan kapal selam itu. Melalui benda seperti smartphone ia mengawasi sebaran mikrobot. Dan ketika kapal selam itu hilang, ia menekan tombol di layar sentuh.

Kilat berukuran mikro memenuhi wilayah tertentu dipermukaan air ketika mikrobot itu meledak terbakar.
Ia sedikit tersenyum membayangkan keributan dan kepanikan di kapal induk yang jauh disana. Lagi-lagi tim mereka hilang.

Suara dengung pelan terdengar, ketika satu unit drone mendekat. Pengaitnya terpandu secara otomatis, dan mengait cakram baja tanpa mengurangi kecepatan. Drone militer itu hanya butuh beberapa detik untuk menyetabilkan beban, kemudian perlahan meninggi dan menghilang ke balik pepohonan.

Screenshot_2018-07-30-11-55-28-249_com.android.chrome.png
Image source pixabay.com

Sosok itu perlahan menurunkan kain yang menutupi sebagian wajahnya. Wajah seorang pemuda terlihat. Tak tampan, namun juga tidak jelek. Parasnya sederhana, namun tegas. Berwibawa, dan entah mengapa ada kesan sedih yang dalam. Ia seperti orang yang menanggung beban yang sangat berat. Alisnya tak rapi, helai rambut mencuat berantakan berbentuk seperti pedang para petarung padang pasir di arab, dengan sebuah bekas luka yang memotong di tengah alis kanan. Bekas luka itu turun hingga dua jari kebawah mata.
Hidungnya agak pesek, rahang bersegi membingkai wajahnya. Dan cambang sangat tipis samar memenuhi sisi wajah bersambung dengan janggut pendek tapi tebal.

Ia sudah lama melupakan nama aslinya. Ketika Tuan Guru Tengku Haji Zainal Abidin memungut dirinya yang masih seorang bocah kurus kering kelaparan pun, ia hanya ingat orang-orang memanggilnya Buang. Tak ada alasan istimewa. Panggilan itu hanya karena ia sering menanyakan nasi yang dibuang, kue yang dibuang, makanan yang dibuang.

Ayah dan mak dulu tinggal di perkampungan pemulung, di tepi pusat pembuangan dan pengolahan sampah. Tapi kemudian kerasnya persaingan kehidupan, membuat para pemulung mulai membentuk kelompok. Mereka saling serang dan berebut wilayah memulung yang strategis.

Kebutuhan untuk mengumpulkan jumlah sampah yang bisa diuangkan meningkat seiring naiknya harga berbagai kebutuhan hidup. Keluarganya terusir.

Mereka sempat tinggal di kolong jembatan. Namun jembatan itu berada di wilayah pusat kota, bukan tempat yang dibolehkan untuk mereka.

Mak menyembunyikannya di dalam bak sampah. Demi menyelamatkannya dari kejaran petugas Penertiban dan Pengawasan Kota. Itulah terakhir ia melihat kedua orang tuanya, ketika mereka dibawa oleh truk petugas. Entah kemana.

Ia menunggu, bersembunyi tak jauh dari tempat sampah. Dua hari. Lalu rasa lapar memaksanya keluar. Dan ia langsung berhadapan dengan sekelompok banci yang lari dengan gagah perkasa tanpa kesan kemayu. Mereka dikejar petugas. Ia tertangkap, lalu dibawa ke panti asuhan.

Kelak ia mendengar dari beberapa anak jalanan, tentang beberapa panti asuhan yang ramah, peduli, baik dan menyenangkan. Sayangnya, yang ia temukan justru sebaliknya.

Ia melarikan diri.

Mengemis dan menggelandang selama beberapa lama, lalu berjumpa Tuan Guru.

(Bersambung)

IMG-20180725-WA0001.jpg

#pendekarpewarisprahara
Episode baru hadir setiap Senin.

Sort:  

Seruuu namun akan lebih seru lagi jika setiap adegan dituliskan bunyinya bang. Misalnya hiaaaat.. buk buk buk.. dua diantara pasukan itu jatuh tersungkur ke pasir..

Atau duaaaarrrr... Ledakannya menggelegar..

Hihihi

Hahahha klasik kali ya

Behhh eps 1 aja dah bau-bau amis darah, tapi keren.
'Buang', sadis x kasih namanya pak :

Karena kehidupannya nanti memang jauh dari manis. Penuh dengan rasa sakit dan kesendirian.

Spoiler dikit hehehe