Pendekar Pewaris Prahara #1. Bara Cakar Api : Bertemu Tuan Guru

in #writing3 years ago (edited)

IMG_20180807_000344.jpg

  1. Bertemu Tuan Guru.

Dua belas tahun silam.

Buang duduk meringkuk di lorong belakang restoran. Matanya sayu menatap pintu besi dengan jendela kecil berjeruji. Tak jauh dari tempat duduk bocah berusia delapan tahun itu terdapat celah kecil, kurang dari satu meter lebarnya. Celah yang terbentuk akibat sela antara toko-toko dan berbagai bangunan.

Di celah itu Buang menghabiskan waktu malamnya. Beberapa kardus bekas rokok digunakannya sebagai atap. Lainnya ditumpuk sebagai alas tidur. Spanduk usang kampanye presiden dengan gambar seorang laki-laki kurus dan seorang perempuan gemuk, tersenyum ceria, digunakannya sebagai selimut.

Gemeretak suara grendel pintu membuat bocah itu mengangkat kepalanya. Perutnya sudah sangat lapar. Sejak semalam ia belum makan.
Laki-laki cina yang membuka pintu, keluar sambil membawa baskom plastik berukuran kecil. Ia melambai memanggil Buang.

“Kemana Kamu tadi malam ?” Tanya laki-laki itu sambil menarik dua dari keranjang plastik tempat minuman botol yang tersusun sepanjang dinding, ia menjadikan satu sebagai meja, dan satunya lagi tempat Buang duduk.
Buang hanya menunduk tak menjawab.

Semalam ia dipukuli oleh beberapa preman. Hanya gara-gara mereka menyangka ia mengintip kamar perempuan malam yang sedang menjual diri. Padahal Buang hanya melintas, mengambil jalan potong menuju lorong belakang restoran.

Mereka memukulinya berkali-kali, lalu sambil tertawa menyeretnya ke dalam salah satu kamar. Buang menutup mata, menutup telinga, ia tak ingin melihat apapun. Ia berusaha tak mendengar apapun, yang tentu sia-sia. Suara-suara kegiatan di kamar itu membuatnya malu dan merasa bersalah.

Ia teringat ayah dan mak yang sengaja membangun rumah dari kardus, plastik bekas, dan kayu sisa, jauh dari rumah lain. Ia teringat mak dan ayah yang selalu mengajarinya untuk punya malu dan tahu bahwa apa yang sering dilakukan sembarang waktu oleh beberapa penghuni pemukiman pemulung, seperti yang terjadi di kamar perempuan malam itu, bukan hal yang pantas untuknya.

Ia teringat sakitnya tamparan dari Mak, ketika ia terperogok oleh Mak, ikut berdiri di belakang anak-anak pemulung lainnya yang mengintipi kamar Tante Icah, pengemis perempuan yang sering dikunjungi oleh anak muda. Awalnya ia memang ketakutan, tak berani ikut, lalu dipaksa turut serta oleh teman-temannya. Tapi setelah Mak menghajarnya hingga memekik-mekik kesakitan, Buang bersumpah tak akan ikut lagi meski dipukul sampai mati oleh teman-temannya.

Screenshot_2018-08-06-18-24-38-633_com.android.chrome.png
Image source pixabay.com

Dini hari tadi ia dilempar seorang preman ke jalan. Badannya sakit bukan buatan. Kepalanya pening oleh asap rokok yang mengkabut di kamar yang pengap berbau masam dan tengik. Uap tuak murahan menambah pusingnya berlipat ganda.

“Hei, cuci dulu tanganmu.” Suara perempuan di dapur mengejutkan Buang yang hendak mengambil nasi dari baskom plastik.
Ia menengadah dan melihat dari pintu yang terbuka, kak Yah, perempuan paruh baya yang bekerja sebagai juru masak memandangnya dengan mata sedikit membelalak.

Buang menunduk lagi. Lalu perlahan bangkit menuju keran air yang terpasang di dinding. Namun saat ia lewat di depan Koh Rudi, laki-laki cina tambun itu mendadak merenggut baju lusuh Buang. Dia mengendus beberapa kali, lalu matanya yg sipit menyipit tajam.

“Merokok kamu?” tanyanya dengan marah.

Buang langsung mengelengkan kepala. Dengan sedikit panik ia menceritakan kejadian tadi malam. Koh Rudi tegas melarangnya merokok apalagi ikut mabuk lem seperti anak jalanan lain. Aturan yang harus dipatuhinya bila ingin tetap mendapat makanan dari dapur restoran milik laki-laki cina itu. Aturan lainnya adalah mandi. Buang harus mandi setidaknya sekali dalam satu hari.

Laki-laki tambun itu berdiri dengan marah. Lalu mengambil kayu penggiling tepung dan bergegas menuju ke sisi lain lorong. Buang terpeleset beberapa kali saat mengejarnya. Ia tahu Koh Rudi menuju lorong tempat mangkal para perempuan malam itu.

Beberapa preman yang sedang duduk santai langsung kabur melihat kedatangan Koh Rudi. Mereka tahu, beberapa orang pendatang baru semalam memukuli Buang. Bocah kurus yang sering diberi makan oleh laki-laki cina pemilik warung Teratai Pesisir, laki-laki itu dulunya adalah jagoan di wilayah Peunayong itu.

Buang melihat seorang dari beberapa preman yang memukulinya melompat keluar dan dengan berani menerjang Koh Rudi. Sepertinya preman itu memiliki ilmu beladiri yang lumayan.

Tak berhenti mengambil kuda-kuda, Koh Rudi justru mempercepat langkahnya. Tubuhnya ditundukkan sedikit, lalu dengan satu telapak tangan membuka di atas bahu, laki-laki cina tambun itu menggunakan bahu dan bobot tubuhnya menghantam si preman yang masih melayang di udara.

Brak. Suara kayu patah, terdengar ketika si preman terlempar menubruk peti kayu bekas sayur. Lalu diam tergolek lemah.

Preman lainnya meraih botol bir dan mengayunkan menghantam kepala Koh Rudi. Namun dengan manis laki-laki itu sedikit menarik mundur kepalanya, dan botol itu lewat hanya sehelaian rambut dari wajah.
Koh Rudi meninju siku di depan wajahnya, mem-buat lawannya terjungkal oleh daya gerak tubuhnya sendiri. Pukulan menggunakan kayu penggiling tepung membuat preman itu terdongak kesakitan lalu kembali terhuyung. Tendangan putar Koh Rudi menyambut tubuh yang terhuyung ke depan. Dan menerbangkan preman kedua itu menghantam dinding.

Bugh! Brak!

Buang dan Koh Rudi berpaling ketika mendengar suara pukulan diikuti suara kayu patah dari arah belakang mereka.
Seorang laki-laki tua berdiri tenang, perlahan menurunkan tangan. Tak jauh disamping laki-laki tua itu, preman ketiga merosot dari dinding, berguling pelan, wajahnya yang menghantam pagar, menegadah dengan mata terpejam. Tangannya masih menggenggam belati yang berkilau.

“Semakin lama, semakin hilang tata krama dalam bertarung.” Ujarnya sambil tersenyum.

“Tuan Guru.” Koh Rudi menyerukan nama panggilan laki-laki tua itu. Keduanya bersalaman dengan gembira. Tak memerdulikan tiga orang preman yang tergeletak tak berdaya.

Koh Rudi menggamit lengan Buang. Ketiganya berjalan pelan kembali ke restoran Teratai Pesisir. Buang berjalan menuju bangku di belakang restoran. Namun laki-laki tua yang dipanggil dengan sebutan Tuan Guru, memegang pundaknya, membimbing Buang untuk ikut.

Buang berniat menolak, tapi tangan lembut yang mendorong bahunya ternyata punya tenaga yang sangat kuat. Buang terdorong tak bisa melawan.

Mereka masuk ke ruangan yang sekilas serupa gudang biasa. Koh Rudi membuka pintu lemari di sudut ruangan. Isinya adalah kotak dan kaleng bekas biskuit. Buang melihatnya menyelipkan tangan ke balik kaleng bergambar dua ekor naga, mungkin makanan impor dari cina. Kelak Buang akan tahu bahwa di balik kaleng itu terdapat satu tuas kecil. Koh Rudi menekan tuas itu. Lalu menarik seluruh rak bagian dalam lemari. Yang membuka seperti pintu.

Buang melangkah masuk. Ia melihat pintu di belakangnya menutup, menjadi dinding yang seolah tak bisa digerakkan.

Mereka berada di satu ruangan besar, dengan beberapa lampu menghiasi dinding. Lambang berbentuk Bunga Teratai berwarna kuning tergantung di salah satu sisi dinding.

Bangku kayu dengan ukiran teratai sederhana memenuhi seluruh sisi ruangan. Meja berbentuk kubus mengisi antara kursi dan kursi di. sebelahnya.

Buang berdiri di sudut ruangan, sementara Koh Rudi dan Tuan Guru berbicara pelan di sisi lain ruangan. Samar ia mendengar percakapan mereka.

“Delapan puluh lebih terbunuh dalam serangan yang melibatkan orang-orang dari Gerbang Utara, Selatan, dan tujuh dari Sebelas Pilar ikut dalam serangan maut itu.” Kata Tuan Guru, wajahnya terlihat keras karena amarah.

Koh Rudi merenung sejenak. Ia sudah menduga beberapa dari Sebelas Pilar akan terlibat. Setidaknya dalam dugaan Koh Rudi, ada lima yang akan ikut menyerang. Mereka adalah kelompok yang mendukung Jalak Parusi, atau lebih dikenal dalam dunia persilatan dengan gelar Cakar Api. “Aku menduga Harimau Giok Merah, Kera Emas, Merak Biru, Panglima Darah dan Naga Laut ada disana, tapi dua lainnya siapa, Tuan Guru?”

“Putri Maharatu dan Elang Muka Dua.”

Koh Rudi tak terkejut. Bila harus menebak, ia akan menyebutkan nama kedua tokoh hitam dunia persilatan itu. Bermain di belakang layar, nama-nama itu adalah mereka yang sebenarnya mengendalikan jalan negara ini.

Para pendekar terbagi pada beberapa tingkatan. Yang paling bawah adalah pendekar perunggu, lalu perak, dan emas. Diatas mereka adalah para penyandang Panglima Petarung, lalu yang teratas adalah mereka yang disebut sebagai Kaisar Petarung.

Mengikuti apa yang tadi disampaikan Tuan Guru. Berarti di tingkat Panglima Petarung hanya Teratai Emas, Serigala Badai, dan Raja Tinju Langit yang masih berada di sisi putih. Ia menarik nafas pelan, ketika mendadak teringat pada seseorang yang pernah berada di tingkat Kaisar Petarung.

“Seandainya Prahara masih ada.”

Tuan Guru melirik Koh Rudi “Di satu sisi aku berharap Prahara masih hidup. Namun di sisi lain aku bersyukur dia sudah tiada. Kamu tahu, aku tak pernah bisa menduga dipihak mana Prahara berdiri.”

Koh Rudi mengangguk setuju. Kehadiran Prahara mungkin akan jadi penyelamat, namun tak seorang pun yang memahami pola pikir laki-laki dengan wajah rusak itu. Bisa saja dia malah turut menyerang anggota Gerbang Hitam yang lain. Sama seperti anggota Gerbang Hitam, Prahara tak bisa diperkirakan.

“Kyai Kamaruzzaman dari perguruan Karang Timur menolak terlibat, dan mereka diserang, ia sempat melarikan diri. Aku merawatnya selama beberapa waktu. Namun cederanya terlalu parah. Ia meninggal beberapa hari setelah itu. Seminggu sebelum aku mendapat kabar markas Gerbang Hitam telah hancur.”

Screenshot_2018-08-06-18-53-24-630_com.android.chrome.png
Image source pixabay.com

“Tuan Guru ada melihat kondisi markas Gerbang Hitam?”

Laki-laki tua itu menunduk pelan. Ia teringat pada tubuh-tubuh tak bernyawa yang ditemukannya di puing markas Gerbang Hitam. Yang membuatnya terkejut bukan hanya banyaknya yang terbunuh. Namun beberapa jenazah pendekar wanita yang ditemukannya dengan cedera di tubuh, bekas pukulan yang menimbulkan bekas seperti tapak merpati. Bukan hanya itu, pakaian mereka juga dilucuti.

Bekas pukulan itu dan tanda pelecehan, menunjukkan kehadiran tokoh dunia hitam yang sempat di duganya telah mati. Merpati Pemetik Bunga.

Tokoh yang terkenal karena gaya hidupnya yang hanya berputar antara wanita, hubungan bebas, kemewahan dan kematian. Sayangnya tak ada seorangpun yang tahu siapa Merpati Pemetik Bunga itu. Dari para pengikut perguruan sesat miliknya, para pendekar golongan putih hanya bisa menduga, bahwa laki-laki itu berusia cukup senior. Memiliki pengetahuan religius yang digunakannya untuk memengaruhi pikiran pengikutnya.

Kemampuan Merpati Pemetik Bunga pun di atas rata-rata. Para pendekar papan atas seperti Raja Pedang, Tua Tempurung, bahkan Dewa Tombak bisa dikalahkannya.

“Merpati Pemetik Bunga masih hidup, Rudi.”

Koh Rudi mendongak terkejut. Wajah laki-laki pewaris perguruan dan sekarang penyandang nama Teratai Emas itu memerah karena amarah.

Merpati Pemetik Bunga pernah melakukan kejahatan terhadap murid-murid wanita perguruannya. Koh Rudi yang saat itu termasuk pengajar utama ikut dalam serangan bersama kelompok pendekar dari golongan putih dan hitam yang memburu manusia terkutuk namun digjaya itu.

Bukan hanya golongan putih yang membenci pendekar jahat yang juga salah satu dari 37 Kaisar Petarung, beberapa pendekar golongan hitam saat itu juga ikut memburu Merpati Pemetik Bunga. Kejahatan laki-laki yang selalu mengenakan topeng 2/3 wajah bertuliskan ‘kebaikan’ di keningnya itu juga menimpa beberapa dari keluarga para pendekar golongan hitam.

Tapi seharusnya laki-laki terkutuk itu ...
“Aku melihat sendiri dia terjatuh ke jurang. Terluka parah, dengan dua pedang menancap, memaku tubuhnya di jok mobil yang meledak di dasar jurang.”

“Begitu juga yang kulihat. Tapi ternyata dia tidak semati seperti yang kita harapkan.” Tuan Guru menarik nafas dalam. Sepertinya ia terpaksa turun kembali ke dunia persilatan.
Keduanya kini berpaling menatap Buang. Tanpa setahu Buang, Koh Rudi telah mengamati dan menilai sikap Buang. Juga ketika ia mengobati Buang dengan menggunakan akupuntur dan refleksi, Koh Rudi telah memeriksa kondisi tubuh Buang.

“Apakah Kamu memercayai aku, Buang.” Tanya Koh Rudi.

Buang mengangguk.

“Maukah Kamu mendapat kesempatan untuk hidup yang lebih baik, makanan dan pakaian yang layak. Juga kesempatan belajar dan sekolah ?”

Buang terkejut mendengar penawaran itu, ia mengangguk dengan sangat cepat. Jelas ia mau menerima kesempatan itu. Ia melirik Tuan Guru. Dugaannya laki-laki tua itu mencari pembantu.
Tuan Guru tertawa “Anak cerdas. Dia tahu dia akan ikut denganku.”

Koh Rudi tersenyum. Kedua laki-laki itu berdiri lalu bersalaman. Koh Rudi mendekati Buang. Laki-laki yang selalu tegar itu terlihat sedikit sendu wajahnya.

Hampir setahun Buang di dekatnya. Bila bukan karena kewajiban mencari calon murid untuk dididik oleh Tuan Guru, tentu ia dengan senang hati meminta Buang untuk menjadi anak angkatnya.

Buang mengikuti Tuan Guru, mereka keluar melalui pintu rahasia yang lain. Sejenak ia berpaling menatap laki-laki cina bertubuh tambun yang juga menatapnya. Lalu pintu menutup dan Tuan Guru membawanya melalui lorong sempit yang membuka ke sebuah ruangan berdebu. Mereka keluar dari ruangan yang ternyata bagian belakang dari sebuah bengkel mobil. Tuan Guru membawa Buang ke mobilnya. Mobil sedan keluaran 10 tahun silam. Terawat dengan baik, namun tidak akan menarik perhatian.

Perlahan mobil yang membawa keduanya keluar dari jalan kecil di pusat kota, lalu menggabungkan diri dengan keramaian lalu lintas.

(Bersambung)

Sort:  

Congratulations @dngaco! You have completed the following achievement on Steemit and have been rewarded with new badge(s) :

Award for the number of posts published

Click on the badge to view your Board of Honor.
If you no longer want to receive notifications, reply to this comment with the word STOP

To support your work, I also upvoted your post!

Do you like SteemitBoard's project? Then Vote for its witness and get one more award!

Makin asyik ini bang

Aamiin, doakan saya bisa menyelesaikan cerita ini hehehe


Postingan ini telah dibagikan pada kanal #Bahasa-Indonesia di Curation Collective Discord community, sebuah komunitas untuk kurator, dan akan di-upvote dan di-resteem oleh akun komunitas @C-Squared setelah direview secara manual.
This post was shared in the #Bahasa-Indonesia channel in the Curation Collective Discord community for curators, and upvoted and resteemed by the @c-squared community account after manual review.

Terima kasih sudah memberikan dukungannya.

Saya menanti kisah selanjutnya @dngaco!

Saleum

Siap mbak. Doakan lancar ide dan semangat 😊