Sesempat-sempatnya Meskipun Tidak Sempat Hendaknya Sempatkanlah Menulis Hal Positif Tentang Aceh di Setiap Kesempatan

in #writing3 years ago (edited)

Di malam ini aku tak dapat memejamkan mata terasa berat ingin hati terikat mimpi, owuoo.

Salam, sobat Steemians. Yang di sirini, yang di sarana, di marana-mana. Sebelum melangkah lebih jauh, mari sama-sama kita mengheningkan cipta sejenak.

Untuk dunia yang hari ini dipenuhi dengan pemanasan global. Untuk kegaduhan di medsos akibat isu nasionalisme sempit yang tidak mencerdaskan. Untuk kasih sayang semu pasangan alay di medsos yang bahkan melupakan kasih sayang orang tuanya.

Hening cipta dimulai.

Steemians. Kita tahu bersama, mungkin juga semua yang pernah belajar di SMA tahu bahwa uang adalah sesuatu yang berharga, bernilai, dan diakui sebagai alat pertukaran.

Zaman dahulu orang menjadikan komoditi sebagai alat tukar menukar (baca: barter). Di abad pertengahan, lada dan rempah lainnya dari negara tropis diekspor besar-besaran sehingga disebutlah sebagai "emas dari nusantara" pada masanya.

Maklumlah, waktu musim dingin yang menusuk, tak ada pemanas. Makanan dan rempahlah menjadi cadangan energi bagi mereka.

Lalu kita mengenal pada masa itu negeri kita belum bersatu. Masih terpecah belah. Masing-masing berjuang untuk kepentingan kerajaan masing-masing. Sampai munculnya kesadaran untuk memperjuangkan nasib bersama.

Merdeka atau mati jadi semboyan. Luka Jepang di Hiroshima dan Nagasaki di tahun 1945 diperingati sebagai tragedi paling memilukan bangsa Jepang yang kemudian kembali bangkit dengan kedisiplinan dan pendidikan.

Tragedi bagi Jepang, berkah bagi nusantara. Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Meski terus mendapat ujian sejumlah agresi militer dan dari meja perundingan ke meja perundingan, pada 27 Desember 1949 akhirnya Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar.

80 tahun berlalu, hari ini para pejabat terkait di Indonesia sedang mendiskusikan penggunaan cryptocurrency di Indonesia. Sepertinya, pembahasan akan berlangsung seputar regulasi untuk menjamin kejelasan identitas para pemegang "virtual account" dalam transaksi mata uang virtual. Hal ini sepintas terkesan dari beberapa penjelasan pihak Bitcoin Indonesia di sejumlah media nasional.

Lalu ada sosok tokoh nasional yang belum lama ini membahas intisari dari sebuah novel berjudul Ghost Fleet, yang mengimajinasikan akan ada penurunan kasta bagi Indonesia pada tahun 2030. Ada seorang penulis yang berpikir positif bahwa ujaran tersebut adalah agar selayaknya kita lebih waspada.

Perlu meneliti kebiasaan generasi milenial saat ini. Di zaman yang mulai tak tertebak lagi di mana orang mulai beradaptasi dengan cara-cara baru.

Beberapa tahun lalu kita menyaksikan orang berbicara sendiri sepuluh meter jaraknya dari kita, kita sudah langsung menduga dia penghuni jalan kakap (nama sebuah jalan dekat rumah saya yang dikenal dengan sebuah rumah sakit rehabilitasi mental milik negara). Sekarang, jika kita menyaksikan orang berbicara sendiri maka bisa dipastikan ia adalah penghuni jalan kalap (maksudnya kalap keranjingan berkomunikasi via gadget).

Demikianlah Steemians, laporan pandangan mata dari saya. Apa ada yang lucu boleh tertawa. Apa yang salah dan kurang baik datangnya dari saya. Apa yang baik tentunya datang dari Yang Maha Kuasa.

Tetap sehat, tetap semangat, supaya kita tetap bisa jalan-jalan dan makan-makan bersama wisata kuliner.

Pokoknya jangan. Maksudnya jangan lupa datang-datang ke Aceh yaa. (:

Sort:  

Sabah, terima kasih Bang Hayatullah Pasee. (:

Hai, helo @azharpenulis! Kami sudah upvote ya..

Boleh minta gabung untuk jadi kawan steemit ???
Kalau bole di tunggu apvote n follow nya ya..

Salam juga.
Postingan yang menambah ilmu.
Follback ya.

Wah terima kasih sekali Dek @latifhanum. Semangat terus berekspresi dalam karya. (:

Hallo, hai @azharpenulis! Kami sudah upvote..

Sodorin timba buat Bang Rully, hehehe.

Kami upvote.. ;]

Kami sudah upvote yah..