Antara UFO, VAR, Blockchain dan Era Baru Konsumen Digital

in #writing3 years ago (edited)

Diskusi English Club hari itu berlangsung begitu seru. Amru "Mr. Senin Selasa" sang "manajer" yang mengatur jadwal kelompok menjelaskan kepada anggota yang baru bergabung "aturan main" diskusi.

Kami dibagi menjadi tiga kelompok pada tiga meja yang saling berhadapan di sebuah warung kopi. Masing-masing dibagikan artikel bacaan dalam bahasa Inggris. Setelah membaca artikel tersebut, kami masing-masing diminta memberi tanggapan.

Tema hari itu agak istimewa. Kami mendiskusikan apakah dimungkinkan adanya keberadaan makhluk lain di luar angkasa dan kira-kira apa yang terjadi pada umat manusia bila manusia luar angkasa benar-benar ada?

Beragam jawaban muncul, baik yang bersumber dari ulasan dalam artikel tersebut maupun dari pendapat pribadi kami.

Saya pribadi menduga manusia (baca: penduduk bumi) akan terguncang. Manusia akan merasa sangat frustasi apabila mengetahui ternyata ada makhluk lain yang tidak pernah mereka yakini yang mungkin lebih cerdas dari mereka. Setidaknya, menurut imajinasi saya.

Imajinasi ini tidak punya sandaran ilmiah, sebagaimana makhluk luar angkasa sendiri yang belum diketahui keberadaannya. Fantasi ini hanya berdasarkan sebuah cerita komik Casper & Friends.

Dalam komik itu diceritakan sekelompok makhluk luar angkasa yang berukuran sangat kecil yang merasa frustasi setelah mengenal manusia (bumi) lalu mengganggu dan menakut-nakuti para manusia penghuni Rumah Bahagia sebagai ekspresi keputusasaannya.

Kembali ke bahasan, diskusi hari itu benar-benar membuka pikiran saya. Saya mulai berpikir, mungkin saja ada hal-hal yang selama ini tidak pernah kita sadari yang mungkin saja akan terjadi.

Para ilmuwan futuris seperti Alvin Toefler telah memperkirakan kemajuan teknologi dapat meningkatkan pemesanan barang sehingga akan dibutuhkan kapal pengangkut barang dalam jumlah besar. Hari ini, fenomena belanja daring alias online mewujudkan ramalan tersebut.

Stephen Hawking memperkirakan manusia akan terus terdesak mencari tempat tinggal baru di luar planet bumi. Hal ini, menurutnya, dimungkinkan karena laju pertumbuhan manusia terus meningkat.

Salah satu fenomena baru lainnya adalah penggunaan Teknologi Video Assistant Referee (VAR) dalam sepakbola misalnya. Meskipun teknologi ini sempat ditentang oleh mantan wasit profesional asal Italia Pierluigi Colina karena dianggap akan menjauhkan sepakbola dari unsur humanis (tidak memanusiakan manusia), toh ide ini terus bergulir di sejumlah kompetisi di Eropa dan sudah akan digunakan dalam gelaran Piala Dunia 2018 nanti.

Lalu ada Blockchain sebagai mata uang cryptocurrency. Uang virtual ini juga menjadi fenomena yang hangat diperbincangkan bahkan Bloomberg TV sempat mengangkat sebuah topik diskusi hangat mengenai "emas baru" Bitcoin.

Lantaran latar belakang pendidikan saya di bidang ekonomi, tentu ingin tahu juga seputar per-Bitcoin-an ini. Sst, jangan bilang-bilang, padahal motivasinya SBD juga. (Lawak sedikit, jangan tersungging eh tersinggung, ya)

Bagi kamu yang tertarik dengan isu ini bisa mengunjungi laman rekan Steemians saya, Muhammad Iqbal @iqbalsweden yang cukup mendalami dunia per-Bitcoin-an ini.

Memanglah sekarang zaman digital. Banyak sekali perilaku orang berubah. Dulu anak kecil seperti saya (waktu saya masih kecil maksudnya) membaca Majalah Bobo dan Album Walt Disney. Nunggu abang loper koran mengantarkannya setiap hari Minggu.

Sementara kalau sekarang, anak-anak dikasih HP alias handphone atau tablet tapi bukan obat waktu sakit demam. (Komedian Apa Lambak mode: on)

Kita kembali ke laptop. Kata Om Hermawan Kartajaya, ada empat karakter konsumen digital yang wajib kita ketahui:

  1. Snab, yaitu konsumen yang sangat pemilih dan mementingkan status sosial. Yang penting merek mewah, apalagi impor. Nggak apa-apa sih, kalau kamu memang punya materi berlebih. Asal jangan lupa zakat, infak dan sedekah, juga menjauhkan diri dari segala kerugian negara alias k.o.r.u.p.s.i.
  2. Smart, yaitu konsumen yang mementingkan nilai-nilai (value) yang diperolehnya dari suatu produk/layanan. Biasanya konsumen kayak gini cocok banget dijadikan pasangan. Soalnya dia tahu kamu yang paling bernilai buat dia (entah hapa-hapa saya tulis ini).
  3. Dumb, yaitu konsumen yang hanya mementingkan harga murah, yang lain dia nggak peduli. Pokoknya kalau diskon pasti sampe lupa daratan. Lupa waktu berangkatnya ke situ harus naik bus 1 hari 1 malam non-stop jadi sama saja nggak ada diskon, huaa!! (nangis sampai Papua).
  4. Entrepreneur, yaitu konsumen yang memanfaatkan informasi dunia digital untuk meningkatkan nilai tambah (value added) dalam kegiatan usaha. Semoga para Steemians di sini menjadi wirausaha sukses dan berkah semua. Aamiin.

Itulah, teman. Sekedar berbagi malam ini. Ini curhat apa berbagi, ya?

Saya akhiri dengan sebuah hadih maja (peribahasa) yang saya karang sendiri:
Bek beungeh-beungeh meunye na nyang teupeh.
Hana beungeh sampo akhirat njan, geutanyoe mandum meusyedara.

Bijak mode: on. Hitung uban mode: of. :D

501922068.jpg
sumber

Sort:  

Saya konsumen digital 2 dan 4 hahaha

Ahaa, berarti malaikat mengaminkan doa nomor empat buat kakak di sepertiga malam ini.