Belajar di Negeri Sultan
Dahi Hasbullah terlihat mulai mengeluarkan keringat, kedua tangannya sedang menyusun cangkul di bawah gubuknya. Lalu, ia menuju ke pohon kakao, satu persatu buahnya di petik dan dimasukkan ke dalam karung. Setelah karungnya penuh, ia mulai beristirahat di gubuk kecilnya. Sambil bersandar, Hasbullah membersihkan keringat di dahinya dengan tangan kanan.
“Karena ini bulan puasa, kita tidak bisa paksakan kerjanya,” ujar Hasbullah kepada saya sambil membersihkan keringat di dahinya dengan sapu tangan.
Dua puluh menit berselang, ia menuju ke sisi samping kanan gubuknya. Hasbullah mengambil tiga puluh bibit sawit yang telah disemainya tiga bulan lalu dengan memakai keranjang, lalu ia bawa ke lobang yang telah digalinya. Tidak lama kemudian, ia kembali ke gubuknya.
“Setelah masa panen kakao habis, nanti bisa dilanjutkan dengan panen sawit lagi,” kata Hasbullah sambil tersenyum. Ia merupakan, salah seorang bekas pemain geude-geudeu asal Gampoeng Mulieng, Kabupaten Pidie Jaya.
Geudeu-geude adalah permainan tradisional khas masyarakat dari Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya. Bahkan, pada masa kerajaan dulu, tradisi permainan itu dijadikan sebagai piasan (hiburan-red) para raja-raja.
Hasbullah telah menjadi petarung geudeu-geudeu sejak usianya masih tujuh tahun atau masih sekolah di bangku SD. Kala itu, jika seorang lelaki tidak bermain geudeu-geudeu tidak dinamakan laki-laki. Intinya, kalau dulu bisa geudeu-geudeu baru dinamakan laki sejati laki sejati, kata dia.
Konflik yang melanda Aceh puluhan silam telah membuat dirinya hijrah ke luar Aceh untuk menggais rezeki dan menyelamatkan diri.
“Tahun 1989, saya sudah keluar di Aceh untuk mencari rezeki di luar daerah karena saat itu Aceh sedang dilanda konflik,” kata dia.
Hasbullah kembali ke Aceh akhir 2005 lalu, sepulangnya dari perantauan, ia sudah jarang melihat tradisi permainan geudeu-geude diadakan di kampungnya, padahal lebih dari dua kali musim panen selesai dilaksanakan.
Baginya, geudeu-geudeu adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidupnya. Meski sudah berumur hampir lima tahun, ia masih siap untuk bertarung lagi pada arena keras itu.
“Sekarang, jarang sekali saya melihat geude-geude lagi. Dulu di kampung saya, setelah masa panen tiba, permainan itu sering digelar,” katanya.
Hasbullah menyebutkan bahwa, di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, dulunya geudeu-geudeu sering digelar oleh berbagai kampung. “Yang mengikutinya dari berbagai golongan, ada dari anak-anak, remaja dan dewasa serta kalangan orang tua,” kenangnya.
Ia mengaku sedih melihat tradisi permainan itu sudah mulai pudar dari masyarakat di kampungnya. Salah-satu penyebab mulai punahnya tradisi geude-geudeu akibat masuknya permainan modern ke wilayahnya.
Saat ini, anak-anak hanya menghabiskan waktu pada permainan yang tidak bermanfaat.
“Antara permainan sekarang dan zaman dulu sangat jauh berbeda. Kalau sekarang, jika sudah bermain itu kesan tidak tau malam dan siang lagi. Namun, kalau permainan di masa lalu itu hanya dilakukan pada waktu tertentu,” jelas Hasbullah.
Hal serupa juga dibenarkan pengamat hukum adat dan budaya Aceh Teuku Muttaqin. Saat ini, tradisi geudeu-geudeu memang sudah jarang dimainkan karena faktor konflik Aceh yang berkepanjangan. Bahkan, selama konflik melanda, banyak budaya Aceh yang terkikis.
Sebelum tahun 1990, ada beberapa kabupaten di Aceh geudeu-geude sering dimainkan, mulai dari kalangan anak-anak, kalangan muda hingga orang tua. “Misalnya, di Kabupaten Pidie, sekitar 90-han ke bawah, hampir semua gampong ada pertunjukan geudeu-geudeu.
Ketika itu, tujuan permainan tersebut untuk menguji kekuatan dan ketangkasan anak laki-laki, serta membina tali silaturahmi antar masyarakat baik tingkat gampong, kemukiman dan kabupaten. Ini juga sangat sesuai dengan hadih maja yang sering di ucapkan wasit saat memimpin pertandingan, Cok saboh peulheuh saboh, Bek tameu poh-poh tanyoe saboh ma (Kita jangan saling memukul namun mengutamakan kekeluargaan-red).
“Biasanya yang menjadi petarung dalam geudeu-geudeu itu adalah berbadan tegap, tidak sakit dan kuat,” kata dosen Fakultas Hukum Unsyiah ini.
Dia juga menambahkan, pada tataran gampong dan kemukiman, petarung yang memenangkan dalam permainan itu tidak diberikan hadiah, melainkan si pemenang diapresiasi sebagai orang yang terkuat.
“Bagi petarung, kepuasan itu lebih berharga dibandingkan hadiah. Apalagi si pemenang memiliki gah sebagai ureung teuga (kekuatan besar-red),” ujar kandidat doktor hukum adat UKM ini.
Sarana Perekrutan Pasukan Kerajaan
Pada masa kerajaan, selain dijadikan sebagai piasan, permainan geudeu-geude juga sarana perekrutan panglima dan prajurit kerajaan.
“Ini sangat beralasan, karena pada petarung ada dua kubu. Satu kubu sebagai pemukul, satu lagi sebagai penyergap,” kata Muttaqin.
Dia menjelaskan, jika petarung sebagai pemukul berhasil memenangkan pertandingan maka akan diberikan jabatan sebagai panglima perang. Sedangkan bagi petarung sebagai penyergap, jika mereka berhasil mengalah si pemukul maka ia layak dijadikan sebagai prajurit.
“Permainan ini menjadi barometer untuk menjadi pasukan di kerajaan,” kata dia.
Sistem permainannya
Hasbullah menjelaskan, sebelum petarung bermain, biasanya mereka terlebih dahulu diundi untuk memilih lawan tanding sesuai dengan kelasnya. Untuk kalangan anak-anak, juri tanding akan mengadukan sesamanya. Begitu juga dengan remaja dan dewasa, mereka akan diadu sesamanya. Jika ada remaja yang ingin menguji kekuatan orang tua juga tidak dilarang.
“Yang jelas ada, aturannya yang akan dipertandingkan sesuai dengan kelasnya masing-masing,” kata dia.
Hasbullah menjelaskan, dalam permainan geude-geude itu ada dinamakan sebagai ureung pok (penyergap-red) dan ureung tueng (orang pemukul -red). Lazimnya, dulu masyarakat di kawasannya menggunakan lokasi persawahan dan bibir pantai sebagai arena bertanding.
“Kalau setelah panen kan sudah ada jerami, jadi jerami itu diatur sebagai arena bertanding. Tujuannya agar para petarung tidak cedera. Biasanya itu dimainkan pada musim kemarau dan purnama,” kata dia.
Walau geudeu-geude termasuk olahraga keras, kata Hasbullah, para pemain tidak dibenarkan untuk memukul di kepala dan mematahkan tangan kawan lawan.
“Kalau kata guru saya dulu, geudeu-geude melatih kita teknik menyergab, memukul dan kesabaran,” lanjut Hasbullah.
Seiring perkembangan zaman, kini permainan itu sudah nyaris ditelan bumi karena sudah tidak sering diadakan lagi serta dipengaruhi oleh banyaknya masuk permainan asing ke Aceh.
Hasbullah menduga, bila pemerintah tidak melestarikan piasan raja ini ditakutkan ke depan anak-anak di Aceh tidak tidak akan mengenal lagi.
“Sekarang aja, kalau ditanya kepada anak-anak yang berumur delapan tahun, mereka tidak tau lagi. Bayangkan kalau sepuluh tahun lagi ini tidak dilestarikan,” kata dia
Karena itu, Hasbullah berharap agar pemerintah baik di tingkat kabupaten maupun kota harus segera melestarikannya sehingga piasan raja akan tetap dikenang. Lain halnya dengan Muttaqin. Menurut dia, banyak sekali peninggalan dan permainan rakyat di Aceh sudah mulai hilang dalam kehidupan masyarakat Aceh. Jika ini tidak segera diantisipasi dan dilestarikan sebagai warisan budaya yang tiada nilai harganya, ia khawatir ke depan, Aceh yang kaya akan segalanya, termasuk peradabannya juga akan hilang.
“Dengan adanya pelestarian, semoga masa-masa keemasan kerajaan Aceh masa lalu akan tetap dikenang dan dijadikan pelajaran bagi anak cucu kita,” demikian dosen hukum adat ini.