The World is Full of Contradiction (Chapter 1)

in #story4 years ago

Chapter 1 : 《Perang dan Masa Lalu》

Tahun 2025 terjadi perang dunia ketiga yang diawali oleh perselisihan beberapa negara yang tak kunjung usai. Perang dunia ketiga ini terus berjalut sampai sekarang dan telah menyebar ke seluruh dunia.

Diawali Korea Utara meluncurkan rudal kepada Amerika Serikat, perang menjadi meluas dengan bantuan negara sekutu Amerika kepada Korea Utara.

Pada tahun 2032 Sumber daya di negara yang berperang mulai habis, rakyat yang tidak berdaya akan hal ini berebutan mencuri makanan untuk bertahan hidup, bahkan sampai orang-orang membunuh siapa saja yang memegang makanan.

Ketika Sumber daya telah habis pada suatu negara yang berperang, orang-orang di negara tersebut dengan kegilaannya berpindah ke negara lain, membuat kekacauan dan membunuh orang-orang untuk mendapatkan makanan. Dan itu terus terjadi sampai membuat seluruh negara ikut terlibat dalam perang dunia ketiga ini.

Sekarang tahun 2040 dan perang dunia ketiga telah berganti menjadi perang dunia tiada akhir. Perang ini telah membunuh sekitar 4.5 miliar orang dan akan terus bertambah setiap harinya.

Orang-orang sudah tidak berpihak kepada negara manapun, mereka hanya terus membunuh manusia agar bisa terus bertahan hidup dengan membunuh lalu mengambil Sumber daya mereka. Bahkan ada orang yang memakan bangkai temannya sendiri demi bertahan hidup.

Kelaparan, kematian, dan pembunuhan adalah hal yang sudah biasa terjadi setiap harinya.

Sudah ada yang pernah mencoba untuk menghentikan perang ini dengan mengancam akan menggunakan nuklir jika perang ini terus berlanjut. Tapi itu gagal dan malah memperparah perang dengan orang tersebut dibunuh oleh orang tidak dikenal.

Tidak perlu menunggu kiamat agar bumi ini hancur karena perang ini.

Aku sekarang berumur 18 tahun, orang tuaku dibunuh tepat di depan mataku ketika aku berumur lima tahun.

Orang pertama yang kubunuh adalah orang yang telah membunuh ibuku dengan menembakkan pistol tepat kekepala orang tersebut.

Aku sama sekali tidak menyesal telah membunuh orang tersebut. Aku hanya marah kepada orang tersebut dan terus mencingcang tubuh orang tersebut dengan pedang yang diberikan ayahku sampai lumat.

Orang-orang yang berada di tempat itu ketakutan dan mencoba melarikan diri dariku. Saat itu aku tidak tahu mengapa mereka ingin melarikan diri dariku, Tapi sekarang aku telah sadar mengapa mereka bereaksi seperti itu kepadaku.

Setelah itu aku melarikan diri dari tempat itu dengan membawa pedang yang diberikan ayahku dan membawa senjata orang yang telah membunuh ibuku. Senjata itu adalah sebuah sniper dengan tipe Tac-50.

Aku terus berjalan tanpa tujuan dan terus membunuh orang yang mencoba menjadikanku prajurit negara.

Saat itu aku berumur 7 tahun dan tiba di sebuah desa yang telah hancur. Aku masuk kedalam rumah-rumah dan mencari makanan yang bisa dimakan.

Saat aku sedang mencari makanan, terdengar teriakan dari seorang gadis kecil. Mendengarnya, Entah mengapa tubuhku bergerak dengan sendirinya, meninggalkan sniperku di dapur dan membawa pedang yang terus menggantung di punggungku.

Aku datang ke sumber suara dan melihat seorang gadis kecil berumur 6 tahun wajahnya yang manis dengan rambut emas yang dikepang panjang sedang diikat oleh seorang tentara dari negara china.
Aku melesat menuju orang tersebut sambil mengayunkan pedangku dan merobek badannya hingga terbelah dua dengan mudahnya.

Melihatku dengan mudah membunuh orang tersebut, gadis kecil di depanku ketakukan dan terus menangis. Selagi dia menangis, aku membuka ikatannya dan dia langsung jatuh dari kursinya dengan tubuh lemas lalu pingsan.

Karena aku sudah terbiasa membawa beban yang sangat berat, aku membawa gadis kecil itu tanpa kesulitan dengan menggendongnya di punggungku.

Aku membawa gadis kecil itu menuju rumah tadi aku mencari makanan dan menurunkannya di sebuah sofa yang menurutku masih bisa dipakai untuk membaringkan gadis kecil seperti dia.

Setelah menurunkan gadis kecil itu di sofa, aku langsung mengambil kembali sniperku yang kutinggalkan di dapur sambil kembali melanjutkan mencari makanan.

Setelah dua jam, gadis kecil itu sadar dan langsung melihatku yang sedang makan makanan kaleng di depannya.

Gadis kecil itu kembali ketakukan setelah melihatku sambil menggumamkan sesuatu.

“Tolong jangan bunuh aku!, Tolong jangan bunuh aku!”

dia terus menggumamkan itu sampai aku mengeluarkan suaraku untuk pertama kalinya kepada gadis kecil itu dengan senyuman ramah.

“Aku tidak akan membunuhmu, tenang saja ya.”

Melihatku mengeluarkan senyuman ramah, gadis kecil yang tadinya sangat ketakutan kini mulai mereda sedikit demi sedikit.

Setelah gadis kecil itu mulai tenang, aku menanyakan namanya.

“Namamu siapa?”

Kemudian gadis kecil itu menjawab dengan suara yang hampir tidak terdengar olehku.

“A~Arisha, Arisha Mounira.”

mendengar jawaban yang hampir tidak terdengar olehku, kemudian aku juga memperkenalkan diriku.
“aku Kai Elvan, salam kenal.”

Setelah berkenalan, aku memberinya makanan kaleng yang kutemukan dan dia menerimanya lalu memakannya dengan rakus.

Lalu aku dan dia tinggal disana selama seminggu sambil mengajarkannya cara menggunakan senjata. Tapi dia lebih tertarik menggunakan sniper sama halnya denganku.

“Baiklah, kalau begitu aku akan pergi.”

Mengatakan itu, aku berjalan keluar desa, tapi Arisha terus mengikutiku dengan wajah sedih.

“haah.... Kenapa kau mengikutiku.”

Arisha menjawab dengan nada pelan.

“Arisha...Tidak...Tahu...Arisha...Ingin...Ikut...Kai...”

Karena dia bilang dia ingin ikut denganku, aku terpaksa menuruti keinginannya dan dia terus mengikutiku sampai hari ini.

Sekarang dia adalah patnerku yang selalu menemaniku selama 11 tahun ini. Karena grup kami hanya beranggotakan dua orang, Sumber Daya kami selalu cukup untuk kami berdua.

Hari ini kami sedang mengintai kelompok yang bernama The Tigers yang beranggotakan 20 orang dan memiliki Sumber daya yang sangat berlimpah.

Aku heran dari mana mereka bisa dapat Sumber daya itu, bahkan kelompok besar pun juga tidak memiliki Sumber daya yang sangat besar seperti mereka.

Aku menemukan tempat ini setelah mengintrogasi 9 orang yang akan membunuhku dan Arisha. Awalnya aku tidak percaya, tapi setelah melihat raut wajah mereka aku yakin mereka tidak berbohong akan hal itu. Tapi tentu saja aku sedikit khawatir tentang ini karena entah mengapa penjagaan disini sangat banyak sekali kecacatan, ini tidak seperti gaya mereka, seolah ada seseorang yang sedang mengendalikan mereka.

Aku saat ini sedang bersembunyi di reruntuhan bersama dengan Arisha. Reruntuhan ini berjarak 1.5 Km dari tempat kelompok The Tigers.

Menempatkan Sniperku di atap reruntuhan gedung berlantai 6. Aku telungkup dan membenamkan mata kananku di scope, dan menempatkan jariku di pelatuk yang siap kutarik kapan saja.

Aku melihat ada 2 orang yang sedang berjaga di depan pintu masuk, 1 orang sedang berjaga di gerbang barat, dan terakhir 1 orang yang sedang berjaga di gerbang timur.

Angin bertiup ke kanan dengan kecepatan 2.5m/ detik, kelembaban 5%. Ketika persiapan siap, aku menarik pelatuk kepada orang yang tidak diperhatikan oleh rekannya.

Dengan kecepatan luar biasa peluru menembus dahi targetku dengan sempurna.

Tangan kananku bergerak otomatis menarik baut pegangan L115A3 AWM. Dengan suara logam, kerangka peluru dikeluarkan.

Aku sekali lagi membidik dua orang yang sedang berjalan mendekat satu sama lain. Dengan prediksiku, dua orang itu akan sejajar dalam waktu 10 detik.

987654321~~0

Aku sekali lagi menarik pelatuk dan kedua orang tersebut mati dengan mudahnya setelah kedua kepala orang itu tertembus peluru dari sniperku.

Sesuai rencana, Orang terakhir yang berjaga menyadari kalau rekan-rekan telah mati dan langsung akan melapor. Tapi orang tersebut langsung tertembak oleh Arisha yang sudah berjaga di sebelahku.

Orang-orang di dalam gedung persembunyian The Tigers menyadari ada suara keras dari luar.

15 orang keluar dari dalam gedung membawa senjata Ak-47. tapi 5 diantara mereka hanya diam di pintu masuk dan 10 diantaranya berlari kemari sambil menyiapkan senjata mereka.

“Sesuai rencana," gumamku dengan senyum kecut

Di jalan 1 Km menuju gedung yang kami gunakan telah Arisha beri hadiah kembang api raksasa.
Mereka mulai mendekat ke arah ranjau dengan jarak 400m, 300m, 200m, 100m, 10m. akhirnya salah satu orang berlari paling depan menginjak kembang api tersebut dan Duarrr terlihat ledakan besar yang menyelimuti area tersebut.

Menggerakan sniperku kearah 5 orang yang berjaga dipintu masuk. mereka disana kaget melihat ledakan tersebut yang jaraknya 500m dari tempat mereka berdiri. Setelah beberapa saat ragu, mereka berlari menuju arah kita dengan tembakan yang membabi buta.

Aku dan Arisha sudah memprediksikan ini, jadi kami berdua menyiapkan gelombang kedua untuk ledakan.

Karena kami tidak tahu kapan mereka akan bereaksi terhadap ledakan itu, kami tidak menggunakan bom waktu ataupun ranjau untuk meledakan mereka, tapi kami menggunakan alat pemicu untuk meledakan bom.

3....2....1....0 duarrrr

Terdengar ledakan kedua setelah kelima orang tersebut memasuki area ledakan.

memastikan mereka semua mati, aku dan Arisha yang berada di sampingku segera menggendong sniper ke punggung, menyiapkan pistol lalu turun dari gedung dan menuju tempat persembunyian The Tigers.

“Arisha, ayo.”

“Hm…”

Sebuah gudang besar yang sudah rapuh dengan luas 100m2 terlihat di depan mata kami. Aku dan Arisha yang melihat ini segera meningkatkan penjagaan kami dan berjalan perlahan sambil menodongkan pistol kearah depan. Setelah memastikan aman, kami berjalan menuju pintu masuk yang tingginya 3m.

Kami masuk ke dalam gedung sembari menodongkan pistol kesana kemari dengan kewaspadaan yang sangat ditingkatkan. Ini karena aku dan Arisha rasa mereka bersekutu dengan kelompok lain untuk mendapatkan sumber daya, jadi kami tidak boleh lengah.

Kami berdua berlarian di gedung dan menemukan sebongkah stok makanan yang luar biasa banyak. Disini ada banyak sekali daging, makanan kaleng, roti, dan mungkin sekitar 40 liter air. Menurutku semua makanan ini ini terlalu banyak untuk 20 orang.

Aku dan Arisha bertukar pandang setelah melihat ini. aku heran, darimana mereka bisa membuat Stok makanan yang sangat berlimpah ini, jika aku totalkan, mungkin ini bisa untuk 3 bulan penuh jika mereka menghemat makanan. Aku saja tidak pernah menumpuk stok makanan sebanyak ini, jika kami berdua kelebihan stok makanan, kami akan memberikannya kepada orang-orang yang membutuhkan, tapi yang pasti secara sembunyi-sembunyi, karena jika kami memberikannya secara terang-terangan, kami pasti sudah dibunuh.

“Kai, Kai, KAI!!!”

Mendengar teriakan Arisha, aku kembali sadar dari lamunanku dan aku ingat kalau aku harus segera mengambil truk untuk ini. Setelah sadar dari lamunanku, aku pergi keluar mengambil truk untuk membawa semua makanan ini.

Setelah truk yang kukendarai sampai di tempat persembunyian The Tigers. Aku turun dari truk lalu masuk ke dalam gedung lagi dan aku melihat Arisha menemukan seorang gadis berumur 15 tahun dengan rambut putihnya yang indah serta wajahnya yang sangat cantik.

Melihat ini, aku berlari menuju Arisha dan menanyakan tentang gadis ini.

“Arisha, ini?”Arisha menjawab dengan kebingungan.

“Aku sedang mencari amunisi dan menemukan dia sedang diikat di dalam ruangan yang berada di ujung.”

Aku melihat wajahnya lebih teliti lagi dan menemukan keanehan pada telinganya.

Telinganya runcing???

Itu adalah telinga seorang elf yang aku baca di buku-buku.

Tapi itu hanyalah sebuah dongeng jadul dari eropa yang tidak ada kenyataannya sama sekali, Tidak mungkin hal seperti elf, dwarf, atau hal-hal fantasy lainnya ada di dunia ini. Itu hanyalah dongeng belaka yang tidak ada kenyataannya sama sekali.

Mungkin dia hanyalah operasi plastik atau yang lainnya untuk membuat telinganya runcing seperti itu.

beberapa saat kemudian, orang yang memiliki telinga elf itu mulai membuka matanya. Matanya yang besar dan berwarna biru terlihat begitu indah dengan bulu matanya yang lentik. melihat kami berdua, gadis elf itu menangis dengan suara yang keras. Apakah dia ketakutan karena pakaian militer kami hampir sama dengan orang-orang itu ya.

Entah kenapa aku merasa ada perasaan nostalgia melihatnya menangis setelah diselamatkan.

Kemudian orang bertelinga elf itu menggumamkan sesuatu dengan wajah tersenyum indah.

“**** *****”

Itu bahasa yang kami tidak berdua mengerti, Dan anehnya lagi itu adalah bahasa yang sama sekali belum pernah aku dengar.

Kami berdua bertukar pandang dan Arisha menaikan bahunya.

Aku sudah berkeliling dunia selama perang ini dan mendengar banyak bahasa, tapi aku belum pernah mendengar bahasa yang satu ini.

Aku jadi berfikir kalau gadis itu benar-benar seorang elf.

Aku segera membuang pikiran aneh tentang itu dan segera berpikir bagaimana untuk menenangkannya.

Segera aku berpikir seperti itu, tangan Arisha mengelus-elus kepala gadis itu dengan lembut. Aku pikir itu tidak akan berguna, tapi kini emosinya mulai menjadi tenang setelah kepalanya dielus-elus oleh Arisha.

Setelah gadis itu tenang, tiba-tiba terdengar suara ledakan dan getaran yang hebat dari gedung ini.

Aku segera menyadari ini adalah sebuah jebakan untuk memancing kita berdua masuk kedalam gedung ini yang sudah dipasangi oleh bomb.

“Sialan, orang-orang itu!, menjebak kami dengan sebuah sandera.”

Terdengar suara orang bersorak dari luar gedung.

“Yeahhh....!!! Kita akhirnya membunuh dua iblis.”

“HORAA.....”

Aku yang menyadari ini dan segera mengambil tangan Arisha beserta gadis telinga elf itu lalu berlari sekuat tenaga dengan beban yang sangat berat dari sniperku.

Tapi kami bertiga terlambat, ledakan ini sangat cepat dan membuat kita bertiga terkena ledakan ini dan terhempas dengan rasa sakit yang luar biasa.

Sort:  

Hallo @nightear.. Selamat gabung di Steemit! Suka jumpa anda di sini.. sudah upvote ya.. =]

Coin Marketplace

STEEM 0.22
TRX 0.06
JST 0.029
BTC 20980.34
ETH 1186.40
USDT 1.00
SBD 3.21