Hiraeth

in #story8 years ago (edited)

Lama tidak menulis di laman blogku sendiri, tidak berarti sudah abai. Hiraeth masih menjadi bagian penting bagiku. Merasa bersalah, karena lebih sering menulis di steemit akhir-akhir ini, padahal tumpukan draft tulisan setengah jadi untuk Hiraeth sudah lebih dari selusin.

Rasanya seperti mendefinisikan arti Guilty Pleasure. Steemit ini menyenangkan tapi juga diam-diam menyemai rasa bersalah.

Aku memang kembali menekuni menulis di Hiraeth, nama yang kuberikan untuk blogku. Setelah lama kehilangan masa jaya, ketika rajin menulis cerpen di berbagai majalah. Masa-masa jaya di tahun 90'an hingga awal milenium baru. Saat itu memang masa jaya majalah remaja dan cerpen. Kawanku, Aneka, Anita Cemerlang, dan tentu saja majalah dengan ukuran seperti buku absen di sekolah, Ceria.

b3-2013-09-04-terbitan-berkala-majalah-ceria-remaja-1994-1999.jpg
sumber gambar

Berkenalan dengan teman-teman dari GIB -- Gam Inong Blogger -- beberapa tahun lalu, membuatku menulis lagi. Saat itu, aku menamai ulang blogku dengan Hiraeth.

hiraeth (n.) a homesickness for a home which you can not return, a home which maybe never was; the nostalgia, the yearning, the grief for the lost places of your past

Nama itu kusematkan bukan tanpa sebab. Aku sering bercanda mengutip kalimat yang pernah kubaca dari sebuah buku (lupa judul dan penulisnya). "Sekeping puzzle yang bentuknya tepat, tapi warnanya salah."

Mungkin bagi sebagian orang itu ungkapan biasa. Dikutip entah dari mana. Bagian dari drama.

Bagiku, itu deskripsi yang (secara ironis) tepat. Always be part of the pack, but never exactly fit. Never less than outsider.

IMG_20180223_114714-01.jpeg
Tahun 2005, Radio VISI FM, Banda Aceh

Sejauh yang bisa kuingat. Dunia pergaulan sejak kanak-kanak selalu berputar antara menjadi bagian kelompok atau terkucilkan. Ngegenk dengan sesama anak-anak di lorong tempat tinggal, kelompok saat SMP (lalu SMA, dan Kuliah), masa-masa jadi penyiar radio, di komunitas menulis, bahkan sekarang di beberapa komunitas di tempat tinggalku.

Selalu ada jarak. Dulu di radio, ketika yang lain ngumpul-ngumpul di luar jam siaran, aku harus bekerja. Jadinya tidak terlalu akrab.
Dua radio begitu, yang ketiga selisih usia terlalu jauh.

Tempat lain. Kalau bukan soal umur, maka lingkar pertemanan yang membuat aku sebagai pendatang yang hanya bisa sekali dua muncul, selalu kehilangan momen. Tempat berikutnya, lost in translation. Bahasa bukan pemersatu.

Menyedihkan? Pernah rasanya begitu. Tapi pindah ke Takengon ternyata punya sisi lain yang sangat berharga. Memutuskan bekerja di rumah sembari menjadi Ayah Rumah Tangga, nyaris menutup seluruh ruang interaksi dengan orang lain.

Ketidak nyamanan dalam pergaulan, ternyata memang karena aku lebih nyaman dalam lingkungan kecil terbatas. Selama belasan tahun merasa itu salah, aku mencoba menulis ulang pola mental sebagai sosok yang gaul. Ternyata itu kesalahan total.

Hasilnya malah seperti menjalani kehidupan di atas panggung. Drama. Belajar membaca wajah orang lain, mengisi otak dengan wawasan agar punya bahan bicara, jadi manusia serba tahu, yang dengan cepat akan mundur teratur ketika suasana mulai tidak nyaman. Jadinya, ada tapi tidak benar-benar ada.

Lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga, lingkup kecil. Bebas jadi diri sendiri. Adalah berkah yang tak disangka. Pelan-pelan mulai lebih nyaman. Tidak ada pembuktian pada orang lain yang harus dikejar. Lakukan yang bisa dilakukan, dan menikmati apapun hasilny.

Selama tidak melanggar Agama, dan hukum serta budaya, jalani saja. Sekarang itu prinsip yang belakangan ini semakin kuat terbentuk. Lakukan yang baik, berusaha yang baik. Sudah, titik.

Ketika semua berbicara dalam bahasa lokal, dan aku yang belum paham hanya bisa membaca kata-kata dengan sebagian besar maknanya tak dimengerti, ya sudah. Bukan rasisme. Aku memang belum paham. Jadi mari kita cari kesibukan lain, sambil menunggu ada percakapan yang bisa dimengerti.

Masih sulit menahan lidah yang terbiasa otomatis merespon. Tapi salah satu misi tahun ini adalah berbicara seperlunya. Jangan sok pintar. Jelaskan bila ditanya, itupun seperlunya saja. Diam mendengarkan bukan dosa. Tak perlu mengejar penghargaan, toh pujian sering juga bentuk halus dari hinaan. Kalau dipuji, berterimakasih. Diacuhkan, biasa saja. Dicaci, membalasnya dengan cacian hanya merendahkan diri sendiri.

Hidup memang bukan drama korea, atau sinema Bollywood. Tapi juga tidak harus jadi sinetron Indonesia.

Walaupun tetap saja. Makna Hiraeth itu selalu akan cocok untukku. Selalu akan ada rasa rindu pada sebuah tempat yang sebenarnya tidak pernah ada.

Bingung? Sama.

Ah, ini tulisan meracau tengah malam. Meucawoe tak jelas. Bisa jadi sekadar menulis agar tak merusak pola yang sudah terbentuk, satu hari minimal satu tulisan.
Atau mengalihkan isi kepala dari beban yang sedang menekan.

Bahkan, mungkin semua yang kutulis ini hanya fiksi. Tidak benar. Hanya khayalan dan bagian sebuah naskah novel.

Lupakan saja.

IMG_20180223_193219.jpg

Sort:  

Hm, baru tau makna hiraeth itu dr sini.

Setiap org punya karakternya sendiri. Lakukan yg paling dirasa nyaman, krn dr situlah bahagia akan tercipta. 😊

Hehehe maknanya agak gimana gitu kaka ya 😅

Memori yg indah.. Senang sekali membacanya..

Wah, hehehe makasih bang. 😅

Aku justru menuai makna Hiraeth sebagai sesuatu yang menghadirkan rindu...

Bisa jadi. Tapi rindunya terarah pada sesuatu yg tak ada.

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.32
JST 0.083
BTC 60578.05
ETH 1558.21
USDT 1.00
SBD 0.50