Perempuan Berkendara di Indonesia: Lucu & Berbahaya |

in story •  2 months ago

doa sopir.jpg


Sore itu, istri saya yang sedang hamil ngidam martabak durian. Saya langsung mengambil motor dan menuju tempat penjualan martabak durian yang cukup dikenal di Lhokseumawe. Karena terburu-buru, saya lupa mengenakan helm. Lokasinya memang dekat, hanya tiga menit dari rumah. Tapi tiga meter naik motor pun seharusnya menggunakan helm sebab kita tidak pernah tahu kapan kecelakaan terjadi. Boleh jadi kita selalu berhati-hati, tetapi di jalanan banyak orang yang tidak berhati-hati.

Itulah yang saya alami. Di depan pedagang martabak durian, saya sudah menyalakan lampu waspada (sign) untuk berbelok meski jalanan sedang sunyi. Entah dari mana munculnya, sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak saya. Motor dan dan saya terpelanting di pinggir jalan. Seorang ibu muda langsung melabrak saya.
“Bapak gimana bawa motor, belok tidak menyalakan lampu sign,” katanya keras.

Saya bangkit dan berkata; “Ibu bilang tidak menyalakan lampu sign, kan? Coba lihat itu,” saya menunjuk sepeda motor yang masih rebah di pinggir jalan. Mesinnya masih menyala, lampu sign juga masih berkedip-kedip. Ibu muda dan cantik itu langsung terdiam. Orang-orang datang berkerumun. Biasanya datang menolong, tapi tak jarang menimbulkan masalah.

Saya memeriksa sekujur tubuh. Tangan saya terasa sakit, tulang rusuk juga. Darah mengucur dari betis saya. Kebetulan saya mengenakan celana pendek sampai lutut. Tapi ibu muda itu juga terluka. Saya katakan dengan santun, ibu itu mengebut dan tidak melihat saya yang sudah berada di pinggir jalan. Dia membantah tidak mengebut. “Kalau tidak mengebut, Ibu masih bisa kontrol dan tidak fatal begini.”

Singkatnya, kami berdamai karena sama-sama terluka dan motor kami pun rusak. Namun, suasana yang penuh persaudaraan itu hanya sekejap karena ternyata ibu muda nan cantik ini menelepon suaminya dan si suami datang bersama seorang pemuda berkaos oblong putih dan celana pendek. Kalimat pertamanya langsung membuatku marah: “Saya dari kepolisian. Ini Bapak yang salah.”

Saya tidak tahan untuk tidak menjawab dalam kalimat yang tinggi dan ketus; “Kamu dari kepolisian, datang dengan celana pendek dan kaos oblong begini, langsung salahin orang lain. Tanpa bukti dan saksi,” kalimat iu terdengar lebih ketus jika disampaikan secara langsung. Seorang kawan jurnalis yang datang kemudian memintaku pergi dan urusan ini dia yang selesaikan. Saya pergi dan polisi bercelana pendek dan berkaos oblong itu pun terdiam.

Itu bukan pengalaman satu-satunya. Kalau diingat-ingat, sekitar lima kali saya mengalami kecelakaan di jalan raya, empat di antaranya perempuan dan tiga dari perempuan itu menyeruduk dari belakang. Hanya Ibu muda itu yang menabrak dari depan.




Pengalaman demi pengalaman itu dan beberapa kejadian lain membuat saya trauma dengan perempuan yang mengendarai kendaraan, terutama motor. Tak salah jika ada pesan mural seorang sopir truk yang terdengar lucu: ”Ya Allah, jauhkanlah aku dari ibu-ibu pake motor yang lampu sennya ke kiri tapi beloknya ke kanan.”

Apakah pesan itu terdengar lucu atau berbahaya? Menurut saya, keduanya. Lucu sekaligus berbahaya. Cobalah lihat sebagian besar perempuan naik motor. Ketika sampai di tikungan atau ketika hampir tiba di tujuan, mereka menurunkan kaki padahal motor masih melaju. Entah untuk apa menurunkan kaki, mungkin kalau rem kurang berfungsi, mereka bisa menggunakan kedua kaki untuk menahan laju kendaraan.

Ada juga cerita seorang kawan tentang seorang ibu-ibu yang baru saja memiliki sepeda motor hasil kredit. Saat naik ke tanjakan, suara mesin motor terdengar berat dan motor baru itu sepeda tidak mampu menanjak.

“Dengan gigi satu, Bu!” pesan seorang anak muda yang kebetulan ada di sampingnya.

Si Ibu itu langsung menatap dengan penuh amarah: “Apa kau bilang? Gigi satu? Dengan gigi empat saja motor ini nggak sanggup naik, apalagi gigi satu!”






Badge_@ayi.png


follow_ayijufridar.gif

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Luar biasa postingannya bang @ayijufridar

Lucunya tuh disini bang @ayijufridar :D

Dari depan & belakang sudah, semoga tidak kejadian lagi dari samping. Amiin

·

Jangan sampailah dari depan, belakang, kanan, kiri, dan dari atas. Itu serangan umum namanya @ayuramona. Hehehehe...

Tunggu, jadi martabak duriannya beli di mana? Di Geudong kah? Nyan.

sedih, haru, dan hahaha..

Salam KSI
Irman Syah | @mpugondrong

Do'a pak supirnya bikin saya nggak bisa menahan tawa, saya selalu berharap semoga nanti ada peraturan dari pemerintah yang melarang perempuan berkendara di jalan😂

Setelah membacanya saya tertawa dan pikiran berjalan bahwa postingan @ayijufridar ini sangat bermanfaat dan benar, menyadari aku dan mungkin banyak orang. Saya suka dan memvotenya baik Terima kasih bang.