Mengapa, lalu karena..

in steempress •  14 days ago

“Tiap libur, kenapa mesti jalan?”.

Kaget dengan pertanyaan yang sebenarnya udah diharapkan dari beberapa tahun silam. Saking lamanya nunggu, akhirnya mengikhlaskan hati kalau pertanyaan itu gak akan pernah muncul. Malah bisa jadi terbersit di hati kalau si penanya itu kurang perhatian. Ehm. Padahal faktanya tahun ini ngetrip itu frekuensinya jauh lebih sedikit daripada tahun-tahun sebelumnya 😁

“Capek kerja senin sampe jumat” - jadi jawaban dari pertanyaan itu. Agak aneh sebenarnya, dan ini bukan jawaban yang harusnya keluar kali ini.


Seandainya pertanyaan “perhatian" pertama di atas muncul nanti, suatu hari, jawabannya pasti “ kenapa gak.” . Selesai di situ. Karena memang apa alasan untuk menolak ajakan jalan mengunjungi sebuah tempat jauh dari rutinitas selama ini.

Sesuai ekspektasi, akhirnya pertanyaan-pertanyaan “mengapa” lainnya muncul ke permukaan. Sebelnya - duh jujur amat ya 😁 -, ketika yang ditanya tidak bisa dijawab dengan kata “karena" saja. Harus ada embel-embel beribu alasan lainnya. Itupun harus yang logis pula, biar “mengapa” berikutnya gak muncul lagi.

Apakah semua pertanyaan “Mengapa”, harus direspon, ntah itu dengan “karena..” dan lain sebagainya?

Pasti ada kan yang gak bisa dijawab?? Ada aja lah biar aman dunia.

Kalau kata sang legend - gak usah lah ya ngetag namanya di postingan ini 😁 - , ketika suatu pertanyaan tidak dapat dijawab, ntah itu diselesaikan dengan pernyataan “ susah ngejelasinnya” , atau memang rada lamaan mikirnya, bisa jadi...otak terlalu lama mengkalkulasi apa yang mau dijawab. Gitu lah kira-kira.

Kita pasti punya banyak sekali alasan yang pengen disampaikan dengan kondisi seperti ini. Kondisi terdiam beberapa saat karena mikir jawaban yang tepat, sesuai dengan yang diharapkan penanya - atau setidaknya jawaban yang gak akan bikin kesel si penanya -, atau memang gak punya jawaban apapun. Ada kan?


Sebenarnya dari sekian baris susunan kalimat di atas, intinya pengen bilang kalau gak semua “ mengapa” bisa dijawab dengan “karena”. Gak perlu ada alasan-alasan lainnya kenapa tidak ada karena sebagai jawabannya. Udah gitu aja, terima aja.

Kenapa?

Karena cewek gak pernah salah. *Kabuurr

Abaikan judul yg memang g kepikiran apa yang lebih tepatnya 😂😂😂


Posted from my blog with SteemPress : http://www.rahmanovic27.com/2018/09/10/mengapa-lalu-karena/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!