Jati Diri Bahari Indonesia dalam Pernaskahan Nusantara dari Masa ke Masa

in steempress •  18 days ago


"Mua diang Bura diseddena lopimmu
Da’ mupettule, salili U mutuu
Kalau ada buih mendekat ke perahumu
Jangan kau bertanya kerena itulah rinduku"
Indonesia sebagai negara kepulauan dikelilingi oleh lautan dan samudra. Nenek moyang kita dari berbagai suku bangsa bahkan dikenal sebagai pelaut yang gagah berani. Cerita-cerita tentang kehebatan pelaut-pelaut kita banyak dikisahkan baik berupa naskah tulisan, lukisan maupun lisan (oral history) seperti puisi dan lagu.

Namun begitu tidak banyak suku bangsa di Indonesia yang memiliki tulisan dan tradisi tulis. Padahal tradisi tulis sangat penting keberadaannya sebagai sarana pengabadian buah pikiran, perasaan dan citra masa lampau dari suatu suku bangsa.

Suku-suku bangsa di Indonesia yang beruntung memiliki tradisi tulis adalah suku Bugis, Makassar di Sulawesi Selatan dan suku Mandar di Sulawesi Barat. Naskah-naskah atau lontara inilah yang menjadi warisan penting bagi generasi penerus bangsa.

Dalam Seminar Internasional Pernaskahan Nusantara di event tahunan Festival Naskah Nusantara IV, Kamis (20/9) di Auditorium Soekarman, Perpustakaan Nasional RI, Dr. Mukhlis PaEni, M.Pd memaparkan buah pikirannya.

Dr. Mukhlis PaEni, M.Pd, Sejarawan yang juga Antropolog


Dr. Mukhlis PaEni, M.Pd adalah seorang dosen di Fakultas Pasca Sarjana Program Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (sejak 1999-sekarang), yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Sensor Film Indonesia di tahun 2009-2012.
Jati diri bahari Indonesia dalam pernaskahan nusantara
Dr. Mukhlis PaEni, M.Pd (Doc: LontaraProject.com)

Sebagai seorang kelahiran Rappang, Sulawesi Selatan tanggal 7 Mei 1948 ini, beliau mengenal betul sejarah pernaskahan Sulawesi dan Indonesia pada umumnya. Beliau menyelesaikan sarjana sejarah di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1975. Wah... tahun itu saya baru balita tapi beliau sudah menyelesaikan sarjananya. Terus terang saya ikut merasa bangga sebagai sesama alumnus Fakultas Sastra dan Budaya, UGM, walau beda jauh angkatannya hehehe.

Bukan itu saja beliau juga mendapatkan gelar Doktor dalam bidang Antropologi Sosial melalui kerjasama University of Oslo, Norwegia dan Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang pada tahun 1983.

Menurut beliau tradisi tulis bagi suku bangsa di Sulawesi ini tidak dapat diketahui secara pasti mulai kapan adanya. Namun sebelum Islam masuk beberapa ahli berpendapat tradisi tulis ini sudah ada.

Kepemilikan naskah dari abad ke abad


Pada abad 15-17 naskah-naskah (lontara) yang ada berada di bawah kepemilikan istana kerajaan. Keberadaan lontara ini menjadi benda pustaka kerajaan karena memang hanya ditemukan di istana dan dimiliki oleh para bangsawan tinggi di pusat-pusat kerajaan.

Jati diri bahari Indonesia dalam pernaskahan nusantara

Dalam pengabadian lontara ini, pihak istana memiliki petugas khusus sebagai juru tulis yang secara resmi menulis dan mencatat berbagai kejadian dan peristiwa penting berbagai pengetahuan dan masalah sosial kemasyarakatan.

Karya-karya naskah yang dituliskan antara lain berupa catatan harian raja-raja, silsilah, ramalan-ramalan, petunjuk bercocok tanam, tata niaga, undang-undang pelayaran, ilmu persenjataan, taktik perang, persenjataan, dan masih banyak lagi.

Di abad 17-18 mulai terjadi runtuhnya tradisi besar. Munculnya kekuasaan-kekuasaan asing menjadi semacam degradasi kepemilikan tradisi besar. Naskah-naskah yang awalnya tersimpan rapi di istana dan hanya dimiliki oleh pihak istana dan intelektual kerajaan mulai tergantikan kepemilikannya seiring masuknya dominasi kekuasaan asing dan runtuhnya kekuasaan kerajaan.

Dan memasuki abad 19-20 sejak terjadinya ekspedisi penaklukan oleh kolonial Belanda terhadap kekuasaan tradisional dari kerajaan, maka mulai porak porandalah pusat-pusat kekuasaan kerajaan. Pada saat itulah terjadi degradasi kepemilikan naskah-naskah terjadi.

Jati diri bahari Indonesia dalam pernaskahan nusantara



Para keturunan bangsawan berangsur-angsur kehilangan kekuasaan, mulai dibukanya birokrasi kolonial memberikan kesempatan pada orang-orang yang berpendidikan menduduki jabatan pemerintahan, yang berakibat naskah-naskah berpindah tangan.

Orang-orang biasa dan bangsawan rendahan berebut untuk menjadi penyelamat benda-benda pustaka dari para bangsawan istana. Naskah yang menjadi pustaka berubah fungsinya menjadi benda pusaka yang wujudnya sebagai warisan.

Sejak saat itulah (abad 20an) naskah-naskah tersebut tidak lagi dibaca karena degradasi kepemilikannya. Naskah-naskah tersebut tersimpan dan terbungkus rapi, dan akan dikeluarkan sebagai properti benda keramat yang disucikan. Bukan lagi isinya yang penting tapi wujudnya yang disakralkan.

Upaya pelestarian naskah oleh negara


Sangat disayangkan apabila naskah-naskah yang seharusnya dapat dipelajari dan disebarkan kepada generasi penerus hanya menjadi benda pajangan belaka. Itulah sebabnya menjadi tugas pemerintah dan negara untuk melestarikan naskah-naskah tersebut.

  1. Perlindungan. Sebagai rekaman buah pikiran masa lampau, naskah-naskah tulis tersebut harus dilindungi keberadaannya, yaitu dengan melakukan tindakan perawatan atas naskah baik yang disimpan di tangan pribadi maupun yang tersimpan di berbagai perpustakaan. Untuk naskah yang berada di tangan pribadi, pihak pemerintah dapat melakukan negosiasi kepada pemiliknya agar mau menyerahkan naskah tersebut kepada pemerintah atau pemerintah membelinya agar dapat melindungi naskah tersebut dari kemusnahan.
  2. Pengembangan. Setelah naskah yang berhasil diselamatkan, diharapkan untuk segera dilakukan pengembangan baik berupa upaya pendiskripsian naskah dan pemotretan/perekaman naskah dalam bentuk micro film, micro reader ataupun dalam bentuk media digital lainnya.
  3. Pemanfaatan. Yaitu kegiatan yang terfokus pada isi/kandungan naskah yang perlu diinformasikan, ditransformasikan, disebarluaskan, di kaji untuk kepentingan dan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai khasanah kepustakaan.
  4. Pembinaan. Memberdayakan naskah sebagai sumber kreativitas dan mengaktualisasikan kandungan naskah dalam kehidupan sehari-hari.
Mari kita kembalikan naskah bahari kita sebagai pustaka bangsa dan bukan pusaka.
"Hanya bangsa yang dapat memetik pelajaran dari masa silam dan dapat mempergunakan pengalaman-pengalamannya dalam menghadapi masa depan, dapatlah bangsa itu menjadi bangsa yang besar."
Jati diri bahari Indonesia dalam pernaskahan nusantara

Jakarta, 30 September 2018

HQ

 


Posted from my blog with SteemPress : http://www.hiqudsstory.com/jati-diri-bahari-indonesia-dari-masa-ke-masa/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!