CerBung : Jembatan Takdir Part 01

in steempress •  10 days ago


Orang kaya, apa yang kalian pikirkan pertama kali tentang mereka? Pasti sebagian orang berpikir kalau mereka hidup senang, tak memikirkan hutang dan juga tak memikirkan beban hidup seperti orang biasa.


Persis seperti pemikiran seorang wanita bernama Aiza, wanita cantik, berhijab syar'i, dengan tinggi 158 Cm. Dia selalu berpikir kalau orang kaya seperti Hakim Andikusuma, tidak pernah memikirkan beban hidup seperti orang biasa. Hidupnya hanya bersenang-senang dan mencari sensasi untuk meningkatkan perusahaannya dengan memberi sumbangkan kepada anak yatim piatu, bencana alam, dan lain-lain.


Okhe, ini bukan berarti Aiza ingin berpikiran buruk, hanya saja kalau memang dia mau menyumbang sukarela. Kenapa harus di gembar-gemborkan? Itu pertanyaan Aiza tentang Hakim, pria terkaya yang sering di bicarakan katanya memiliki pesona luar biasa.

"Bagiku orang kaya itu tak bisa kalau disuruh hidup susah. Seperti di sinetron, banyak orang kaya yang bangkrut. Akhirnya, tidak bisa apa-apa, hanya menangis dan menyesali diri. Karena mereka bingung harus mulai dari mana lagi." (Aiza)
"Dengar wanita karung, mungkin yang kau maksud itu kaya malas. Karena bagiku, seseorang tak bisa menjadi kaya raya, sebelum mereka pernah merasakan hidup susah. Kau pikir uang jatuh dari langit, hingga aku tak perlu usaha. Ckk, lucu!. " (Hakim Andikusuma)

"Neng, Aizaaaa," Panggil seorang bapak. Berlari-lari sambil membawa cangkul, menghampiri wanita berhijab syar'i biru tengah menjemur selimut.
Aiza memiringkan kepala, melihat siapa yang tadi memanggil. Ah, itu Pak Hasan, petani di kampungnya yang sering menggarap sawah di ladang Pak Kusuma. Bahkan Pak Hasan sampai ngos-ngosan, memegang lutut akibat terus berlari-lari dari tadi.
"Kenapa, Mang? Kayak dikejar-kejar kambing aja." Ledek Aiza.
"Aduh, Neng. Ini mah harus cepat-cepat di bicarakan,"
Pak Hasan mengacak pinggang, sejenak mengelap keningnya yang berkeringat dengan lengan baju.
Kening Aiza mengerut." Kayak apa aja, harus cepat-cepat dibicarakan." Sahutnya menggeleng-gelengkan kepala.
"Eh ini mah, serius atuh Neng. Tadi Amang dapat info dari kota, katanya bakal ada Ceou yang datang,"
"CEO kali mang, bukan Ceou," Aiza nyengir, membenarkan ucapan Pak Hasan.
"Ah, tau Neng. Amang mah gak ngerti, bahasa kayak gituan. Katanya mau membantu buat pembangunan sekolah dikampung. Jarang-jarang atuh, Neng. Ada Ceou mau datang ke kampung kita." Ujar Pak Hasan dengan wajah sumringah.
Aiza hanya menimpalinya biasa, dia kembali menjemur pakaian di gantar.
" Paling cuma cari sensasi aja, Mang. Biar kelihatan bagus dimata masyarakat, supaya barangnya laku." Jawabnya mencibir.
Di kampungnya memang terdapat sekolah MI, tetapi bangunannya sudah jelek. Siswa-siswi nya pun hanya ada beberapa, mereka lebih memilih pergi ke desa lain untuk menimba ilmu. Selain karena bangunannya bangus, para ibu-ibu dikampungnya memilih menyekolahkan anaknya ke SD, padahal menurut Aiza SD atau Mi itu sama saja.


"Aeh, ai si Eneng teh gimana. Malahan bagus berarti kita bisa saling bekerja sama, saling menguntungkan satu sama lain. Apa sebutannya? Amang lupa, kalau gak salah simbiosis mutual mutual, mutual apa, yah?" pak Hasan menggaruk-garuk kepala tak gatal, sambil mencoba mengingat-ingat.
"Simbiosis mutualisme, Mang," Sahut Aiza, mengibaskan baju kesamping agar tidak terlalu basah.
"Nah itu, Neng." Setuju Pak Hasan terkekeh-kekeh.
"Aeh, Amang."
Wajah pak Hasan berubah serius."Kenapa gak lanjut kuliah aja ke kota, Neng?" Saran Pak Hasan.
Mengingat dikampungnya hanya ada dua orang yang lulus sarjana, itu juga perempuan satu dan laki-laki satu. Namun sayangnya, sekarang mereka memilih tinggal di kota untuk mengajar disana. Padahal harapan warga kampung, sekiranya ada satu orang yang mau mengajar di MI. Tetapi itulah pilihan, orang berhak memutuskan apa yang terbaik untuk diri mereka sendiri.
"Kalau Aiza ke kota, nanti dikampung gak ada yang ngajar. Masa kita harus terus mengandalkan Bu Nia sama Pak Andi, Mang. Kasihan mereka sudah tua. Saya yang masih muda harus maju ke depan." Ujar Aiza, mengambil ember bekas cucian. " Ya sudah, saya masuk dulu kedalam rumah ya, Mang. Assalamualaikum." Pamitnya, berjalan masuk kedalam rumah.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ya Allah, Neng Aiza, mulianya hatimu Neng. Padahal gajihnya sering nunggak, tapi masih mau tetap ngajar." Puji Pak Hasan, mengambil cangkul untuk kembali lagi ke sawah yang tadi sempat dia tinggal.

Kota Jakarta pusatnya perusahaan, dari mulai perusahaan kecil hingga perusahaan besar. Tempat dimana semua orang mengadu nasib, mengharapkan dapat meraih kesuksesan di ibu kota.
Bicara kesuksesan, bagi seorang pria bernama Hakim, kesuksesan bisa didapat dengan kerja keras, tak pantang mundur, percaya pada kemampuan dirinya sendiri dan punya otak yang cerdik. Kesuksesan bukan ditentukan dimana dia tinggal, tetapi bagaimana dia bisa mencari peluang usaha dan bisa mengelolanya dengan benar. Itu yang diterapkan seorang pria sukses berumur 30 tahun itu.
"Beri tepuk tangan yang meriah untuk Tuan Hakim dari perusaan Kusuma Company. Astaga, ini suatu kebanggan bagi kami, seorang CEO dari perusahaan besar, mau datang ke acara kami" Seru presenter cantik itu semangat.
Hakim mengangguk, memberikan sedikit senyuman kecil.
" Sama-sama." Jawabnya ramah.
"Saya ingin memberikan pertanyaan, bolehkan?," Aju presenter bernama Hanum terkekeh.
"Tentu saja, silahkan." Hakim mengangguk setuju.
Hanum tersenyum riang, kemudian melihat layar di belakang sedang menampilkan beberapa postingan medsos.
" Baiklah, disini ada postingan Instagram anda, dimana anda sedang mengunjungi panti asuhan. Kita bacakan komentar fans anda satu-persatu, Tuan Hakim." Ucapnya, lalu membacakannya.
Laisa234
Kok sendiri terus, Mas Hakim. Istrinya mana? Owh iya lupa, kan aku istrinya hehe
Yunyun61
Aduh, Abang Hakim, gantengnya kok gak ketulungan. Terus baik lagi, kenapa gak ajak-ajak adek ke panti asuhan, Bang? Kan kalau Abang lelah, adek bisa pijitin."
Dian_irawan
Sukses terus, Bro. Jangan lupakan kami, sahabat jamurmu wkwkwk
Hanum tersenyum kembali melihat Hakim." Fans anda sangat banyak, Tuan Hakim. Apa anda berniat menjadi artis?" Tawarya diiringi canda.
Hakim tergelak."Sepertinya saya lebih cocok di bisnis." Jawabnya, membuat Hanum langsung meleleh.
"Allah, Mas.. kok ganteng amat, yah." Celetuknya tanpa sadar, membuat semua orang disana langsung tertawa.
Hanum terhenyak, menyadari dirinya sedang ditertawakan. Tanpa sadar dia berucap sembarangan, bahkan ini diluar tema. Kalau seperti ini, pasti ia akan kena teguran dari Boss nya. Sedangkan Hakim menggeleng-gelengkan kepala, tak berniat menertawakan Hanum.
"Aduh, Pak Hakim. Maaf, sepertinya saya jadi tak fokus karena berbicara dengan orang seistimewa anda." Hanum menutup wajahnya dengan sebelah tangan, merasa malu dengan dirinya sendiri.
"Gak papa. Terimakasih, pujiannya." Sahut Hakim mengerti.
Ia sudah terbiasa dengan perbuatan seperti Hanum tadi. Itu sebabnya Hakim jarang datang ke acara, biasanya dia lebih banyak menyuruh sekertarisnya yang datang. Sebenarnya dia benar-benar jengkel, saat orang sering menanyakan status nikah.
Hanum mengambil napas. Kembali tersenyum, mencoba mencairkan suasana.
"Kalau begitu kita lanjutkan lagi, Pak Hakim. Kalau tadi fans Bapak, sekarang hatersnya. Saya juga bingung, bagaimana Bapak bisa mempunyai seorang haters," kesal Hanum, padahal Hakim terlihat biasa. Tetapi presenter itu yang malah terlihat marah.
Mereka kembali melihat layar yang memunculkan satu komentar, karena cuman dia satu-satunya orang yang menjelek-jelekkan tindakan Hakim. Maka tidak salah juga, banyak yang menyerang komentar wanita bernama Aiza77, termasuk Hanum.


Aiza77
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Maaf sebelumnya, Pak Hakim yang terhormat. Saya tahu anda itu dermawan, karena saya melihat kegiatan anda di Instagram. Jujur, sebenarnya saya kurang percaya, bisa saja itu rekayasa, kan? Supaya menaikkan produk anda dipasaran. Kalau memang itu benar, saya mengundang anda untuk datang ke kampung saya untuk melihat sekolah kami yang hampir rubuh. Mungkin anda bisa membuktikan dengan cara itu. Itu juga kalau anda sempat, terimakasih.
"Apa-apaan wanita itu? Ini penghinaan. Tuan Hakim, laporkan saja dia ke polisi." Hanum melihat Hakim dengan tampang kesal.
Orang-orang disitu pun ikut sama kesalnya dengan Hanum. Bagi mereka itu sama saja penghinaan, karena selama ini Hakim sudah membuktikan kalau ia tak ingin mencari popularitas, semua bantuannya itu murni untuk menolong.
Sekali lagi Hakim hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Dalam hati dia sudah dongkol, saat membaca komentar Aiza tadi malam. Sampai detik itu juga emosinya langsung naik sampai ke ubun-ubun. Hingga membuat Hakim langsung menyuruh anak buahnya mencari identitas Instagram milik Aiza.
" Saya sudah mendapatkan alamat dari, Nona Aiza. Sebenarnya disini perlu ditekankan, bantuan itu bukan dari saya saja. Tetapi itu hasil dari sumbangan semua karyawan Kusuma. Kami ikhlas dan tak meminta balasan apapun. Kami ingin membantu membangun sekolah, karena kami tahu pendidikan itu penting." Jelasnya, disambut tepuk tangan meriah semua orang. Bahkan semua sampai berdiri, takjub dengan pemikiran hakim.
"Jadi anda akan membantu mereka?" Tanya Hanum mulai penasaran.
Hakim mengangguk, pasti." Kami akan datang kesana, untuk memenuhi undangan dari, Nona Azia. Dan kami dari Kusuma Company, tidak akan membawa media sama sekali." Ucapnya sopan.
Tentu saja akan repot kalau media sampai tahu. Ia tak bisa bicara dengan bebas kepada wanita yang sudah berani-beraninya menjelek-jelekkan nama baiknya didepan umum.
"Jadi anda tak akan memberikan alamatnya, Pak?" Tanya Hanum kecewa, padahal ia ingin lihat.
"Tidak, ini kunjungan peribadi." Hakim menggeleng, mendapatkan anggukan lemas Hanum.

Sedangkan ditempat lain, tepatnya di pos ronda. Azia hanya bisa cengo, mendengar penjelasan dari pria tampan bernama Hakim di TV.
Semua warga kampung sampai menganga, melihat berita itu benar-benar mengabarkan kalau dia akan mengunjungi wanita bernama Azia. Bahkan Pak Hasan pun tidak bisa berkata-kata, setelah tahu alasan Hakim mau datang ke kampung terpencil mereka.
Sebenarnya mereka juga ragu, apa orang sebesar itu mau membiarkan sepatu mahalnya meninjak tanah becek?, Apalagi dikampung mereka jarang ada sinyal.
"Amaaaaaaa... Bagaiman ini?!." Teriak Azia panik, tak menyangka CEO itu mau merespon komentar iseng yang dia tulis di Instagram.

Posted from my blog with SteemPress : https://coretanaksara.timeets.com/index.php/2018/11/07/cerbung-jembatan-takdir-part-01/
Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!