CerBung : Bhayangkara Part 09

in steempress •  12 days ago


Perjalanan pulang terisi oleh senyap, hanya deru mobil yang terdengar karena baik Bagus maupun kakek tak mau memulai bicara. Sesampainya di rumah pun begitu, Bagus yang biasanya selalu tak bisa menolak harum masakan neneknya kini malah pamit ingin pergi ke kamarnya dan makan nanti saja.

Masa liburan masihlah panjang, dan sepanjang itulah Bagus melewatinya dengan berdiam diri di rumah, paling sering ia diajak oleh kakeknya ke asrama. Waktu berpacaranpun hanya malam minggu saja, itu adalah sebuah kesepakatan yang diciptakan pak Wibowo dan kakek guna menghindari hal-hal yang tak diinginkan nantinya.

Bagus mulai bosan dengan hari-harinya kini, ia berharap setiap harinya adalah malam minggu agar ia bisa bersama-sama dengan Wati setiap waktu.

Bagus mulai teringat akan koleksi komiknya yang diletakkan di gudang oleh neneknya agar tak sampai ketahuan oleh kakek. Maka suatu ketika saat kakeknya pergi, Bagus mengambil beberapa koleksinya lalu ia bawa ke kamarnya. Jadilah waktu luangnya kali ini tak terlalu buruk meski hanya dihabiskan dengan membaca buku komik yang dirindukan.

Di hari yang sama, Bagus juga merindukan rumah lamanya yang berada jauh di luar kota yang ditinggalkannya begitu saja. Ia teringat akan kenangan-kenangan bersama ayahnya yang telah tiada.

Maka pergilah ia ke rumahnya yang lama, yang terletak di seberang jalan yang dilalui orang-orang.

Cat rumah yang dulu berwarna putih itu kini telah menjelma menjadi warna kehijauan: berlumut karena lama tak dibersihkan.

Di halaman rumah yang cukup luas pun berserakan dedaunan juga reranting kering dari pohon-pohon di sekitaran rumah.

Lantai rumah juga tak luput dari selimut debu-debu jalang yang menjelang. Bagus segera membersihkannya, karena seperti apa yang ada di benaknya, rumah ini tak ubahnya malah sudah seperti rumah hantu saja.

Setelah itu Bagus berjalan ke taman di sebelah rumah yang ada ayunannya, di sana adalah sebuah tempat di mana ia dan sang ayah biasanya bersama-sama untuk bercerita perihal hari-hari yang dilalui.

Berjalanlah Bagus menuju ke ayunan itu, lalu duduk untuk mengulang kenangan atau mengusir bayang-bayang kebersamaan dirinya yang dulu dengan ayahnya.

“Aku rindu, yah,” kata Bagus.


Bagus kemudian bangkit lalu berjalan ke arah pintu masuk, ia kemudian masuk ke dalam rumah. Semua perabotan rumahnya tertutupi kain putih, dan sama seperti di beranda, di dalam rumahpun penuh akan dedebuan menyelimut. Bagus kemudian berjalan melewati lorong-lorong hingga sampailah ia ke sebuah ruang-ruang berupa kamar-kamar yang termasuk pula kamar dirinya.

Entah kenapa langkah kakinya terhenti begitu sampai di kamar mbak, maka ia masuk ke kamar yang tak dikunci itu. Ia hanya sekedar melihat-lihat lalu menarik laci yang terletak di pojok ruangan.

Di sana ia temukan sebuah buku diary milik mbak yang usang yang bahkan beberapa bagiannya termakan kutu. Bagus membuka buku itu, isinya hanyalah tentang kegiatan harian mbak yang dilaluinya selama bekerja di rumah ini.

Sampai ia sampai di sebuah halaman yang berbeda dengan halaman yang sebelumnya. 12-06-2001 adalah hari, tanggal, bulan dan tahun kelahirannya.

Di buku tersebut tertulis, “Berbeda dengan perlakuanku terhadap istrimu, aku akan memperlakukan anakmu sama sepertimu. Akan ku besarkan ia dengan rasa cinta pula.”

“Maksudnya apa ini?” tanya Bagus dalam hati, jantungnya memburu.

Ia kemudian membuka buku itu lagi secara acak sampai menemukan halaman yang sama dengan halaman di mana tertulis tanggal lahir dirinya. Namun ketika hendak membacanya, ponsel Bagus berdering nyaring yang selanjutnya mengalihkan perhatiannya.

“Halo, Bagus!!!” sapa nenek dari ujung ponsel, dari nada suaranya nenek seperti tengah tergesa.

“Iya, nek. Ada apa? Kok kaya terburu-buru seperti itu?” tanya Bagus.

“Kamu di mana? Pulang sekarang!” perintah nenek.

Bagus mengernyitkan dahi secara spontan karena hal itu, “Memangnya ada apa?” tanya Bagus sekali lagi.

“Sudah, pokonya cepat pulang!” perintah sang nenek yang nada bicaranya kian meninggi lantaran Bagus terus-menerus bertanya.

Diletakannyalah begitu saja di meja, buku yang beberapa menit lalu membuatnya antusias untuk segera membaca kesemua isinya.

Bagus kemudian berlari menuju ke tempat di mana ia memarkirkan motor vespanya, motor hadiah dari sang kakek karena Bagus lulus sekolah sekaligus mau melanjutkan sekolahnya di kepolisian.

Deru vespa seolah mengisi ruang-ruang di jalanan lengang di sekitaran rumahnya, Bagus membelah jalan dengan kecepatan yang sedang meski ia tengah terburu-buru.


Posted from my blog with SteemPress : https://coretanaksara.timeets.com/index.php/2018/12/05/cerbung-bhayangkara-part-09/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Mantap mantap that coretan adoe, pakon ek netuleh, padup watee utk tuleh saboh tulesan.

Posted using Partiko Android