Finished With Yourself # 53

in steempress •  16 days ago

Bab Tiga Belas

Finished with Yourself

 

Mara mengayunkan tangannya dari belakang, sampai sikunya tertekuk. Bola tenis yang mengenai raketnya melambung melewati net.

“Jangan ditekuk sikunya!” teriak pelatih tenis dari seberang net. “Ayun tangannya sampai habis ke atas.

Dada Mara naik turun dengan cepat. Matahari mulai menyinari sisi lapangan tenis, tempat pelatih tekniknya berdiri. Berarti sudah hampir satu setengah jam, dia terus menerus melatih forehand. Tangannya diayunkan miring dari belakang ke atas, sampai sikunya berada di depan dada. Bola tenis menyeberang hanya beberapa centi di atas net.

“Bagus! Ya, seperti itu! Ayo teruskan!” seru Pelatih tenis. "Ayo, kakinya gerakkan!"

Sebelum latihan teknik, pelatih fisik tenisnya, memberikan pelatihan yang menguatkan fisik, lutut dan meningkatkan kekuatan dan kelenturan ototnya.

Ball boy mengganti keranjang bola yang hampir kosong, dengan keranjang berkapasitas 100 bola lain, yang terisi penuh. Mara mengusap keringat di kedua alis, dengan ujung lengan kaosnya. Dia membungkukkan tubuh sedikit, dengan kedua kaki tertekuk. Tangan kanannya menggenggam erat gagang raket, sementara tangan kirinya memegang kepala raket ukuran mid size.

“Jangan ditabrak bolanya! Gesek bolanya! Genggam raketnya kuat-kuat!” lagi-lagi pelatih teknik tenis memberi instruksi. “Ayo! Habiskan bola di keranjang ini! Perhatikan posisi kaki!”

Nafas Mara terengah-engah. Baju dan pakaian dalamnya sudah basah oleh keringat, ketika pelatihnya berkata, “Ok! Kita istirahat dulu sebentar. Setelah istirahat kita akan latihan backhand dan service!”

“Saya ganti baju dulu sebentar, Pak,” ujar Mara sembari berdiri, setelah beristirahat 15 menit dan memakan tiga butir kurma ajwa. Pelatih fisik dan pelatih teknik tenis Mara, mengangguk hampir berbarengan.

Dia berdiri di depan kaca, setelah mengganti pakaian. Wajahnya merah merona. Rambutnya basah oleh keringat.

"Hebat, Mara! Kemampuan tenismu sudah meningkat pesat. Ayo terus berlatih! Kamu pasti bisa main tenis, sebaik main basket."

Mara tersenyum lebar. Sama seperti latihan tenis, Sayati juga mendatangkan kedua pelatih, baik pelatih fisik maupun pelatih teknik basket. Mama bilang, walaupun targetnya bukan menjadikannya pemain tenis maupun basket profesional, dia harus semaksimal mungkin, mengejar keterampilan Nendo di kedua bidang olahraga itu. Jadi saat nanti di sana, dia sudah bisa menjadi lawan tanding amatir Nendo.

Pelatih fisik basketnya, memberikan pelatihan fisik yang membuatnya lebih lincah bergerak, memutari lawan sembari dribble bola. Pelatih teknik basket yang didatangkan mama sangat jago. Dia memiliki lawan tanding yang sangat bagus. Pelatihnya memberinya banyak masukan saat menggiring bola, crossover, shooting, dan lay-up dari dua sisi.

Dia memilih latihan basket , sebagai kompensasi dan hadiah pada dirinya sendiri , harus belajar segala sesuatu tentang bola, yang sangat tidak disukainya. Setiap pertandingan di kampungnya, sering sekali berakhir dengan kerusuhan suporter dari kedua kesebelasan.

Mara menatap matanya di cermin. Kemarin siang, Sayati mengundang teman-temannya makan bersama. Mama ingin mengenalkannya, pada orang-orang dari lingkaran terluar pergaulannya. Begitu Sayati melabelkan para undangannya. Semua yang hadir nampak sangat cantik dan berkelas.

Mama tidak pernah berdiri jauh darinya. Berkali-kali Sayati menyelamatkannya dari situasi yang memalukan, karena tidak bisa masuk dalam pembicaraan para tamu atau menjawab pertanyaan mereka.

Terkadang Mara benar-benar tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Dari perawatan ujung rambut sampai ujung kaki. Busana, tas, sampai aksesoris yang mereka gunakan. Harga-harga yang mereka sebutkan, membuatnya terkejut-kejut dalam hati. Dua jam paling mendebarkan dalam hidupnya. Setelah tamu terakhir berpamitan, dengan kaki lemas, dia duduk di sofa. Pembicaraannya dengan Sayati kembali terngiang.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Sayati yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.

“Ya Allah, Ma! Perasaan dua minggu ini, aku sudah belajar seperti orang kesetanan, tapi aku masih belum bisa masuk ke pembicaraan mereka.”

Mara memijit keningnya yang terasa berdenyut-denyut.

“Tidak adakah selain busana dan rengrengannya, resto, model rambut dan penatanya, perawatan, dan liburan, yang membuat mereka tertarik?” keluh Mara dengan dahi mengernyit dalam.

Sayati tertawa terkekeh-kekeh. “Mereka yang akan jadi ujian akhirmu. Kalau kau bisa bercakap-cakap dengan santai dan penuh percaya diri pada golongan ini, pelatihan tata krama dan kehidupan sosialmu sudah selesai.”

“Mereka berjalan dan bergerak anggun sekali,” Mara mengerutkan dahi.

open book lot

source

Sebelum tidur, dia akan melatih berjalan lurus, dengan buku di atas kepalanya, lebih sering lagi. Dia harus lebih serius, saat instruktur koreografer fashion, memberikan pelatihan tentang cara berjalan, berdiri, berbusana, mengenakan makeup, cara berjalan, memutar tubuh, dan menggerakkan anggota tubuh lain dengan penuh gaya namun tidak berlebihan, cara berekspresi, sesuai dengan situasi. Fokus ambisius instrukturnya, menjadikan tempatnya berdiri di manapun, sebagai stage secara alamiah.

Dia akan lebih serius lagi mengikuti kelas Salsation, agar tubuhnya bergerak lebih lentur.

Dia akan meminta Sayati mengatur ulang jadwal dan materi pelatihan. Waktu satu jam istirahat yang diberikan Sayati, setelah latihan tenis di pagi hari, akan digunakannya untuk latihan piano. Hingga tiap hari dia bisa latihan piano empat jam sehari.

Saat makan, menjelang tidur, dan tidak melakukan sesuatu dalam jadwal harian pelatihan, dia akan mengenakan headset, hingga telinganya terbiasa, mendengarkan orang-orang berbicara beberapa bahasa yang sedang dipelajarinya.

Beberapa kesempatan sebelumnya, sayati mengundang komunitas pecinta berbagai bentuk seni, dari penulis, penari, photografer, dan yang lainnya ke rumah. Dilanjutkan makan malam, dengan orang-orang yang sangat serius. Para pemerhati masalah sosial, politik, budaya.

Bukan sesuatu yang aneh, bila para motivator, pemuka agama, yang biasanya hanya dilihatnya di TV, bergiliran datang memberinya sesi pribadi.

Masih banyak yang harus dipelajarinya. Dan tidak seperti biasa, kali ini, dia bisa 1000 % memusatkan perhatian pada apa yang sedang dipelajarinya. Kepalanya terlihat manggut-manggut di pantulan kaca, menyetujui rencana yang diajukan otak kirinya.

“Kamu harus mengerti, kenapa kamu melakukan semua ini, Mara,” ujar Sayati dengan wajah serius.

Mara mengangguk. “Ya, Ma.”

“Jangan lakukan sesuatu, hanya karena Nendo menyukainya! Kau akan sangat bergantung pada penghargaan Nendo saja pada akhirnya. Kau harus bisa membahagiakan dirimu sendiri.”

“Siap, Ma,” Mara memeluk Sayati sembari tersenyum. Setelah melepaskan pelukannya, dia menatap Sayati dengan pandangan serius.

"Mara, maaf Mama sering mengulangi hal ini. Mama ingin, hal ini, benar-benar kau pahami .... " Sayati berhenti sejenak.

"Nendo menganggap, kelebihan rezekinya, sebagai sebuah tanggung jawab. Berada di samping Nendo, mengharuskanmu menjadi seorang pribadi selfless. Kau harus sudah finish with myself, saat kalian keluar dari rumah ini."

Mara mengangguk. Dia sangat bersyukur, Allah memberinya kemudahan, untuk mengeksplore potensinya, dengan standar yang sangat tinggi. Keinginannya untuk menjadi penambah bagi pendamping hidupnya terbuka lebar. Sekarang, semua benar-benar tergantung pada kemauan dan kerja keras pribadinya, untuk sukses.

“Aku ingin punya beragam kartu as, Ma. Aku ingin, banyak yang bisa kubanggakan, pada diriku sendiri. Berbagai hal yang bisa kubagikan, pada mereka yang membutuhkannya .... Mungkin itu salah satu hal yang mendorongku, bercita-cita jadi dokter. Banyak sekali yang belum kupelajari. Sekarang aku punya kesempatan, mempelajari segala sesuatu dari mereka yang benar-benar ahli dan menguasai bidangnya.”

Mara memegang tangan Sayati. “Mereka semua mencintai apa yang mereka lakukan, Ma. Aku ingin seperti mereka. Aku harus menyeimbangkan kerja otakk .… Mama tahu, walaupun nilaiku bagus, terkadang aku merasa hatiku kosong … aku baru tahu, ilmu pasti, bukan panggilan jiwaku. Terima kasih banyak, Ma … sudah membuka pintu dunia lain untukku. Aku merasa sangat bahagia sekarang. Aku cinta semua yang kulakukan sekarang.”

"Syukurlah, kalau kau sudah mengerti." Sayati menepuk-nepuk lembut tangan Mara denga perasaan sayang.

"Kamu harus benar-benar tahu kelemahan dan kelebihanmu, bisa mengangkat dirimu sendiri dari keadaan yang menekan, tahu apa yang benar-benar ingin kau kerjakan, sebelum melangkah lebih jauh, Kalau tidak, kamu hanya akan menghancurkan dirimu sendiri, Mara. Seperti lilin yang menerangi sekitar, namun meniadaakan dirinya sendiri."

Kepala Mara mengangguk perlahan. "Aku mengerti, Ma. Aku sangat bersyukur, Allah memberiku kemudahan luar biasa, hingga aku bisa berlatih dan mengembangkan diri, dan pada akhirnya bisa memberi manfaat ke banyak orang."

Giliran Sayati yang memeluknya erat. “Aku sangat bersyukur, Nendo memilihmu jadi istrinya. Aku bisa tenang sekarang.”

Di sebuah malam, ketika dia hendak ke kamar, dilihatnya Sayati dengan tekun duduk di depan lapotopnya. Karena penasaran, dia mendekatinya. Mama sedang main catur sendirian.

"Kenapa main sendirian, Ma?"

"Biasanya Nendo yang nemenin. Sekarang dia sibuk."

Mara mengangguk. "Susah, Ma, mainnya?"

"Kamu mau belajar?" tanya Sayati dengan mata berbinar.

Mara tidak tega mengatakan tidak. Namun sekarang, dia yang sering mengejar Sayati, untuk menemaninya main catur, saat dia bosan menghafal kosa kata, belajar memasak dan mengatur berbagai menu yang baru didengarnya, atau saat suaminya belum juga pulang ke rumah tengah malam.

Mara menggoyang-goyangkan kepalanya. Dia ingin bisa bermain tenis, dengan mama dan teman-temannya. Mereka keliatan sangat gembira, saat sedang bermain berempat. Mara mengepalkan tangannya di dada.

“Semangat, Mara! Kamu pasti bisa!” Dengan senyum lebar, dia kembali berjalan menuju lapangan. Saat ini tugasnya hanya satu, menjadi Mara terbaik di dunia.

orange smoke on blue background

source

“Apa katamu?” teriak Bude Parman histeris. “Nendo menikahi anak kampung itu? Kapan itu terjadi? Kenapa kamu baru bilang sekarang?”

 

Bandung Barat, Selasa 4 September 2018

Salam

Cici SW

 


Posted from my blog with SteemPress : https://cicisw.com/2018/09/04/finished-with-yourself-novel002-053/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!