Pemimpin Igoe Sa (Gigi Satu)

in steempress •  3 months ago


Serius pagi kami saat ngopi di warung langganan, Solong Premium, Banda Aceh beberapa hari lalu. Di Meh Itam (meja hitam) bagian samping warung, segalanya dibicarakan dari politik sampai urusan perempuan. Menariknya, lintas komunitas kerap bergabung di sana tanpa batas.

Konon keakraban di Meh Itam bisa mendamaikan lawan politik yang lama berseteru, dan kisah sebaliknya juga sering terjadi. Bahkan beberapa rekan, lama tak duduk lagi di sana hanya karena alasan tak masuk akal, takut kena bully karena merasa dekat dengan Gubernur yang tersandung kasus dugaaan korupsi.

Dia benar, ejek-mengejek adalah bahan utama di sana tapi tak serius. Semuanya dibungkus dengan canda satu jam di pagi hari sambil menunggu jadwal rutinitas kerja. Tak tahan, maka boleh tak menampkkan batang hidung, tak ada larangan. Kapan rindu, Meh Itam menerima kembali dengan tangan terbuka.

Meh Itam beberapa hari lalu, hanya aku, MTA, Hamid, Cek Mus dan Mastur yang bicara soal Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), tempat Mastur beraktivitas. Bicara tentang itu, mengernyitkan dahi. Maklum, karena berhubungan dengan korban pelanggaran HAM sampai bagaimana membagi kompensasi bagi korban yang pernah mengalami kekerasan di masa konflik Aceh.

Karena bahasan itu, hampir saja aku mundur lebih cepat untuk beraktivitas kerja. Tapi niat terurungkan dengan kedatangan Zaini Djalil, yang membelokkan bicara ke arah yang lebih menghibur. Tentang politisi Aceh dalam tamsilan yang renyah.


Zaini berkisah, beberapa pemimpin di Aceh berlaku seperti Apa Mae (tokoh imajiner) yang selalu bermasalah dengan polisi saat berkendara. Hampir saban berangkat ke pasar, dia selalu kena stop, macam-macam saja alasan polisi seperti spion tak lengkap, STNK mati sampai pentil ban yang sudah terlepas.

Tak mau selalu sial, Apa Mae melengkapi dirinya dengan segala aturan berkendara. Surat-surat lengkap, helm kualitas SNI, pentil ban baru sampai spion yang mampu melihat separuh jalan di belakannya. Dia tampil keren hari itu, berpikir mendapat pujian polisi saat distop nantinya.

Hari itu pula, Apa Mae tak distop polisi mungkin karena tak terlihat. Dia kecewa dan memutar kembali motornya sengaja di depan polisi yang mengatur lalu lintas. Dua kali masih belum distop, dan kali ketujuh saat hampir menghabiskan bensin di motornya, polisi menghentikan.

Setelah memeriksa semua surat-suratnya yang lengkap, polisi bukan memuji seperti diharapkan Apa Mae. “Kamu kena tilang,” kata polisi. “Apa salah saya, semua lengkap dari helm sampai pentil ban,” Apa Mae coba berdebat.

Polisi tersenyum saja, “Aku tak suka saja melihat muka mu, itu alasannya. Pokoknya tilang.” Dan lagi-lagi Apa Mae mengeluh tak berdaya terkena denda hanya karena muka dan tingkahnhya.


Parte Meh Itam

Seisi Meh Itam tertawa mendengar kisah sarat makna itu, membuatkan betah sesaat lagi. Ada juga pemimpin model lain yang tak mau mendengar orang kain kerena sifatnya yang memang begitu. Lalu Zaini meneruskan kisahnya tentang Si Lah (imajiner) dalam kisah Igoe Sa.

Begini, puluhan tahun lalu Si Lah membeli motor baru hasil jerih payahnya bekerja. Dia membelinya pada Toke Cina di sebuah pertokoan semacam dealer. Si Lah sejatinya tak paham mengendarai motor, karena hanya sepeda butut yang dimilikinya selama ini.

Maka Si Lah bertanya kepada Toke yang dijelaskan dengan baik. “Naiknya aja pelan-pelan, setelah hidupkan masukkan gigi satu, kalau sudah habis masukkan gigi dua dan selanjutnya sampai gigi empat,” pesan Toke.

Lalu pulanglah Si Lah membawa motor barunya sampai ke rumah. Lajunya pelan saja dan suaranya keras terdengar seperti memaksa lajunya. Sampai berhari-hari dia terus memakai motornya dengan bangga dan kebetulan bertemu dengan kawannya yang heran karena motor baru Si Lah terdengar seperti rusak. Kawannya tahu, Si lah sepertinya selalu memakai gigi satu saat berjalan.

Karena kasihan, dia mengajari Si Lah, pakai gigi satu selanjutnya gigi dua dan seterusnya. “Jangan selalu memakai Igoe Sa (gigi satu),” kata kawannya.

“Kau tahu apa, kata Toke Cina tempat aku membeli motor ini, kalau sudah habis gigi satu baru pakai gigi dua. Ini gigi satunya masih ada,” Si Lah membantah.

Kawannya tersenyum, tapi terus berusaha mengajarkan Si Lah. Tapi yang diajarkan keras kepala. “Toke Cina itu punya dealer dan begitu dia mengajarkan, kau sepeda motor sendiri saja tak punya.”

Kawan Si Lah angkat tangan menyerah menasehati Si Lah, yang setahun kemudian harus menurunkan mesin motornya karena rusak dan knalpotnya jebol. Begitulah.

Kami di Meh Itam tertawa dan membawa kisah itu dalam imajinasi masing-masing, menerka dua tokoh cerita dalam tamsilannya ke kehidupan nyata tentang pemimpin kita yang kerap memakai Igoe Sa. []

Note: Kisah diceritakan dalam bahasa Aceh oleh Zaini Djalil dan kutuliskan kembali di sini dalam bahasa Indonesia. [Sorry MTA, saya duluan menulisnya]
Foto 1 milik kawanku, Ahmad Ariska

@abuarkan
Adi Warsidi
U5dtm2CteQb7AYt7ykQ2FNBenDjo13w_1680x8400.png

 


Posted from my blog with SteemPress : http://adiwarsidi.com/pemimpin-igoe-sa-gigi-satu/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Kisah igo sa nyan memang legendaris bang.

·

Hahaha... sep bereh kisah nyan. Lon ban kudenge bang Zaini peugah

Teukhem kuh kubaca tulesan nyoe @abuarkan. Patot bunoe ladat that di TM rupa jih nyoe barang muncul ha ha ha

·

nyan keuh nyan. hahaha... that na teuh kisah nyan

Congratulations! This post has been upvoted from the communal account, @minnowsupport, by yasliapoetry from the Minnow Support Project. It's a witness project run by aggroed, ausbitbank, teamsteem, someguy123, neoxian, followbtcnews, and netuoso. The goal is to help Steemit grow by supporting Minnows. Please find us at the Peace, Abundance, and Liberty Network (PALnet) Discord Channel. It's a completely public and open space to all members of the Steemit community who voluntarily choose to be there.

If you would like to delegate to the Minnow Support Project you can do so by clicking on the following links: 50SP, 100SP, 250SP, 500SP, 1000SP, 5000SP.
Be sure to leave at least 50SP undelegated on your account.