Pasar Burung
Assalamualaikum, sobat saya di steemit..
Hari ini aku bangun pagi sekali, karena aku mau pergi jalan-jalan ke kota dan sambil ambil foto patung di kota Bali. Aku langsung bangun membersihkan tempat tidur dan membereskan rumah tempat tidur kamar ku, aku mulai dari depan, belakang hingga ke halaman depan dan aku mengutip semua sampah yang berserakan, lalu membuangnya ke tong sampah.
Lanjut aku membersihkan badan aku dengan air sekalian mandi dari debu yang menempel ketika tadi waktu aku beresin rumah, siap mandi aku pakai baju dan jaket beserta kacamata untuk menghindari terik dan debu di perjalanan aku menuju ke pusat kota Bali.
Saya menghidupkan motor untuk dipanasin,agar tidak terkejut apabila nanti nya langsung tancap gas, oh ya entar aku mau mampir ke beberapa tempat yang akan aku kunjungi untuk mengambil foto guna nya hanya sebagai kenang-kenangan selama aku di Bali.
Semua nya keren kan foto hasil jepretan dari handphone saya, sambil jalan terus tancap kan gas motor menuju jalan pasar burung Bali, saya sudah lama tidak melihat bermacam-macam burung selama ini banyak kesibukan yang saya lakukan.
Tak kunjung lama berjarak dua puluh tiga menit saya sampai di pasar burung.
Motor saya parkir kan di depan kedai Bakso di pinggiran pasar burung tersebut, saya berjalan-jalan sambil memandang suasana lingkungan pasar burung. Tak luput dari bibir saya yang sudah lama tak meniru suara irama burung serasa di dalam hutan.
Kicau demi kicauan saya nikmati mendengarkan suara nya hingga saya mampir di warung kopi yang berdampingan dengan kede burung yang saya kunjungi, saya memesan secangkir minuman kopi good day saset panas.
Seruput demi seruput saya nikmati mumpung masih panas, di temani sebatang rokok. Menikmati suara kicauan burung seakan membuat perasaan lebih tenang dan rileks.
Namun hati kecil saya menangis, berkata. Alangkah baik nya kicau burung tersebut berada di alam asli nya, bukan di dalam sangkar yang serba keterbatasan makanan dan ruang lingkup geraknya.
Syair berkata, bagaikan burung dalam sangkar. Sungguh malang nasib mu benar. Tak ada seorang pun yang tahu kegelisahan yang kau alami. Walaupun sangkar terbuat dari emas, namun Kebahagiaan tetap tidak serupa di bandingkan dengan kehidupan alam bebas.
Sesudah saya minum segelas kopi saset, saya lanjut putar balik menuju ke pasar untuk berniat membeli beberapa jenis kebutuhan bahan dapur dirumah yang ada beberapa yang sudah habis dan harus di belanja kan lagi untuk memenuhi esok hari persiapan memasak sarapan pagi.
Jalan sepulang dari pasar sangat padet kendaraan, hingga menimbulkan kemacetan dan di tambah lagi dengan terik nya matahari yang membuat mata saya sayu dan mengantuk, hingga saya ambil kesimpulan untuk memarkir kan kendaraan saya ke pikir trotoar, menghindari akan kecelakaan dan guna untuk menetralkan berat nya mata akan terpejam berkendaraan.
Mata pun sudah mulai melotot, saya lanjutkan perjalanan pulang, sesampai dirumah saya langsung ke kamar mandi untuk membasuh tangan,kaki dan muka. Lanjut saya memasak nasi untuk persiapan hidangan malam ditambah dengan ayam goreng kentang sambal yang akan menjadi teman santapan lalapan malam tiba.
Sampai disini dulu cerita karangan saya saat ini, apabila ada kekurangan. Lebih dan kurang saya meminta maaf, karena hidup butuh proses dan bimbingan. Wassalam