Puncak Kemurkaan Franck Ribery

in sevenfingers •  16 days ago


BINTANG itu acap menjadi biang. Gagal dan senang dia menjadi sorotan. Itulah risikonya. Karena itu jangan mau menjadi bintang. Tapi, tanpa menjadi bintang malahan tidak ada perkabaran. Nihil informasi jadinya. Tidak dikenal khalayak. Tidak pula menjadi bahan pergunjingan.

Kondisi itu barang kali sedang dialami mantan pemain Timnas Prancis. Franck Ribery. Kebintangan pria kelahiran 7 April 1983 ini selalu dalam lampu sorot. Pemain Bayern Munich ini memang seakan-akan menjadi bulan-bulanan para haters. Pengkritik paling asyik mengusili Ribery.

Di kancah Bundesliga, Ribery seakan-akan menjadi "lobster" -- santap sedap --- para pengkritik. Tak tahan terus dibully, suami Wahiba ini pun melawan dengan caranya sendiri.

Lalu dia menuduh para pengritiknya sebagai "pembenci yang iri". Serangan balasan alias counter attack-nya dia bikin lewat sebuah postingan di media sosial dimana di berpose dengan steak berwarna emas.

Pemain sayap yang akan meninggalkan juara Bundesliga -- Bayern Muenchen pada akhir musim nanti itu, mengunggah video ke halaman Instagram-nya awal minggu ini ketika mengunjungi juru masak (koki) asal Turki Nusret Gokce.

Gokce, yang dijuluki Salt Bae, terlihat sedang mengiris steak berwarna emas sebelum Ribery menaburkan garam di atas daging dengan cara yang pernah diperagakan temannya itu.

Ribery membuat judul video: "Tidak ada cara yang lebih baik selain memulai tahun ini dengan sedikit garam dan berkunjungan ke teman Turki saya."

Belakangan postingan itu menuai kritik dari beberapa pengikut media sosial. Apalagi dikatakan daging yang dikatakan bernilai 1.200 Euro.

Lantas, Ribery merespons pada hari Sabtu, memposting pesan panjang di cerita Instagram-nya, yang disalin ke halaman Twitter-nya. "Untuk 2019, mari beri tanda 'i' dan 't'," tulisnya.


"Mari kita mulai dengan cemburu, para pembenci, mereka yang jelas lahir dari kondom berlubang: **** ibumu, nenekmu dan bahkan keluargamu."

"Aku tidak berhutang apa-apa kepadamu. Keberhasilanku di atas segalanya. Terima kasih kepada Tuhan, terima kasih untuk diriku sendiri dan terima kasih untuk orang-orang yang kucintai, yang percaya padaku. Yang lain tidak lebih dari kerikil di kaus kakiku."

Dia melanjutkan: "Selanjutnya, tentang para jurnalis semu itu, yang selalu mengkritik saya dan tindakan saya (contoh terakhir adalah harga dari apa yang saya makan): ketika saya memberi - karena saya diajar untuk memberi ketika saya menerima banyak - mengapa media nasional tidak membahas ini?

"Tidak, kamu lebih suka berbicara tentang liburan yang aku miliki dengan keluargaku, kamu memantau tindakanku, apa yang aku makan, dll. Oh ya, kamu di sini untuk kesia-siaan semacam itu."

Musim ini Ribery sudah bermain 14 kali di Bundesliga. Sembilan pertandingan di mulai sejak menit awal dan telah mencetak empat gol.

Pemain berusia 35 tahun itu meminta maaf kepada seorang jurnalis di awal musim ini menyusul pertengkaran dengannya setelah Bayern kalah dramatis 3-2 dari Borussia Dortmund yang pemimpin Liga Jerman saat ini. [dbs]


Posted from my blog with SteemPress : http://pedagangkata.com/2019/01/06/puncak-kemurkaan-franck-ribery/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

gawat that lagoe brader franck libery nyan, sang brat meuhop geuh kali nyoe he he he

·

kon lee, cukop icah dianya....hhehe