Hikayat Prang Sabi sebagai Sastra Edukatif Pembangkit Jiwa Patriotisme Generasi Muda

in #sejarah3 years ago (edited)

Perang-Sabi (1).png
Generasi muda adalah pemimpin masa depan bangsa yang akan menjadi tonggak kehidupan massa depan. Akan tetapi, banyak generasi muda sekarang yang melupakan bagaimana semangat juang kaum terdahulu dalam memperjuangkan tanah air. Rekam jejak para pahlawan yang berjiwa patriotisme terekam jelas dalam karya sastra dan sejarah.
Sastra, adalah rekam jejak berbagai peristiwa, sastra mengabadikan hal yang penting sampai tak terduga begitu pula dengan sejarah. Sejarah lokal, nasional bahkan internasional. Sebut saja Hikayat Prang Sabi. Hikayat Prang Sabi telah menjiwai setengah abad “Perang Aceh” telah umum diketahui orang akan tetapi apa dan bagaimana Hikayat Prang Sabi sedikit sekali diketahui masyarakat. Hikayat yang dikarang oleh Tengku Chik Pante Kulu yang merupakan sebuah syair kepahlawanan yang membentuk suatu irama dan nada yang sangat heroik sehingga mampu membangkitkan semangat para pejuang Aceh dari zaman penjajahan portugis sampai zaman penjajahan Belanda.
Hikayat Prang Sabi adalah salah satu inspirator besar dalam menentukan perjuangan rakyat Aceh. Memang sejak dulu rakyat Aceh sangat akrab dengan syair-syair perjuangan Islam, sajak-sajak akan sebuah hakikat keadilan. Hikayat ini selalu diperdendangkan ke setiap telinga anak-anak Aceh, laki-laki, perempuan, tua muda, besar kecil dari zaman ke zaman dalam sejarah Aceh Sepanjang Abad “Aceh” (1983).
Menurut Zentgraf, Hikayat Prang Sabi karangan ulama Pante Kulu telah menjadi hal yang sangat ditakuti oleh Belanda, sehingga siapa saja yang diketahui menyimpan apalagi membaca Hikayat Prang Sabi itu akan mendapatkan hukuman dari pemerintah Hindia Belanda dengan membuangnya ke Papua atau Nusa Kembangan. Sarjana Belanda ini menyimpulkan, bahwa belum pernah ada karya sastra di dunia yang mampu membuat emosional manusia untuk rela berperang dan siap mati, kecuali Hikayat Prang Sabi karya Tengku Chik Pante Kulu dari Aceh “Aceh” (1983).
Lirik Hikayat Prang Sabi, yang berhasil disimpan dari pemusnahan oleh Belanda. Hikayat Prang Sabi merupakan karya besar Chik Pante Kulu sebagai sastra perang, ketika itu dibaca secara luas di Aceh. Akibat dari membaca hikayat ini, orang-orang langsung turun ke gelanggang untuk berperang. Oleh sebab itu, orang Belanda melarang membaca dan menyimpan buku Hikayat Prang Sabi. Pada masa itu apabila ditemukan orang menyimpannya, pihak Belanda akan menangkap dan menghukum orang tersebut (L.K. Ara, 2013:24).
Meski demikian Hikayat Prang Sabi tetap disimpan orang kita, naskahnya dengan cara sembunyi-sembunyi ataupun ditulis kembali karena banyak orang yang bisa menghafalnya, sebab itulah terkadang terdapat sedikit perbedaan antara satu dengan naskah lainnya (A. Hasjmy, 1977: 32).
Begitu menggemparkannya, penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam bagaimana pengaruh Hikayat Prang Sabi terhadap jiwa patriotisme para generasi muda saat ini. Seperti yang kita ketahui bahwa para generasi muda kerap melupakan sejarah daerahnya sendiri bahkan sejarah Indonesia.
Soe prang kaphe lam prang sabi
Niet petinggi hak agama
Kalimat Allah agama Islam
Kaphe jahannam asoe nuraka
Sabilullah geupeunan prang
Tuhan pulang page syeuruga
Ikut suroh sampoe janji
Pahala page that seumpurna
Lirik potongan Hikayat Prang Sabi berdasar ada bacaan “Benteng Kesultanan Aceh, Kajian Filosofi, Arkeologi, dan Topografi” tahun 2013.
Pengaruh Hikayat Prang Sabi terhadap masyarakat Aceh ternyata mempunyai jangkauan yang cukup panjang baik dalam waktu maupun dalam lingkungannya dan ini dikatakan telah membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme kepada pembaca dan pendengarnya selama perlawanan masyarakat Aceh terhadap Belanda yang cukup panjang (Misri A. Muchsin, 2014:35-36).
Hikayat Prang Sabi, hikayat yang mampu membangkitkan semangat cinta tanah air. Demikian juga yang sering dilakukan oleh orang terdahulu, menanamkan jiwa nasionalisme dan patriotisme terhadap generasi muda dengan mendendangkan Hikayat Prang Sabi pada saat dodaidi (mengayun) anak (Badruzzaman Ismail, 1994:221).
Apabila kita menelaah Hikayat Prang Sabi dengan teliti maka kita akan mengetahui bahwa Hikayat Prang Sabi sebagai suatu karya sastra memenuhi segala syarat pendidikan. Ia telah sanggup mendidik akal manusia Aceh dalam zaman sesulit itu dan bahkan telah sanggup memberi nilai-nilai keindahan pada jiwa setiap pemuda pada zaman itu untuk membela tanah air. Hingga tak heran jika pada abad 19 ketinggian nilai sastra Hikayat Prang Sabi sebagai suatu karya sastra telah dipelajari dan diteliti oleh sejumlah sastrawan Belanda yang ahli bahasa Aceh. Seorang ahli bahasa dan sastra Aceh H.T, Damste yang menerjemahkan Hikayat Prang Sabi dan memeperkenalkannya ke dunia barat sehingga menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa fakultas sastra Aceh di Belanda, dan juga menjadi perhatian umum bagi para mahasiswa sastra pada umumnya (A. Hasjmy, 1977: 16).
Zaman dahulu juga mengajarkan kepada anak-anak tentang Hikayat Prang Sabi. Hikayat Prang Sabi mampu menumbuhkan semangat nasionalisme para anak muda zaman dahulu untuk membela bangsa dan negara. Terbukti dengan banyaknya buku-buku pelajaran yang dibawa mengungsi dan terdapatnya Hikayat Prang Sabi (Mohammad Said, 2017:319). Lirik Hikayat Prang Sabi memiliki arti dan makna yang mendalam bagi rakyat Aceh. Seperti yang tertera di buku Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agresi Belanda karya Ali Hasjmy bahwa Hikayat Prang Sabi dapat membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme. Bahkan ketika kecil dahulu, Ali Hasjmy kerap didendangkan lagu Hikayat Prang Sabi oleh neneknya ketika diayunan, guna menumbuhkan semangat cinta pada kebudayaan dan tanah air.
Penelitian ini menganalisis data melalui pengamatan dan perubahan sikap dari para pelajar yang telah didendangkan Hikayat Prang Sabi. Perubahan sikap dan semangat dari para pelajar menjadi acuan dari penelitian ini. Penelitian ini juga mengambil data dari 15 orang pelajar yang telah dipilih secara acak untuk mendengarkan lagu Hikayat Prang Sabi.
Berdasarkan hasil dari wawancara dengan para pelajar didapati hasil wawancara dari para pelajar yang diperdengarkan lagu Hikayat Prang Sabi. Hasil dari wawancara diberikan poin sesuai dengan tanggapan yaang diberikan pelajar. Sebanyak 5 poin untuk tanggapan yang sangat positif, poin 4 untuk tanggapan yang positif, poin 3 untuk tanggapan yang netral atau sama sekali tidak positif dan negatif, poin 2 untuk tanggapan negatif, dan poin 1 untuk tanggapan yang sangat negatif.
Berdasarkan hasil wawancara, didapati hasil dari wawancara bahwa pelajar memberikan respon positif terhadap lagu Hikayat Prang Sabi menggunakan analisis modus (angka yang sering muncul).

Nilai 5 4 3 2 1
Frekuensi 5 3 3 3 1

Banyaknya pelajar yang memberikan tanggapan positif tentang Hikayat Prang Sabi dijadikan indikator untuk menentukan pengaruh Hikayat Prang Sabi terhadap generasi muda dengan perhitungan nilai rata-rata positif dan nilai rata-rata negatif.

Dengan hasil diatas rata-rata respon positif > dari rata-rata nilai negatif
4.111 > 1.75

Dengan hasil penelitian diatas, sebagai generasi muda Hikayat Prang Sabi adalah hal yang patut diteladani dan diambil makna yang baik dari lirik hikayat prang sabi, karena akan memberikan dampak positif bagi perkembangan generasi mua yang akan memimpin bangsa kedepannya.
Maka dapat disimpulkan bahwa Hikayat Prang Sabi dapat membangkitkan semangat patriotisme generasi muda. Dengan banyaknya pelajar yang diperdendangkan Hikayat Prang Sabi, semakin banyak pelajar yang mencintai daerahnya karena begitu besar pengaruh Hikayat Prang Sabi dalam membangkitkan semangat nasionalisme. Hikayat Prang Sabi memiliki pengaruh yang sangat besar dalam jihad kaum terdahulu karena Hikayat Prang Sabi memiliki makna tersirat tentang perjuangan moral dan agama maka tak ayal jika Hikayat Prang Sabi dapat membangkitkan semangat patriotisme generasi muda.

Daftar Pustaka

Ara, L.K. 2013. Sastra Aceh Hikayat Jenis dan Tokohnya. Banda Aceh: yayasan mata air jernih.

Hasjmy, Ali. 1977. Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agresi Belanda.Jakarta:Bulan Bintang.

Ismail, Badruzzaman. 1994. A.Hasjmy Aset Sejarah Masa Kini dan Masa Depan. Jakarta: Bulan Bintang.

Muchsin, A.Muchsin. 2014. Trumon sebagai Kerajaan Berdaulat dan Perlawanan Terhadap Kolonial Belanda di Barat-Selatan Aceh. Banda Aceh:
Balai pelestarian nilai budaya Banda Aceh.

Said, H.Mohammad.2017. Aceh Sepanjang Abad. Medan: Harian waspada Medan.

Sort:  

Hi @salsabilaefendi It's great post

hai, glad to see you there