Teori Tektonik Lempeng
Pengertian Teori Tektonik Lempeng
Berdasarkan teori tektonik lempeng, bagian luar Bumi
tersusun atas litosfer yang dingin dan kaku serta
tersusun oleh astenosfer. Bagian astenosfer ini bersifat
plastis akibatnya lempeng seolah olah mengapung dan
bergerak di atas atenosfer, kemudian ketika lempeng
bergerak maka akan terjadi interaksi antar lempeng
sehingga menyebabkan lempeng bergerak saling
menjauh dan memisah. Selain itu, Lempeng juga bisa
saling mendekat hingga menyebabkan terjadinya
tabrakan antar lempeng.
Jenis pergerakan lempeng tersebut dapat diamati pada gambar di bawah ini :
Pergerakan sebuah lempeng akan mengakibatkan perubahan pada lempeng lainnya, berbagai lempeng
pada gambar di atas dapat bergerak secara terpisah dan juga bersamaan. Apabila 2 lempeng bergerak
saling menjauh, maka lempeng tersebut bersifat difergen, pada gambar di atas bisa kita ambil contoh
bahwa Lempeng Indo-Australia bergerak
saling menjauh dari lempeng Antartika,
Lempeng Amerika Utara juga bergerak saling
menjauh dari lempeng Eurasia. Dengan
adanya bergerakan difergen ini akan
mengakibatkan peristiwa patahan/retakan,
salah satu patahan yang terbesar di dunia
adalah patahan San Andreas di California
Amerika Serikat yang panjangnya sampai
1.300 km. Jika terdapat 2 lempeng saling
mendekat, maka pergerakan tersebut disebut
konvergen. Beberapa lempeng yang bergerak
konvergen antara lain adalah Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Filipina, kemudian lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia, pergerakan lempeng secara konvergen akan mengakibatkan tabrakan antar lempeng yang berakibat terjadinya fenomena Subduksi dan tabrakan antar benua. Subduksi merupakan hasil tabrakan lempeng Samudra dengan lempeng Benua yang mengakibatkan lempeng Samudra menyelusup ke bawah lempeng Benua seperti pada gambar di bawah, salah satu akibatnya adalah terbentuknya palung laut. Tabrakan antar benua terjadi ketika kerak benua bergerak saling mendekat, salah satu fakta terjadinya tabrakan antar benua adalah terbentuknya pegunungan Himalaya, pegunungan tersebut terbentuk karena ada 2 lempeng benua yang bertabrakan sehingga mengakibatkan salah satu kerak benua terdorong ke atas dan membentuk pegunungan. Apabila lempeng-lempeng saling bergesekan satu sama lain tanpa menyebabkan terbentuknya lempeng/kerak yang baru, seperti yang terjadi pada pemekaran punggungan samudra, serta juga tidak mengakibatkan rusaknya lempeng, seperti yang terjadi pada zona subdaksi, maka lempeng tersebut bersifat transform.
Tulisan : @centrofauzi
Sumber : Google