KEUMALA
MESIN perontok pagi menderu cepat. Menghancurkan tangkai padi. Memilah bulir padi ke sudut kiri, sedangkan tangkai padi dipilah ke sudut kanan, ditumpuk menggunung.
Teman Abah, Jhony, berdiri dengan mengenakan penutup hidung dan mulut di samping mesin. Memperhatikan tiga pekerja yang sedang merontokkan padi milik petani. Om Jhon, begitu kau memanggilnya, teman Abah sejak semasa sekolah dulu. Pria berambut ikal dengan tinggi sekitar 170 centimeter ini sudah lama ikut dengan Abah. Sejak lajang sampai dia menikah.
Mesin perontok padi ini, Abah belikan khusus untuk Jhony. Laba dari jasa penyewaan mesin itu kami bagi dua. Saat itu, enam bulan sebelum Jhony menikah, dia meminta agar dibuatkan usaha untuk dikelolanya. Minimal, mengisi waktu kosong saat tidak bekerja. Kala itu, dia sedang belajar tentang Steemit bersama Abah, Om Alfa, Om Dony dan Om Levy.
Abah menyetujui dan membeli mesin perontok itu. Sejujurnya Nak, jika pun Jhony tak menyetorkan uang bagi hasil penyewaan satu mesin perontok itu, Abah takkan keberatan. Niat Abah tulus membantunya. Sehingga, dia bisa mendapatkan tambahan penghasilan untuk keluarganya kelak. Abah tahu, dia ini salah satu orang yang jujur yang pernah Abah kenal.
Selain itu Nak, Abah meneruskan niat yang tertunda. Membuka usaha kecil-kecilan, agar tak selalu menjadi orang gajian. Tak selamanya nikmat bekerja di perusahaan orang lain Nak. Sebagai pekerja. Tentu lebih nikmat kita membuka lapangan kerja untuk orang lain. Ya, Abah mulai berbinisnis kecil-kecilan. Dari satu mesin perontok ini, Abah berharap kelak bisa membeli mesin lagi, begitu seterusnya.
Selain itu Nak, dalam Quran cukup banyak ayat yang menjelaskan tentang perdagangan dan bisnis. Setidaknya, C.C Torrey dalam buku the commercial theological in the Quran menyebutkan bahwa Quran memakai 20 terminologi bisnis. Ungkapan bisnis diulang sebanyak 720 kali dalam Quran.
Nak, bahkan Rasul kita, Muhammad SAW adalah seorang pedagang handal. Reputasi dan integritas dalam berbisnis diakui oleh seluruh masyarakat dunia. Keahlian Rasul berdagang dimulai sejak usia muda, dikenal luas dari Syiria sampai Yordania dan jazirah Arab lainnya. Abah ingin meniru jejak ini Nak. Meski belum mampu seulet Rasul, sesukses beliau mengelola bisnis, paling tidak, Abah sudah memulainya.
Sejak lajang, Abah sudah membuka lahan seluas dua hektare di Aceh Utara. Lahan ini ditanami sawit. Kini, usia sawit sekitar tiga tahun. Sudah mulai berbuah pasir Nak. Hasilnya, belum cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga kita. Namun, Abah tak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membeli pupuk, pestisida, dan biaya pembersihan rumput. Uang untuk biaya perawatan kebun itu kini tertutupi dari hasil panen yang belum seberapa itu.
Kebun itu diawasi oleh Sara, tantemu Nak. Beliau mempekerjakan seorang penjaga kebun untuk mengelola kebun kita. Abah sempat sekali berkunjung. Luar biasa Nak. Allah memberikan tanah yang subur di atas lahan kita, sehingga sawit itu tumbuh subur. Bahkan, melebihi sawit di kebun tetangga. Ini harus kita syukuri Nak. Tuhan sangat baik memberikan kita lahan yang subur itu.
Saat dibeli lahan itu hanya Rp 30 juta rupiah. Kini, seorang pengusaha menawar lahan itu seharga Rp 100 juta Nak. Hanya terpaut tiga tahun. Nilai kebun itu sungguh luar biasa. Namun, Abah tak akan menjualnya Nak. Abah ingin membuka lapangan kerja pada masyarakat yang selama ini bekerja di perusahaan swasta yang kurang memperhatikan kesejahteraan pekerjanya.
Semoga Allah mengabulkan niat Abah. Memberikan kita rezeki, sehingga luas lahan itu bisa bertambah pada masa mendatang. Abah ingin, pekerja bukan hanya sekadar pekerja. Dia juga harus sejahtera ketika bekerja bersama kita. Harus mampu menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. Menurut Abah, salah satu cara mengentaskan kemiskinan yaitu melalui jalur pendidikan. Berpendidikan tinggi dan memiliki keahlian sebuah keniscayaan Nak. Sehingga bisa bekerja di perusahaan bergengsi. Syukur-syukur bisa menciptakan lapangan kerja sendiri.
Nak, jika kelak kau dewasa, dan memiliki usaha, maka hargailah pekerjamu. Mereka bekerja siang dan malam, meninggalkan anak dan istri, menguras energi dan pikiran demi kemajuan usahamu. Bukan sekadar demi gaji yang kau berikan setiap bulannya. Bukan pula sekadar membuatmu bahagia. Sejujurnya mereka berharap engkau menghargai kerja keras mereka. Mereka itu bukan budak Nak. Mereka itu asetmu, untuk itulah engkau harus merawat, menjaga dan memelihara mereka sebaik engkau memelihara keluargamu. Berilah mereka kehidupan yang pantas dan layak. Jangan makan uang dari cucuran keringat orang lain. Itu dosa dan haram Nak.
Selain itu, bayarlah upah mereka tepat waktu. Rasul menyebut, bayarlah upah mereka sebelum keringatnya kering. Selama ini, meski terkadang Abah tidak punya uang untuk membayar biaya pekerja kebun, Abah selalu berusaha meminjam uang pada orang lain untuk membayar upah pekerja kebun kita tepat waktu. Itu haknya Nak. Jadi, harus kita penuhi.
Jika pun kelak, engkau membuka usaha perdagangan, maka gunakanlah perdagangan secara Islami. Bukan mendewakan prinsip menggunakan modal sekecil-kecilnya untuk meraup untung sebesar-besarnya. Ambillah untung sepantasnya. Bukan sesuka hati. Membabi buta tak pakai naluri dan nurani.
Begitu juga jika kelak engkau berjualan di pasar, apa pun barang yang kau jual Nak, janganlah mempermainkan harga. Jangan pula engkau menggunakan praktik penimbunan barang. Gelisah kala harga murah dan sumringah kala harga melambung tinggi mencapai langit, disisi lain mencekik leher pembeli.
Nak, perawi hadis, Muslim mencatat bahwa Rasul sudah bersabda Barangsiapa menimbun bahan makanan selama empat puluh malam, maka sungguh Allah tidak lagi perlu kepadanya. Pada bagian lain, Rasul menjelaskan: "Tidak akan menimbun kecuali orang berbuat dosa."
Jika kelak kau mempraktikkan kelakuan ini dalam bisnismu Nak, sesungguhnya kau tak ada bedanya dengan kaum Firaun. Golongan itulah yang mempraktikkan penimbunan barang dan meraup untung sebesar-besarnya di atas penderitaan rakyat.
Nak, ingatlah hadis Rasul lainnya berbunyi sejelek-jelek manusia ialah orang yang suka menimbun; jika dia mendengar harga murah, merasa kecewa; dan jika mendengar harga naik, merasa gembira. Pada bagian lain, Rasul mengatakan saudagar itu diberi rezeki, sedang yang menimbun dilaknat.
Percayalah Nak, janji Allah akan ditepati. Meski ada kolega bisnismu kelak melakukan praktik ini, ingatkanlah dia, bahwa Allah akan melaknatnya satu waktu. Janganlah tiru perilakunya yang menimbun harga itu. Sebagai muslim, kita harus memiliki prinsip sesuai normal agama kita Nak. Tidak boleh goyah dan ragu. Rezeki sudah diatur oleh Allah.
Nak, tadi sore, Ibumu mengeluhkan sebuah Pom Bensin di pinggiran kota. Menurut Ibumu, setiap mengisi bensin full tank sepeda motor di Sentral Pengisian Bahabakar Umum (SPBU) itu, tidak pernah tahan tiga hari di dalam tangki. Dua hari, tangki tanda dan harus isi bensin lagi. Sebalinya, jika Ibumu mengisi bensin di SPBU lainnya, selalu bertahan tiga hari. Ibuimu bisa membandingkan begitu, karena rutenya jelas dan terjadwal Nak. Pagi berangkat ke kantor, menjelang siang pulang ke rumah untuk memberikanmu ASI ke kantor lagi dan pulang ke rumah lagi. Sedangkan belanja hanya dilakukan saat hari libur.
Setelah dua kali mencoba mengisi bensin di Pom Bensin pinggir kota, Ibumu kapok. Kini, dia mengisi bensin di tempat lainnya. Diduga, takaran bensin itu dikurangi oleh pekerja. Tentu, ujung-ujungnya untuk menghasilkan laba sebesar-besarnya.
Nak, jika kelak engkau berbisnis, janganlah mengurangi takaran. Buatlah takaran dan timbangan yang pas. Dalam surah Al Isra’ ayat 35, Allah sudah menyebutkan Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Dalam surah Al Muthafifgin ayat 1-6 Allah menegaskan bahwa perbuatan curang dengan mengurangi jumlah atau takaran barang dagangan sungguh dosa besar. Ayat itu berbunnyi Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.
Nak, harus kita sadari, apa pun yang kita lakukan semasa hidup harus kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan sang pencipta. Jadi, berbuatlah sebaik mungkin, dan sebisa mungkin, dimana pun dan kapan pun Nak.
Janganlah pula kelak engkau menghalalkan segala cara untuk mengembangkan bisnismu. Membeli barang curian dengan harga murah, lalu menjualnya semahal-mahalnya, agar laba melibat dan menumpuk pundi-pundi harta di rumah.
Nak, Rasulullah pernah bersabda barangsiapa membeli barang curian, sedang dia mengetahui bahwa barang tersebut adalah curian, maka dia bersekutu dalam dosa yang cacat." (HR. Baihaqi).
Ingatlah Nak, dua malaikat tanpa tidur sepicing pun terus mencatat segala perbuatan kita. Jadi, jangan pernah mengira malaikat akan alpa dan khilaf mencatat segala amal dan dosa. Catatan itu yang akan kita pertanggungjawabkan kelak.
Dengkur halusmu terdengar pelan. Malam menanjak menuju puncak. Saatnya kami beristirahat. Setelah mengingatkanmu lewat tulisan ini. Abah dan Ibumu berharap, jika kau jadi pengusaha kelak, maka berusahalah sebaik mungkin, sesuai perintah Allah.
Salam Komunitas Steemit Indonesia
Image : https://pixabay.com
Sudah saya baca dan sudah saya vote. Bapak kurator jangan lupa tengok blog saya. Saleum.
Bereh ...@arismo
Sangat sepakat, bahwa pemikiran Abah selaku orang yang hidup dalam beberapa zaman, telah mampu memberikan kontribusi terkait dengan pengelolaan lahan. Apalagi terkait pembayaran upah yang harus dibayarkan sebelum keringat sampai mengering. Filosofi ini sudah sangat susah untuk di implementasikan.
Menariknya lagi, bahwa dalam pengembangan sebuah bisnis harus mengutamakan cara yang sesuai dengan tuntunan syariat. Hal itu sudah dipraktekkan Nabi dan Para Sahabat. Artikel ini mengingatkan kembali akan pentingnya sendi agama dalam semua aspek kehidupan. Nice post Bang @aiqabrago
Pesan Abah yang sangat beharga " berilah mereka lehidupan yang pantas dan layak. Jangan makan uang dari cucuran keringat orang lain. Itu dosa dan haram nak." Begitu kata Abah. Salam KSI @aiqabrago
mantap bg, pengenlah diajarin car menulis cerpen begitu. salam ksi bg
Nak, perawi hadis, Muslim mencatat bahwa Rasul sudah bersabda Barangsiapa menimbun bahan makanan selama empat puluh malam, maka sungguh Allah tidak lagi perlu kepadanya. Pada bagian lain, Rasul menjelaskan: "Tidak akan menimbun kecuali orang berbuat dosa."
Kata2 yang penuh makna bg aiqa. Mantap.
Sukses selalu.
wah selain ahli foto makro mas @aiqabrago juga pintar berbagi ilmu agama, dibungkus cerita akan menjadi lebih gampang untuk dicerna.
salut saya. :)
Mantap ....., menarik dan cerita yang sangat enak dibaca
very cool post and vlog, i like it
Mantap semoga menjdi ayah yang baik