Konsep Pendidikan “Gaya Bank”

in #pendidikan9 years ago

Saat ini jika kita teliti memperhatikan, pendidikan disekitar kita sedang mengalami pergeseran pola dalam proses pembelajaran yang menjadikan murid sebagai pusat belajar (student oriented). Konsep mengajar tersebut merupakan bentuk gaya pengajaran lama yang menempatkan guru sebagai pusat belajar (teacher oriented). Konsep Teacher Oriented ini membuat guru sebagai penguasa/raja selama proses pengajaran berlangsung dikelas. Kewenangan mutlak milik guru dan guru bebas melakukan apa saja dengan tidak memperhatikan kemauan dari peserta didik. Kritikan yang datang dari peserta didik sama sekali tidak dipedulikan.

Paulo Freire, seorang pakar pendidikan ternama Brazil di dalam tulisannya “Pendidikan Kaum Tertindas” menamakan konsep teacher oriented ini dengan istilah pembelajaran gaya bank. Karena posisi guru yang mengajar layaknya seperti nasabah yang menabung uang ke bank dimana peserta didik menjadi pihak bank yang menerima tabungan ilmu dari sang guru. Uang dimasukkan ke bank dan menghasilkan bunga. Guru mengajar, murid belajar, guru menerangkan dan murid mendengarkan. Guru bertanya dan murid menjawab. Konsep tersebut tidak manusiawi (Paulo Freire:1972).

Konsep seperti ini jelas membuat belajar bukan sebagai proses belajar yang sebenarnya, tapi hanya proses pengajarannya saja, karena yang terjadi hanyalah proses transfer ilmu dari seorang guru, sedangkan murid cukup duduk saja, menyimak, menulis atau menghafal materi-materi yang dijelaskan oleh guru. Adapun dampak yang dihasilkan dari pembelajaran gaya bank terhadap murid adalah hilangnya potensi yang dimiliki oleh mereka karena kesempatan untuk mengembangkan potensi, berbicara atau mengeluarkan pendapat dibatasi oleh guru. Ini adalah masalah besar yang harus diperhatikan oleh seorang para pendidik.

Untuk mengatasi masalah ini, membangun hubungan dengan murid selama proses pembelajaran menjadi faktor sekaligus solusi yang sangat menentukan. Karena sebaik apapun materi yang diajarkan dan hebatnya metode yang digunakan, jika interaksi antara guru dan murid tidak terjalin dengan baik maka dapat menghasilkan pembelajaran yang tidak diinginkan. Dalam interaksi ini, salah satu caranya adalah guru memberikan contact hours atau jam-jam bertemu untuk antara murid dan guru diluar jam tatap muka dikelas seperti biasanya. Artinya guru meluangkan waktunya bagi siswa yang ingin bertanya atau berdiskusi. Tentu saja diluar jam mengajar sang guru.

Di tingkat perguruan tinggi contact hours ini sangat penting sekali untuk diaplikasikan, karena komunikasi dapat dikembangkan dua arah ketika terjadi contact hours ini, sehingga terciptalah interaksi humanistik yang dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembelajaran murid. Interaksi humanistik ini adalah sebuah konsep pola hubungan antara mutid dan guru dalam proses pembelajaran dimana dalam konsep ini sangat mengedepankan sikap demokratis dan transparansi guru, keaktifan, kemandirian dan keinovatifan murid, keramahan guru dan kesantunan murid dan saling hormat menghormati berusaha mengeliminasi kecenderungan otoriter guru sebagai warisan birokrasi yang feodalistik, sikap ketertutupan dan keangkuhan seorang guru, serta kepasifan peserta didik.

Istilah interaksi humanistik ini sejalan dengan konsep pendidikan yang dibahas oleh Paulo Freire yaitu problem posing (hadap masalah), yang mana konsep ini bertujuan untuk menjadikan peserta didik menjadi seorang yang humanis (lebih manusiawi), mampu mengembangkan kemampuannya dalam hal memahami dengan kritis diri dan kehidupannya yang yang menegaskan peserta didik sebagai makhluk yang berada dalam proses menjadi untuk menuju kesempurnaan dalam realita yang tidak pernah selesai (Paulo Freire, 2000: 66-70)

Konsep pendidikan “hadap masalah” diciptakan Freire sebagai solusi dan lawan untuk konsep pendidikan “gaya bank”, yang pada praktiknya telah membentuk peserta didik menjadi bisu, tidak komunikatif, memberikan ruang gerak pasif kepada para siswanya hanya terbatas pada menerima, mencatat dan menyimpan informasi pelajaran, sehingga memunculkan daya dehumanisasi pada peserta didik (Paulo Freire, 2000: 59). Berikut adalah ciri-ciri pendidikan gaya bank menurut Freire:

  1. Guru mengajar, murid diajar
  2. Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa
  3. Guru berpikir, murid dipikirkan
  4. Guru bercerita, murid patuh mendengarkan
  5. Guru menentukan peraturan, murid diatur
  6. Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menyetujui.
  7. Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya
  8. Guru memilih bahan dan isi pelajaran, murid tanpa diminta pendapatnya menyesuaikan diri dengan pelajaran tersebut
  9. Guru mencampuradukkan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, untuk menghalangi kebebasan muridnya
  10. Guru adalah subyek dalam proses pembelajaran, murid adalah obyek
    belaka (Paulo Freire, 2000: 59).

Konsep pendidikan gaya bank, menganggap pengetahuan sebagai warisan yang diberikan oleh seorang guru kepada para murid (yang dianggap tidak berpengetahuan apa-apa). Tidaklah mengherankan kemudian, jia konsep pendidikan gaya bank ini memandang manusia sebagai makhluk yang dapat disamakan dengan sebuah benda dan gampang diatur (Paulo Freire, 2000: 59).

Dalam pada konsep gaya bank, guru memposisikan dirinya sebagai lawan murid- muridnya, dan menganggap murid orang-orang bodoh, sehingga dialogika dalam proses pembelajaran tidak terciptakan. Karena dialogika tidak akan terjadi dalam hubungan yang bersifat dominasi atau otoriter. Dialog dapat terjadi ketika pemikiran kritis dilibatkan dan tidak ada dikotomi antara dua pihak. Dalam konteks ini, pendidikan tidak dilaksanakan oleh guru terhadap muridnya, akan tetapi oleh guru bersama murid dengan sekolah sebagai medianya. Disamping itu, Ivan Illich sependapat dengan Freire yang menganggap interaksi dehumanistik (non humanistik) telah mengikat peserta didik, karena peran guru yang terlalu berlebihan, yaitu sebagai pengawas, sebagai moralis, dan sebagai ahli terapi, sehingga membuat peserta didik sebagai pihak yang bodoh sehingga membatasi gerak peserta didik dan mengalienasinya dari lingkungan sosial (Ivan Illich, 2000: 35-49).

Dengan demikian, pengembangan interaksi pembelajaran humanistik diorientasikan kepada sifat dan hakikat peserta didik sebagai manusia yang dinamis. Usaha-usaha yang dikembangkan adalah bagaimana menciptakan kondisi edukatif, memberikan motivasi dan rangsangan-rangsangan sehingga potensi kecerdasan mereka dapat difungsikan dan berkembang dengan baik. Untuk itu, pendidik harus mengenal peserta didiknya lewat pendekatan pemahaman bahwa mereka adalah “Anak adalah satu makhluk alami, yang berhubungan dengan makhluk-makhluk alami yang lain, dan seperti juga obyek alamiah yang lain, ia merupakan bahan analisis ilmiah dan sekaligus sebagai satu perkembangan sendiri” (Theodore Bramel, 1955: 130).

Maka karena itu, peserta didik harus diberi kebebasan untuk berbuat dan bersikap sesuai kemampuannnya dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan intelijensinya. Disini prinsip interaksi pembelajaran humanistik adalah menempatkan anak sebagai “bos” pendidikan, sedangkan guru adalah “pelayan” pendidikan. Artinya, ada nilai demokratisasi pendidikan dalam proses pembelajaran.

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.33
JST 0.099
BTC 64612.72
ETH 1870.64
USDT 1.00
SBD 0.38