Mengendus Jejak Bangsa Turki dan Lada Sicupak di Bumi Nurul A’la / Sniffing the Traces of the Turkish Nation and the Pepper Sicupak on Earth Nurul A'la

Mengendus Jejak Bangsa Turki dan Lada Sicupak di Bumi Nurul A’la

Meriam Lada Sicupak menyimpang berjuta kenangan bagi para laskar aceh saat melawan tentara belanda dan kaum kolonial protugis pada tahun 700 M, ketika memasuki Aceh melewati lautan Peureulak. Meriam tersebut diberinama dengan sebutan “Meriam Lada Sicupak” yang dibeli dari Negeri Turki.

Meriam sepanjang dua meter dengan balutan kain putih tampak perkasa dibawah atap seng yang dipugar di Desa Blang Balok, jalan menuju Kuala Beukah, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur.

Sebelum Meriam Turki tersebut ditemukan oleh seorang penemu yaitu Tgk Muhammad Ben Wahab (almarhum_red), tepatnya pada hari selasa, Tanggal 12 Desember 1976 tidak jauh dari Lokasi keberadaan sekarang ini, kira-kira ±30 meter jaraknya dipinggir rawa-rawa.

Pada masa Panglima Nyak Dum merupakan panglima yang diutus Sulthan Iskandar Muda untuk menjalin hubungan dengan Turki dan meminta bantuan militer untuk memerangi protugis.

H. M. Zainuddin dalam buku Singa Aceh, ia menjelaskan hubungan Kerajaan Aceh denga Turki pertama kali dibangun oleh Sulthan Ali Riayat Syah Al Qahar yang memerintah dari Tahun 1557-1568 dengan Sulthan Salim Khan.
Pada masa itu, Sulthan Salim Khan mengikat perjanjian persahabatan dengan kerajaan Aceh dan mengirim sekitar 40 orang ahli alteleri untuk melatih pasukan meriam dan pasukan berkuda di Aceh.

Perjanjian persahabatan itu kemudian dilanjutkan oleh raja Aceh, selanjutnya Sulthan Alauddin Mansur Syah yang memerintah pada tahun 1577-1588. Masa itu Turki menjamin dan melindungi kerajaan Aceh dari ganguan pihak lain.
Kemudian, ketika tahta turki dipegang oleh Sulthan Mustafa Khan, perjanjian itu dilanjutkan oleh Sulthan Aceh berikutnya, Sulthan Alauddin Riayat Syah Saidil Mukamil yang memerintah pada tahun 1588-1604. Pada masa itu Sulthan Mustafa Khan mengirim sebuah bintang kehormatan kepada Sulthan Aceh, serta mengizinkan kapal-kapal perang kerajaan Aceh memakai bendera Turki.

Kala itu Aceh dipimpin Sulthan Iskandar Muda, hubungan dengan turki agak merengang karena Iskandar Muda masa itu lebih Fokus membangun dalam negeri setelah kekalahan pendahulunya dalam perang disemenanjung Malaka.
Setelah rakyat dalam negeri Aceh benar-benar makmur, Sulthan Iskandar Muda membuka kembali hubungan dengan Turki yang selama beberapa tahun sudah agak merengang.

Pada masa itu Sulthan Iskandar Muda menyiapkan tiga buah kapal untuk berangkat ke Turki. Kapal-kapal itu berisi lada yang akan diserahkan ke raja Turki sebagai persembahan dari Aceh. Sulthan Iskandar Muda Juga meminta kepada Mufti Kerajaan Syeikh Nurddin Ar Raniry untuk menulis sepucuk Surat dalam Bahasa Arab.

kemudian surat itu disampul dan dibalut dengan kain sutera sebagai bentuk kemuliaan. Untuk membawa surat itu ditugaskan Panglima Nyak Dum sebagai kepala rombongan.

Dalam rombongan khalifah Panglima Nyak Dum juga disertakan dua juru bahasa yang ditunjuk oleh Syeikh Nurddin Ar Raniry, satu ahli bahasa arab dan satu orang lagi ahli bahasa indi.

Menurut H. M. Zainuddin, Panglima Nyak Dum merupakan sosok pemberani yang kebal terhadap senjata tajam dan peluru. Panglima Nyak Dum juga fasih dalam berbahasa arab, maka ditunjuk sebagai ketua rombongan.

Dalam perjalanan, ketiga kapal utusan Aceh tersebut terbawa badai. Awalnya dari pelabuhan Aceh mereka hendak menuju ke Madras namun terbawa angin ke Calcuta. Setelah beberapa lama disana, setelah menunggu angin teduh, mereka berlayar menyusuri pantai Coromondal, sepanjang Teluk Bangala hingga kemudian sampai ke Madras.

Setelah beberapa lama di Madras, delegasi Aceh melanjutkan perjalanan ke Ceylon terus ke Teluk Parsi sampai ke Bombay. Dari sana kemudian menyebrang ke laut Sikatra menuju Madagaskar terus ke tanjung harapan Afrika Selatan. Selanjutnya rombongan Panglima Nyak Dum menuju laut Atlantik sampai ke Istambul, Turki.

Perjalanan dari Aceh menuju Turki itu menghabiskan waktu sampai dua tahun. Bekal dalam perjalanan sudah habis. Lada yang dikirim sebagai persembahan untuk Sulthan Turki juga dijual di Bombay untuk memenuhi kebutuhan selama perjalanan panjang tersebut.

Ketika kapal masuk ke pelabuhan di Konstatinopel, timbul keresahan dari delegasi Aceh itu karena barang persembahan Sulthan Iskandar Muda untuk raja Turki sudah dijual selama perjalanan, yang tersisa hanya sepuluh goni lada.
Panglima Nyak Dum kemudian mengambil secupak lada dari salah satu goni itu dan membungkuskan dalam kain kuning, sebagai isyarat bahwa bingkisan itu dipersembahkan kepada sulthan Turki dari sultan Aceh.

Rombongan Panglima Nyak Dum disambut oleh syahbandar dan diantar ke istana. Sampai di sana Panglima Nyak Dum menyerahkan surat dari Sulthan Iskandar Muda beserta bingkisan secupak lada kepada raja Turki. Ia juga menjelaskan bahwa bingkisan dari Aceh yang dibawanya telah banyak habis dijual untuk bekal selama perjalanan karena kapal mereka terbawa badai pada rute yang salah. Sulthan Turki memaklumi hal itu.

Usai jamuan, Panglima Nyak Dum menceritakan kepada Sulthan Turki tentang tindakan Portugis di Selat Malaka yang telah mengganggu perairan Aceh. Pihak Turki menegaskan bahwa akan terus menjaga hubungan baik dengan Kerajaan Aceh, termasuk membantu Sulthan Aceh dalam menghalau gangguan Portugis di Selat Malaka.

Setelah sekitar tiga bulan utusan Aceh itu berada di Turki, Panglima Nyak Dum dan rombongannya kembali ke Aceh. Sebagai balasan tanda memperkuat persahabatan, Sulthan Turki mengirim sebuah meriam dan alat-lata perang untuk Sulthan Aceh.

Meriam itulah yang kemudian dikenal sebagai meriam “Lada Sicupak”. Dalam rombongan Panglima Nyak Dum juga diikutserakan sebanyak 12 orang Turki ahli militer dan pelayaran untuk mendampingi mereka sampai ke Aceh.

Bantuan Turki itu oleh Muhammad Said dihubungkan dengan kisah meriam lada sicupak. Pemberian Turki berupa meriam dan bendera kepada Kerajaan Aceh merupakan bentuk pengakuan Turki bahwa Kerajaan Aceh berada di bawah perlindungan khalifah Islam. Bantuan Turki kepada Aceh itu bukan saja sebagai bantuan militer belaka, tapi memiliki arti politik yang menjelaskan tentang kedudukan Aceh dalam kesatuan kekhalifahan Islam.

Sejarah Meriam Lada Sicupak milik Kerajaan Turki yang kini berada di Desa Blang Balok, Kecamatan Peureulak Kota, Kab. Aceh Timur, perlu dilakukan renovasi secara sempurna guna mengenang kembali sejarah hubungan Kerajaan Aceh-Turki di masa lalu.

Sementara itu Agus Khadafi Tokoh Pemuda Peureulak yang pedulikan akan situs-situs sejarah di Kabupaten Aceh Timur kepada kbaone, Sabtu 16/12/2017 mengatakan, dirinya sangat mengharapkan pembangunan Monument Meriam Lada Sicupak. Selain dirinya juga mengharapkan kepada Pemerintah Aceh khususnya pemerintah Kabupaten Aceh Timur untuk segera merenovasi dan pembangunan di lokasi itu.

“ Sebagai upaya melestarikan salah satu kebudayaan Aceh, sehingga bisa dijadikan salah satu objek wisata, baik wisata lokal, nasional maupun internasional. Hal ini dianggap perlu guna mengenang kembali sejarah hubungan baik kedua kerajaan ini pada masa kejayaan Aceh,” ungkap Agus Khadafi.

Untuk itu sudah sebaiknya Pemerintah Aceh melalui pemerintah daerah, memugar kembali sejarah Meriam Lada Sicupak yang ditemukan pada tahun 1976...Semoga!. (IskandarIshak).

Sniffing the Traces of the Turkish Nation and the Pepper Sicupak on Earth Nurul A'la

The Sicupak Pepper cannon deviates millions of memories for aceh warriors against the Dutch and protagonist colonies in 700 AD, entering Aceh through the Peureulak oceans. The cannon is named "The License of Pepper Sicupak" purchased from Turkey.

A two-meter-long cannon with whitewashed white cloth under a refurbished zinc roof in Blang Balok Village, the road to Kuala Beukah, Peureulak Sub-district, East Aceh District.

Before the Turkish cannon was discovered by an inventor, Tgk Muhammad Ben Wahab (deceased), precisely on Tuesday, December 12, 1976 not far from the location of the present existence, about ± 30 meters distance along the swamp.

At the time of Commander Nyak Dum was a commander sent by Sulthan Iskandar Muda to establish relations with Turkey and request military assistance to combat protugis.

H. M. Zainuddin in the book Singa Aceh, he explained the relationship of the Kingdom of Aceh with Turkey first built by Sulthan Ali Riayat Shah Al Qahar who ruled from the year 1557-1568 with Sulthan Salim Khan.
At that time, Sulthan Salim Khan binded a friendly treaty with the Aceh kingdom and sent some 40 alteleriologists to train the cannon and horsemen in Aceh.

The covenant of friendship was then followed by the king of Aceh, then Sulthan Alauddin Mansur Shah who reigned in 1577-1588. That time Turkey guarantees and protects the kingdom of Aceh from the disruption of others.
Then, when the throne of turki was held by Sulthan Mustafa Khan, the agreement was continued by the next Sulthan Aceh, Sulthan Alauddin Riayat Syah Saidil Mukamil who ruled in 1588-1604. At that time Sulthan Mustafa Khan sent an honorary star to Sulthan Aceh, and allowed the Acehnese war ships to wear Turkish flags.

At that time, Aceh was led by Sulthan Iskandar Muda, the relationship with the turkey was somewhat appealing because Iskandar Muda was more focused on building the country after the defeat of his predecessor in the war of Malacca. After the people of Aceh were really prosperous, Sulthan Iskandar Muda reopened the relationship with Turkey which for several years has been a bit of a thrill.

At that time Sulthan Iskandar Muda prepared three ships to leave for Turkey. The ships contained pepper to be handed over to the Turkish king as an offering from Aceh. Sulthan Iskandar Muda Also asked the Mufti of the Royal Shaykh Nurddin Ar Raniry to write a Letter in Arabic.

then the letter was covered and wrapped with silk cloth as a form of glory. To carry the letter assigned Commander Nyak Dum as head of the entourage.

In the entourage of the Caliph Commander Nyak Dum was also included two interpreters appointed by Sheikh Nurddin Ar Raniry, an arabic linguist and one more linguist.

According to H. M. Zainuddin, Panglima Nyak Dum is a brave figure who is immune to sharp weapons and bullets. Commander Nyak Dum is also fluent in Arabic, hence appointed as head of the entourage.

On the way, the three aboard the envoy of Aceh was carried by a storm. Initially from the port of Aceh they want to go to Madras but carried wind to Calcuta. After some time there, after waiting for the cool wind, they sailed along the Coromondal coast, along the Gulf of Bangala and then to Madras.

After some time in Madras, the Aceh delegation continued on to Ceylon and into the Persian Gulf all the way to Bombay. From there then cross into the Sikatra sea to Madagascar and hold onto the Cape of South Africa's promontory. Next entourage Commander Nyak Dum to the Atlantic sea to Istanbul, Turkey.

The trip from Aceh to Turkey took up to two years. Bekal on the way is up. Pepper delivered as an offering for Sulthan Turkey is also sold in Bombay to meet the needs during the long journey.

When the ship entered the port in Konstatinopel, there was anxiety from the Aceh delegation because the offerings of Sulthan Iskandar Muda for the Turkish king had been sold during the trip, leaving only ten peppercorns.
Commander Nyak Dum then took a small pepper from one of the burlap and wrapped it in a yellow cloth, indicating that the package was dedicated to Turkish sulthan from the sultan of Aceh.

The group of Commander Nyak Dum was greeted by syahbandar and escorted to the palace. Arrived there Commander Nyak Dum handed over a letter from Sulthan Iskandar Muda along with a parcel of pepper to Turkey's king. He also explained that the parcels from Aceh he brought had been sold out for supplies during the voyage because their ship was carried by a storm on the wrong route. Sulthan Turkey understand that.

After the banquet, Commander Nyak Dum told Turkish Sulthan about the Portuguese actions in the Malacca Strait that has disturbed the waters of Aceh. Turkey insists that it will continue to maintain good relations with the Kingdom of Aceh, including assisting Sulthan Aceh in dispelling the Portuguese interference in the Malacca Strait.

After about three months the Aceh envoy was in Turkey, Panglima Nyak Dum and his entourage returned to Aceh. In reply to the sign of strengthening friendship, Sulthan Turkey sent a cannon and war equipment to Sulthan Aceh.

That cannon became known as the "Lada Sicupak" cannon. In the group of Commander Nyak Dum was also followed by as many as 12 Turkish military and shipping experts to accompany them all the way to Aceh.

The Turkish aid by Muhammad Said is associated with the story of a sicupak pepper cannon. The granting of Turkey in the form of cannons and flags to the Kingdom of Aceh is a form of Turkish recognition that the Kingdom of Aceh is under the protection of the Islamic caliphate. Turkey's assistance to Aceh is not only a mere military aid, but has a political meaning explaining the position of Aceh in the unity of the Islamic caliphate.

History of the Sicupak Lada Pepper belonging to the Kingdom of Turkey which is now located in Blang Balok Village, Peureulak Kota Subdistrict, Kab. East Aceh, a perfect renovation is needed in order to recall the history of the relationship between the Kingdom of Aceh and Turkey in the past.

Meanwhile Agus Khadafi Peureulak Youth figures who care about the historical sites in the district of East Aceh to kbaone, Saturday 16/12/2017 says, he is looking forward to the construction of Monument Meriam Lada Sicupak. In addition he also expects to the Government of Aceh, especially the district government of East Aceh to immediately renovate and development at that location.

"As an effort to preserve one of Aceh's culture, so it can be used as one tourist attraction, both local, national and international tourism. This is considered necessary to recall the history of good relations of both kingdoms in the heyday of Aceh, "said Agus Gaddafi.

For that it should be the Government of Aceh through the local government, restoring the history of the Sicupak Pepper Pepper found in 1976 ... Hopefully !. (IskandarIshak).

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Mantap bg @iskandarishak. Postingan yang sangat mengedukasi generasi muda, agar lebih melek terhadap sejarah. Lanjutkan, demi kebaikan.

Sangat super sekali....