Kisah Cinta yang Berakhir Sampai Ajal Menjemput Mereka

in inspiration •  15 days ago

Selamat sore sahabatku sekalian, apakabar kalian hari ini? Mudah-mudahan Allah selalu merahmati kalian dan juga diberikan umur panjang oleh Allah. Amiin!

image


Tentang kisah dua sejoli yaitu cinta Qais dan Laila merupakan kisah yang sangat populer, seperti halnya sangat populer kisah cinta Romeo dan Juliet di barat, atau kisah populer lainnya yaitu kisah Zainuddin dan Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dalm buku karya Buya Hamka.

Dan saya rasa, kisah ini merupakan kisah yang sudah sangat populer di kalangan para remaja atau dewasa karena kesetiaan dan perjuangan keduanya, mungkin kisah ini sudah sangat sering ditemukan dalam tulisan-tulisan orang lain. Tapi, ini hanya sebagai bentuk menghibur diri.

Laila dan Qais merupakan dua sejoli yang saling menyinta. Tetapi, ke dua orangtua Laila tak merestuinya. Orangtua Laila tidak ingin anaknya berhubungan dan menjalin cinta dengan Qais yang merupakan seorang pemuda miskin karena tidak semartabat keduanya atau tidak sekufu.

Qais bukanlah keturunan bangsawan seperti dirinya yang merupakan anak seorang hartawan. Orangtua Laila memaksa Laila untuk berpisah dan dilarang berhubungan keduanya. Laila bersedih hati, Qais juga demikian karena cinta mereka terhalang oleh restu orangtua.

Kendatin pun demikian, dia tetap yakin Laila selalu ada di hatinya. Begitu juga dengan Laila, karena keduanya punya perasaan yang sama. Cinta mereka tak akan hilang dan tetap terus berjalan. Sehingga Syams Tabrizi mengatakan dalam sebuah ungkapan indah :

"Perpisahan itu hanyalah bagi orang-orang yang mencintai dengan kedua bola matanya saja, tidak dengan ruh hatinya. Sedangkan bagi orang-orang yang mencintai dengan ruh dan hatinya, tak akan pernah ada kata perpisahan".

Hari-hari yang dilalui oleh Qais dengan selalu merindui Laila sang pujaan hati. Laila juga selalu merindui Qais yang sudah lama terpisah. Bahkan, Bila hati Qais bergetar, maka hatinya Laila juga bergetar. Meski tubuh mereka saling berjauhan. Cinta fisik itu kandas dalam cinta keduanya, karena cinta yang didasari oleh keindahan dan kemolekan tubuh bukanlah cinta sejati, tetapi itu hanyalah cinta yang didasari oleh nafsu. Karena cinta sejati adalah yang lahir dari ruh cinta dan bersemayam di dalam hati.

Tak lama kemudian si Qais menjadi “majnun” atau "gila". Laila terkurung di dalam rumahnya dan tidak punya kesempatan untuk menjumpai Laila. Akhirnya, Qais pergi membawa hati Laila ke dalam hutan belantara karena sangking kecewanya, dan dia berlindung di dalam goa yang ada di sana. Cinta itulah yang membuatnya mengasingkan dirinya.

Kemudian dia berteman akrab dengan penghuni hutan di sana. Cinta dan rindu dendamnya kepada Laila dia ceritakan kepada teman-temannya itu dengan tujuan berkurangnya sedikit rasa beban. Meski mereka tidak bisa memahami bahasa manusia, tetapi setidaknya hati mereka bisa mengerti. Karena, jika pandangan mata saja telah bisa dipahami, apalagi yang dia dikatakan. Betapa misterinya sebuah cinta manusia. Apakah sebenarnya yang menghubungkan antara dua hati manusia itu, sehingga sanggup menembuskan dinding-dinding tubuh itu?. Hanya Allah yang tahu tentang semua itu.

Perpisahan itu kini betul-betul membuat hati dua orang itu remuk, hancur, dan porak-poranda, bagai diguncang badai kuat yang menghapuskan semua harapan. Tubuh Qais al-Majnun tambah semakin kurus karena pikiran kerinduan yang terus merasukinya setiap saat.

Dia pun tidak peduli lagi atas keadaan tubuhnya yang semakin kurus kering itu, karena begitu cintanya terhadap Laila hingga dia pun menjadi gila, gila untuk mendapatkan restu orangtua Laila dalam cintanya.

Berhari-hari dia tidak lagi suka makan dan minum. Kalaupun dia lapar dan haus, dia hanya mengambil dedaunan atau buah yang ada didepannya saja, tidak lagi peduli dengan makanan pokok untuk menjaga stamina tubuhnya, tapi dia makan dedaunan itu hanya sekedarnya untuk bertahan hidup.

Meski dia tidak makan beberapa hari, tetapi ia tetap dalam kondisi sehat walau tubuhnya kurus. Tubuhnya sepertinya tergantung pikiran terhadap Laila sang kekasihnya. Hari-harinya terus diisi dengan bersenandung nama kekasihnya, yaitu Laila. "Laila oh Laila", itulah ukiran yang selalu terlukis dalam benak pikirannya.

Bila ada orang yang lewat dari arah rumah Laila, Qais langsung segera tergerak bangkit. Hatinya berdebar-debar dan menggebu-gebu ingin tahu kabar tentang Laila: "Barangkali Laila ada bersamanya atau tahu bagaimana kabarnya Laila", kata Qais dalam hatinya. “Kalian bersama Laila?”, tanyanya kepada orang yang lewat tersebut. Bila kemudian orang itu menjawab tidak, ia segera kembali ke tempatnya, dengan raut wajah yang sangat kecewa. Kepada rusa dan binatang lain yang selalu datang dan menemaninya, dia terus mengatakan : “Laila, mengapa kau tidak datang bersamanya? Aku merinduimu”, sambil membelai-belai kepala binatang itu.

Dalam gulita malam yang begitu hening, Qais mendengar suara Laila memanggil-manggil dirinya dengan suaranya yang lebut. "Qais, Qais. Oh Qais, di manakah kamu berada? Kemarilah kekasihku". Ia terus memendamkan rindu yang tak tertahankan. Majnun mencari-cari suara itu ke seluruh pelosok hutan belantara itu. Dia berjalan tanpa lelah demi cintanya. Bahkan, Bila Laila tidak dijumpai di sudut itu, ia segera bergegas datang ke arah rumah Laila dengan tanpa merasakan lagi kelelahan itu.

Dia mencoba memberanikan diri dengan menerima seluruh risiko yang akan terjadi terhadap dirinya, termasuk kematian sekalipun. Dia juga tidak lagi peduli dengan kondisi tubuhnya yang kotor dan sudah berbau tidak sedap, juga rambutnya yang sudah menjadi gimbal karena sudah lamanya tanpa perawatan, atau terlihat seperti gembe. Bila malam menjelang, dia segera menyalakan kayu bakar, juga obor kayu di tangannya. Ia berjalan terus menuju rumah Laila, karena begitu rindunya terhadap Laila.

Laila yang dikurung di dalam rumahnya, merasa kekasihnya akan datang. Maka, Ia memang terus menyebut nama Qais Majnun dalam setiap rintihan yang memelas lembut. Kemudian ia mengintip ke luar seakan-akan Qais terlihat dari kejauhan, dadanya bergemuruh keras, berdegup-degup kencang karena inginnya berjumpa dengan kekasihnya. Dan ternyata matanya melihat Qais Majnun sudah di depan halaman rumahnya sambil memegang obor kayu dengan api yang sedang menyala-nyala. Kemudian ia membuka pintu rumahnya, ia juga tidak takut lagi kepada orangtuanya bila nantinya mereka mengetahui pertemuan keduanya itu. Dia juga sudah siap menerima hukuman apapun bila nantinya orangtuanya tahu pertemuan itu. Mata Qais Majnun tak berpaling dari mata Laila, mata Laila pun juga terus menatap mata Qais, padahal api kayu bakar sudah menjalari tangan Majnun karena obor yang di tangannya sudah habis terbakar, tetapi majnun tak merasakan hal itu terjadi.

Seakan dirinya telah hilang dalam jiwa Laila, masih dalam saling menatap keduanya. Laila seperti tidak percaya kekasihnya datang. lalu Laila bertanya kepada Qais: “Qais? Kamukah Qais?”. Majnun berteriak keras saat itu. Suaranya mengguncang dedaunan pohon yang ada di sekitarnya : “Bukan, Aku Laila”. “Aku bukan Qais. Aku adalah Laila. Aku Laila!” dengan ucapan yang terus berulang-ulang. “Aku adalah Kau” kata Qais lagi. Qais mengalami ekstasi saat itu atau “Hulul”, “Fana” dan “Ittihad” (hilang bentuk, lebur tanpa sadar) seolah-olah dia adalah Laila karena merasakan sudah satu jiwa.

Karena Hatinya sudah larut menyatu di dalam hatinya Laila. Qais al-Majnun pun terjatuh dan tidak sadarkan diri, Laila pun terguncang keras. Shok berat melihat keadaan itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa, hanya terdiam membisu. Bahkan, tak bisa lagi menangis, air matanya telah terkuras sejak kemarin karena sudah setiap harinya mata itu menangis. Tubuhnya Laila pun kaku. Ia pun terkulai dan terjatuh ke tanah. Ia tak lagi bisa menjerit dan bersorak karena suaranya telah lama habis.

Qais al-Majnun, si “gila” cinta itu akhirnya tidak lagi bernafas. Ia mati ketika itu. Tubuhnya mendingin. Keesokan harinya yang sunyi-sepi Laila menyusul kekasihnya, pulang ke hadapan sang Mahakuasa. Bibirnya mengembang senyum yang begitu indah. Ia tampak begitu cantik menawan, wajahnya berbinar-binar dan bercahaya. Ia ditidurkan di samping Qais al-Majnun. Seperti bisiknya dulu kepada ibunya sebelum nafasnya berhenti menghadap kematian. "Ibu! Tidurkan aku di samping Qais, di atas lempung dua pusara bersahaja itu, dan saat itu kami tak lagi dapat dipisahkan". Tamat sudah kisah ini sampai di sini.

Semoga saja kisah bersahaja ini menjadi renungan bagi diri saya pribadi dan bagi sahabat-sahabat sekalian. Jangan lupa saran dan kritikannya agar ke depannya menjadi lebih baik.

Salam Inspitatif


Posted from my blog with SteemPress : http://saifmmc.rf.gd/2018/10/03/kisah-cinta-yang-berakhir-sampai-ajal-menjemput-mereka/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!