Ketika Lawatan Sejarah Nasional Tak Memperhatikan Kearifan Lokal

in #indonesia3 years ago

6f766b2e-f814-4367-81cf-3ceff41c0f65.jpg
Peserta Lawatan Sejarah Nasional Tahun 2018

Event bergengsi yang diadakan setiap tahunnya oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia, kali ini bertempat di Aceh. Ada sekitar 250 orang peserta yang berasal dari berbagai propinsi di Indonesia.

Aku juga bagian dari peserta yang mewakili komunitas I Love Songket Aceh. Selain itu juga ada 16 komunitas lokal yang mengikuti kegiatan yang sama denganku. Acara ini bernama Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) dan ini kali ke-16 nya dibuat oleh Kemendikbud.

P_20180507_121446.jpg

Sebenarnya acara ini diperuntukkan bagi siswa SMA/sederajat, tapi Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh dan Sumatera Utara melibatkan komunitas lokal yang ada di Aceh untuk ikut dalam acara ini. Hal seperti ini menurutku tidak lain untuk membuat para peserta dari daerah lain yang merupakan anak SMA, bisa belajar dari komunitas yang ada di Aceh.

Namun, sayangnya ekspektasiku jauh dari kenyataan. Kami yang dari komunitas hanya menjadi penonton dari apa yang mereka lakukan. Padahal banyak hal yang bisa dipelajari dari komunitas. Misalanya dari komunitas Masyarakat Peduli Sejarah (Mapesa) Aceh yang setiap minggunya melakukan lawatan ke berbagai tempat sejarah yang ada di Aceh.

Kemudian juga ada komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPi) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) yang gencar melakukan promosi pariwisata di Aceh dan juga beberapa komunitas lainnya yang konsen dengan bidangnya masing-masing.

P_20180429_100529.jpg
Lawatan ke Benteng Pertahanan Sultan Iskandar Muda.

Tentunya perwakilan dari komunitas ini bisa dijadikan sebagai tempat bertanya oleh para peserta dari luar Aceh. Sayangnya sekali lagi tidak. Kami dari komunitas dianggap antara ada dan tiada yang berada di garis abu-abu. Peserta bukan, guru pendamping pun bukan. Kami hanya mengikuti serangkaian acara yang dipanitiai oleh event organizer (EO) dari luar Aceh.

Pelajari Dulu Kearifan Lokalnya!

Sebenarnya bukan menjadi masalah bila komunitas di Aceh tidak dilibatkan dalam serangkaian acara yang sudah terstuktur itu. Hanya saja, bila ingin membuat acara di Aceh haruslah mengetahui kearifan lokalnya. Aku rasa, semua daerah pun juga begitu. Makanya ada pepatah yang mengatakan “di mana bumi dipijak, di situ langit di junjung.”

Sayangnya EO yang memegang acara dari Kemendikbud ini tidak menerapkan prinsip itu, jadi saat acara pun banyak peserta yang bertanya “Kok Aceh begini?”

P_20180428_134442.jpg
Lawatan ke Makam Sultan Iskandar Muda.

Terutama saat masuk jadwal salat. Biasanya di Aceh ketika jadwal salat tiba yang ditandai dengan suara azan, semua orang bergerak menuju masjid untuk menunaikan salat. Kalau pun ada yang tidak menyegerakan salat, paling tidak mereka mendengarkan azan terlebih dahulu sampai suara azan selesai dikumandankan.

Bila ada seorang guru bahkan profesor sekalipun yang sedang ceramah di dalam suatu forum, ketika suara azan berkumandan dia wajib untuk diam sejenak mendengarkan suara azan tersebut dan setelah azan, dilanjutkan kembali ceramahnya. Begitulah orang Aceh menghargai suara azan dan waktu salat.

Tak heran ketika Bu Sukmawati membandingkan azan dengan kidung dalam puisi “Ibu Indonesia” membuat masyarakat Aceh begitu marah. Ratusan puisi balasan datang dari pemuda/pemudi Aceh. Tidak hanya puisi, lagu pun diciptakan oleh orang Aceh untuk membalas puisi Bu Sukma.


Lagu Reneboy Sumber

Nah, ketika acara Lasenas Aceh 2018, kearifan lokal itu tidak diterapkan oleh EO yang semuanya dari luar Aceh itu. Entah mereka tidak mau tahu atau sengaja mengabaikannya sehingga saat acara, tidak ada waktu khusus untuk salat yang diberikan kepada peserta.

Jadi, kita harus pandai-pandai untuk mencari waktu luang supaya bisa salat diantara jadwal yang begitu padat itu. Aku dan beberapa teman dan peserta lain sempat komplain tentang jadwal salat dan di mana waktu salat. Terlebih kegiatan kami terus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Ketika ditanya ke panitia “kapan waktu salat dan di mana tempatnya?” Jawabannya membuatku dan teman-teman lain nyesak. “Nggak tahu.” Itulah kalimat yang keluar dari panitia tersebut.

Aku benar-benar tidak nyaman dengan jadwal acara yang dibuat oleh EO luar itu, bukan saja aku, peserta lain dari luar daerah yang muslim juga merasakan hal yang sama. Karena tidak menentunya jadwal salat dan terus di PHP-in akan berhenti di Masjid, aku salat zuhurnya pada pukul 15.10 WIB.

Ada salah seorang peserta bertanya kepadaku. “Kak, kalau di sini asarnya pukul berapa?” Pukul empat jawabku singkat, sambil melipat telekung yang baru kupakai setelah salat zuhur.

“O.., kalau di tempat saya asarnya setengah 4, dan ini saya mau salat zuhur.” Dia tersenyum kepadaku dan meneruskan salatnya.

Aku melirik jam, pukul 15.20 WIB dia melakukan salat zuhur di Aceh hampir masuk waktu asar. Ada hal yang menggelitik hatiku dan berbunyi krik, krik. Sebenarnya itu teguran halus darinya yang dapat kutangkap “Ini Aceh loe, salat zuhurnya mau masuk asar?”

Pelajari Tempat dan Kondisi

Perkara salat bukan hanya aku saja yang merasakannya. Ternyata beberapa temanku yang lain juga mengeluhkan hal yang sama. Para peserta dari daerah lain dan juga guru pembimbingnya bertanya-tanya kepada kami orang Aceh dan kami pun juga bingung menjawabnya, karena posisi kami sama dengan mereka.

P_20180430_174257.jpg

Jadilah “Aceh Si Buruk Rupa Dari Indonesia” seperti yang ditulis Yudi Randa seorang blogger yang juga ikut mewakili komunitas Gam Inong Blogger di acara Lasenas 2018.

Berikutnya yang menjadi kendala ialah mereka (EO luar) tidak mengetahui jelas lokasi tempat dan kondisi di Aceh. Hal ini terbukti dari ambur adurnya pengaturan jadwal, karena jarak antara satu tempat ke tempat lainnya yang menjadi lawatan kami berjauhan. Sehingga tidak semua obyek lawatan sejarah seperti yang dijadwalkan dapat dikunjungi.

Lain lagi kondisi tempat wisata yang tidak bisa dilalui oleh bus besar, sehingga peserta harus berjalan kaki sekitar 1 km untuk ke tempat tersebut seperti ke Makam Pahlawan Nasional Teungku Chik di Tiro. Ini tentunya menghabiskan waktu dan tenaga peserta karena banyak obyek lainnya yang harus dikunjungi.

Begitu juga saat di Sabang yang hampir satu jam berkutat "si pulan naik mobil mana, nginap di mana, dan teman-temannya siapa saja". Bahkan kami dua kali ganti mobil untuk sampai ke penginapan masing-masing. Akhirnya kami hanya dapat mengunjungi satu obyek lawatan sejarah yang ada di Sabang, yaitu Nol Km Indonesia.

Sedangkan lawatan sejarah ke Rumah sakit Jiwa Sabang RSAL. J. Lilipory, Eeuropeesche Lagere School, dan Sign Post tak bisa kami kunjungi karena pergeseran waktu tiba-tiba.

Menurut jadwal, acara penutupan pada malam hari. Namun, tiba-tiba kami disuruh besegera ke CT-1 Pelabuhan BPKS Kota Sabang untuk acara penutupan pada pukul 15.20 WIB. Ternyata acara digeser karena beradu jadwal dengan penutupan Sabang Marine Festival 2018 yang juga dilaksanakan pada malam tanggal 30 April 2018.

P_20180430_173916.jpg
Persiapan peserta dari Papua yang akhirnya tidak jadi tampil.

Akibatnya banyak para peserta yang tidak bisa tampil di acara tersebut karena waktunya yang begitu singkat. Padahal mereka sudah mempersiapkannya lengkap dengan pakaian adat dari daerahnya masing-masing.

Peserta dari Papua, Padang, dan Bali menangis ketika panitia mengatakan tidak ada waktu lagi untuk tampil. Aku yang melihat wajah-wajah kecewa dari peserta yang sudah berpakaian adat lengkap itu, hanya bisa merangkul bahunya untuk meredam rasa kecewa itu.

Aku bingung harus berbuat bagaimana. Sebagai tuan rumah aku merasa bersalah atas kesalahan dari orang-orang yang tak tahu 'di adat' itu. Seharusnya mereka berkoordinasi dengan panitia atau komunitas lokal untuk mengkondisikan tempat dan suasana di Aceh. Sayangnya mereka terlalu ego untuk melakukan sendiri. Ujung-ujungnya, seperti itulah jadinya.

Tema yang digunakan “Sejarah sebagai memori kolektif dalam pendidikan karakter” tidak diterapkan oleh panitia yang menghendel acara ini. Mungkin mereka lupa memori tentang Aceh yang berkali-kali dikelabui oleh pemerintah pusat.

Tulisan ini bukan untuk mencari kesalahan atau memojokan panitia, hanya saja sebagai pengingat untuk kegiatan berikutnya jangan sampai terulang untuk yang sekian kalinya di tempat lain.

Bila mereka anggap orang Aceh “Sebleng” seperti yang dituliskan Yudi Randa dalam Hikayat Banda, mereka juga perlu tahu Aceh pungo (gila). Bukan gila harta dan kekuasaan, tapi gila dalam artian penantang ketidakbenaran.

Semoga mereka tak lupa bahwa orang Aceh ibarat singa yang sedang tidur, bila diusik dia akan mengaum. Itu pula yang membuat Belanda sulit menaklukkan Aceh. Jadi, bila ada orang luar yang mengusik kearifan lokalnya, mereka tak segan-segan menegurnya.

Sort:  

Sya sangat iri karana ngak bisa hadir kawan... Seru bnget klhtannya

Iya, seru banget pastinya 👍

Share ke orang BNPB, Yell.

Iya kak😁👍

Tulisan ini di share juga ke EO-nya Kak. Hehehe..

Sayangnya tak ada nomor mereka 😥

Masiiiih geram bacanya, Yell. Lagi-lagi kepikiram anak-anak itu. Semoga ada ibrahnya...ke depan kalau ada event begini lagi kuatkan panitia lokalnya... Bersinergi dengan tepat.

Iya kak, smoga kegiatan ini menjadi pembelajaran untuk kegiatan ke depannya.

Tulis di serambi sebiji yell. Untuk hari minggu.

Bukannya hari Minggu untuk rubrik sastra ya bg?

Bisa juga esai budaya.

Promosikan budaya dan sejarah daerah

Mereka juga perlu tahu Aceh pungo (gila), bukan gila harta dan kekuasaan, tapi gila dalam artian penantang ketidakbenaran.

Saya suka bagian ini. Kontak panitia ada Yel, di halaman paling belakang Buku Panduan Lasenas.