COBA DULU, NILAI KEMUDIAN

in #indonesia2 months ago (edited)

()

Ku kira selangkah lagi aku berhasil mencengkram egonya, karena memang itu yang kutargetkan setelah beberapa tahun perjuanganku melakukan pendekatan. Memang dari dulu kuperhatikan dia mulai dari raut wajah, senyuman sinis yang selalu kurasakan penuh nyinyir, cara bicara yang angkuh, sampai cara duduk yang memperlihatkan betapa dunia ini milik dia seorang.


Sejujurnya aku bahkan merasa mual melihat orang ini dari kejauhan, Ya Allah...Bagaimana rasanya dekat dengan makhlukmu ini, apa yang terjadi andai aku berhutang jasa dengan dia, dan langit mana yang akan runtuh jika aku berhutang uang 1 rupiah saja. Pastinya aku tidak akan bisa tidur nyenyak sampai semuanya kubuat impas.


Namun, semakin kubenci semakin terasa ada hal lain yang memaksaku mendekat. Dikarenakan seorang sahabat dekatku begitu akrab dengan si fulan ini. Sambil duduk kubertanya dalam hati, ada apa gerangan sehingga sahabatku yang begitu baik bisa menjalin persahabatan dengan orang yang menurutku lebih arogan dari Tsa'labah itu. Dalam kengamangan itu pula kupaksakan diri bertanya langsung. "Saudaraku, kenapa dirimu begitu akrab dengan dia, sedangkan aku sendiri merasa dia bagaiman mata pisau bermata 2, bahkan saat didalam sarungpun masih bisa menembus perut tuannya.


Sahabatku pun tertawa, rupanya pertanyaanku itu adalah yang ke sekian kali pernah ditanya juga oleh beberapa sahabat yang lain. Sambil senyum, sahabatku menjawab. "Durian itu tantangannya adalah duri yang tajam, belah dulu baru kamu tau betapa manis isinya".


Singkat saja, rencanaku untuk mengguling kekuasaanya memudar setelah beberapa kali kami berbincang. Akhirnya dia mengalahkan kesopananku dengan ketidaksopanannya, dia menghancurkan ketidaksombonganku dengan arogansinya. Didepan mataku dia berkata, "Demi Allah aku sadar diri dinilai sombong dan angkuh oleh sebagian orang" tetapi untuk merubah pandangan orang lain terhadapku aku tak kuasa. Mungkin melalui bersahabat denganmu Allah membantuku merubah segalanya.


Suatu hari, pernah ada seseorang yang memfitnahku, dan isu itu sudah beredar di kalangan masyarakat. Tak disangka-sangka. Dia yang dulu kubenci berani mempertaruhkan namanya sendiri untuk membelaku, di keramaian dia berkata "wahai saudara, si fulan itu sahabatku, aku tau dia lebih dari yang kamu tau, jika memang benar dia seperti yang kamu tuduhkan, SAYA YANG AKAN BERTANGGUNGJAWAB. Seketika itu pula isu dan fitnah itu terhenti.

SANGAT WAJAR DURIAN BERDURI, KARENA ISI DI DALAMNYA LEZAT SEKALI.