Keumalahayati sebagai hadiah International women's day

in #indonesia4 years ago (edited)

image

Pada hari perempuan nasional ini ada suatu hal yang mungkin luput dari banyak pemikiran wanita pada masa kini, ketika kehilangan seorang yang kita cintai sudah sangat lumrah jika kita akan merasa terpuruk, jatuh, kehilangan, dan merasa kesedihan yang teramat dalam, namun apakah hal itu akan terus menjadi sebuah keabadian? Menyalahkan keadaan bahkan tuhan? Sedangkan hidup terus menerus tergerus, dan kita terlalu nyaman dengan rasa sedih kemudian hidup menjadi terasa selalu kelam. Ketika kesedihan ini datang sering sekali perempuan kehilangan kekuatan dan merasa diri teramat lemah terhadap keadaan.

Tapi perempuan bernama Keumalahayati menolak kesedihan itu, perempuan Asal Aceh ini tau benar arti namanya “batu indah dan bercahaya” tergerus kesedihanpun Keumala tetap keras, kokoh, sebagai wanita ia pun tampak sangat indah dan bercahaya, ketika itu ia dipercaya sultan untuk menjabat sebagai kepala pegwai dan protokol di istana, namun suatu hal terjadi padanya dan membawa pengaruh besar dalam hidupnya, pada saat perang melawan tentara Portugis suami Keumalahayati tewas di Teluk Haru, betapa kesedihan itu membuat keumala murka kepada para “Kafe-kafe” itu, lantas apakah ia menjadi durjana dan menyelami kesedihanya? Tidak, justru ini menjadi motivasinya untuk bangkit dan berbuat sesuatu.

Keumala lantas meminta izin kepada sultan untuk membentuk pasukan armada laut khusus yang terdiri dari janda perang (Inong Balee) yang siap berjaga, juni 1599 Cornelis de Houtman dan Frederijk de Houtman memasuki pelabuhan Aceh bersama sejumlah pasukan, kedatangan mereka disambut dengan suguhan jamuan oleh sultan, namun semakin lama niat jahat merekapun terbongkar konflik terjadi tak terelakan, dan pada 11 september 1599 ditangan Keumalahayati, Cornelis de Houtman habis ditikam oleh rencong miliknya dalam sebuah pertempuran.

“Di kapal Van Leeuw telah dibunuh Cornelis Houtman oleh Hayati sendiri, sedang Frederick de Houtman ditawan,” tulis Marie van C. Zeggelen dalam Oude Glorie.

Keberanian hayati meyakini kebenarannya semakin menjadi-jadi, tahun 1600 Paulus van caerden pimpinan angkatan laut belanda merampok dan menenggelamnkan kapal dagang Aceh yang penuh dengan rempah-rempah, Keumalahayati kembali geram setelah kejadian ini Jacob van Neck seorang angkatan laut belanda di tangkap oleh keumalahayati saat ia berlayar disekitar perairan Aceh, ekspedisi angkatan laut belanda akhirnya dipersulit dan pada akhirnya Maurits van Oranje mengirim utusan untuk memberikan surat permohonan maaf kepada Kesultanan Aceh, tahun 1601 keumala menemui Maurits untuk membuat perjanjian gencatan senjata, serta ganti rugi 50 ribu gulden atas kompensasi dari tindakan Paulus, sebagi gantinya keumalahayati akan membebaskan tentara belanda yang ditahan, perjanjianpun disepakati. Perjanjian itu lahir dari pemikiran seorang perempuan.

Keumalahayati dijuluki Guardian of The Aceh Kingdom oleh inggris dan karnanya membuat dunia merasa segan terhadap Aceh sehingga cara Diplomatik dipilih sebagai langkah untuk memasuki selat malaka, Keumala hayati dipercaya oleh sultan menjadi seorang diplomat, melakukan perundingan-perundingan sebagai perwakilan kesultanan Aceh.

Segala rasa kesedihan dijadikan motivasi untuk mengkentikan lawan, bukankah tidak ada rasa sakit yang lebih besar dari pada kehilangan seseorang selama-lamanya? Terlebih bagi seorang perempuan, yang menggunakan rasanya lebih dalam dari logikanya, yang jelas ada darah perlawanan dan keberanian yang mengalir pada nadi perempuan-perempuan Aceh, jangankan untuk takut dalam gelap malam, untuk menancapkan rencong di tubuh lawanpun tak ada sedikitpun rasa ketakutan jika dihatinya telah diyakini sebuah kebenaran.

Keumala, juga perempuan pejuang dari Aceh lainya telah menunjukan bahwa emansipasi telah dikenal dan dilaksanakan dalam praktik kehidupan di Aceh sejak dulu, bahkan sebelum kartini mewacanakan, lalu pantaskah kita perempuan masih terus tenang melemah dan memilih menajadi korban terlebih dahulu lalu meraung-raung setelah itu, Keumalahayati bisa saja menjadi korban ketika pertarungan melawan Cornelis de Houtman , namun ia memilih menjadi pelaku dengan membuang semua rasa ketakutan ketika kebenaran telah tertanam dalam-dalam.

Juga bagi beberapa lelaki-lelaki jaman sekarang yang sedikit-sedikit pempersoalkan keperempuanan ketika emansipasi digembar-gemborkan, Keumalahayati tak mungkin bisa bergelar laksamana jika Sultan dan lingkunganya tak mendukung hal itu terjadi, jika memang laki-laki merasa diinjak-injak harga dirinya dengan sebuah emansipasi tunjukanlah bahwa kalian masih layak memimpin dunia yang nyata ini, berhenti bertindak bodoh dengan dunia virtual yang membuatmu seakan terlihat agung dengan memiliki hero yang canggih, dengan begitu kami (perempuan) akan semakin belajar untuk tidak mudah dibodoh-bodohi, bukan belajar bersabar jika kekasih hati lebih memilih bermain game sendiri.

“kau ialah betina, kalau cuma tau makan, tidur, bersolek dan kawin, banyaklah belajar, rancanglah masa depan, pandai-pandailah menempatkan diri maka kau boleh disebut wanita, tapi untuk menjadi perempuan, kau juga harus memiliki kesadaran, ketulusan, dan bisa menjadi tempat untuk berpulang, serta kuat untuk dijadikan pijakan” kata Lenang Manggala

#internationalwomensday

Sort:  

Congratulations @nisarizkya! You received a personal award!

Happy Birthday! - You are on the Steem blockchain for 1 year!

Click here to view your Board

Support SteemitBoard's project! Vote for its witness and get one more award!

Congratulations @nisarizkya! You received a personal award!

Happy Birthday! - You are on the Steem blockchain for 2 years!

You can view your badges on your Steem Board and compare to others on the Steem Ranking

Do not miss the last post from @steemitboard:

SteemitBoard Ranking update - A better rich list comparator
Vote for @Steemitboard as a witness to get one more award and increased upvotes!