Menyederhanakan Hidup dengan Logika Sosial.

in #indonesia3 years ago (edited)

Tulisan ini terinspirasi dari status Bupati Abdya, Akmal Ibrahim: Kesombongan Sosial.



Sumber

Di halte terminal, Bocah, aku menaksirnya seumuran SLTP, masyuk dengan gawainya.
Bingung juga kegunaan tempat singgah penumpang di pojokan terminal satu ini.

Tapi sejak ada yang menyediakan wifi gratis. Sebuah program dari pemerintah dalam paket taman digital, telah mampu menyedot pengguna semua kalangan umur.

Gratis selalu diminati, bukan?
Bocah itu tak berpaling, tak terganggu dengan motor dan mobil yang lalu lalang di terminal. Bahkan tak sempat dia melirik teman temannya yang juga asik sendiri.

Jika malam tiba, jangan ditanya, tidak ada tempat yang bisa diklaim sudah dibooking, karena tempat duduk disini berlaku hukum siapa cepat dia dapat.

Terkait kontent yang di akses, tak ada yang ambil peduli. Keberadaan taman digital di halte ini seperti mata pisau, siapa yang memegang gagangnya maka tau kemana arah mata tajamnya.

Pengawasan pengguna seharusnya lebih intens dari keluarga dalam penanaman penggunaan internet sehat dan menggunakan fasilitas untuk yang bermamfaat.

Taman digital yang tersedia di pojok terminal kota, dalam konsepnya wah, namun miskin sarana. Tempatnya kering kerontang, cuma ada bangunan halte, rumah makan dan pagar terminal.

Kecepatan akses dan jarak akses bermamfaat bagi warga sekitar, sebuah nilai lebih memang, namun kata taman sudah demikian melekat dalam benak bahwasanya ia adalah nuansa alam dan ruang publik yang menyenangkan.

Bicara lebih jauh, lingkungan kita sudah sangat gersang, tak lagi menyejukkan. Bangunan terus berdiri tanpa dibarengi pohon tumbuh.

Ruang terbuka hijau, menjadi sorotan dari warga kota. Kota kita terlalu futuristik, lakon modernisasi yang serba mesin dan beton.

Menemukan hijau hutan kecil atau sekedar taman bermain anak, lupakan sajalah.

Jangan bermimpi ada kicau burung atau lokasi yang alamnya memberi kesan damai, kecuali anda ke pesisir pantai atau kegunung.

Anak anak kota, bocah bocah itu terlalu aktraktif secara sosial namun sulit menemukan tempat yang memberi jiwanya lebih lembut dan menyerap energi alam.

Mereka terlalu sibuk bersaing, berkompetisi menjadi yang tercepat mencapai level di sebuah game atau menguasai game terbaru.

Pantau saja warnet yang berbayar, para bocah lebih cenderung mengakses video youtube dari berbagai hiburan yang mampu membuat gelak tawa.

Tertawa saja mereka sudah online, sangat jarang kita temukan kelucuan sederhana yang memantik tawa dalam pergaulan sehari hari.

Semua tersistem penuh aturan, hanya keluarga yang sadar perkembangan zaman mempersiapkan anak anaknya agar tidak gagap dikemudian hari.

Kembali lagi ke lingkungan, masih sempatkah kita bermufakat dalam kebaikan, saat semua pejabat selevel ketua pemuda semua dipolitisir, #gantiketua, bahkan imum chiek di isukan tak netral dalam pemilihan keuchik. Semua drama tak lepas ada "bainah" di dalamnya.

Lalu cerita siapa yang tidak berasap dapurnya 3 kali sehari, masih saja mereka berdebat. Dia miskin pendapatan tapi kaya harta, anak anaknya orang berkecukupan, atas dasar apa mendapat subsidi atau bantuan, apa bukan karena keluarga tuha peut tuha lapan.

Ah basi, lingkungan kita sudah sangat dirusak oleh anggaran desa, bukan dirusak penggunaannya tapi pengelolanya, siapa yang bertanggung jawab atas kemandirian Gampong dalam peningkatan aparatur desa.

Ah kuno, alasan klasik, kebaikan dan perubahan akan selalu menemukan penentang lawan yang sepadan.

Semakin anda ambil peduli tentang keprihatinan maka komentar miring makin menjatuhkan. Siapa yang sanggup dibully, di hinakan dan remehkan, tanya mengapa?

Hanya pemuda dan orang orang yang berjiwa baja dan visioner yang mampu menutup telinga, mengelus dada dan terus berkarya demi kebaikan lingkungannya.

Jika berpikir pendek, maka pemerintah akan dituding sebagai segala sebab, mungkin karena Kebiasaan kita sering melihat satu tumpuk sampah sangat mengganggu dari pada mengambil sekrop dan segera membersihkannya.

Ah makin meracau saya, pada bocah, taman digital, ruang publik dan pemuda tangguh. Lakon lakon hidup yang terpisah namun saling mengisi ruang, hidup memang komplek namun kita harus mampu menyederhanakannya dalam logika sosial.

Logika sosial harus kita mainkan dalam memotret beragam bentuk budaya, kegiatan aktiv partisipatif, kebutuhan dasar dan keinginan untuk dihargai dan diapresiasi.

Intinya logika sosial mengikat manusia dengan manusia dan manusia dengan alam, dan akhirnya menjadi keshalehan sosial.

Logika sosial harus sedemikian sehingga bisa dirumuskan dan di terus di awasi perkembangan alaminya, dan pastinya butuh aturan hukum yang jelas sebagai pembatas agar cerita warung kopi tidak menjadi isu lokal yang tidak berfaedah.

Lantunan irama hidup, mengajak kita selalu peka namun terkadang kudung mati rasa, bukan karena tak sudi berbuat dan peduli, seringkali ikhtyar akan selalu berhadapan dengan sebuah rekomendasi atau ketebelece.

Logika sosial menjadi kabur dan kemudian menjadi benih kesombongan saat logika sosial harus diterima dengan keterpaksaan atas desakan kekuasaan. Semoga saja tidak.

Wallahu aqlam bishawab.

Blangpidie, 27 Agustus 2018.


Sort:  

Lama gak keliatan...
Keren ya, abdya punya taman digital..

Hai @masripribumi. Tulisan ini telah masuk dalam Artikel Pilihan Arteem Minggu Ini dan disebutkan di Artikel terbaru @arteem di https://steemit.com/steemit/@arteem/artikel-pilihan-inisiatif-arteem-minggu-ini-1-f96c08c750a9d.

Terimakasih telah berbagi.

Posted using Partiko Android

Terobosan yang bagus di Abdya.

Coin Marketplace

STEEM 0.67
TRX 0.10
JST 0.075
BTC 57076.76
ETH 4733.10
BNB 631.61
SBD 7.25