Travel #1: Dikira Hantu Dari Gunung Lawu

in #indonesia4 years ago (edited)

Pada suatu malam pada tanggal 10 Suro Kalender Jawa sekitar 3 tahun lalu, saya diajak pergi mendaki sebuah Gunung yang dianggap paling keramat di Pulau Jawa. Gunung Lawu namanya, gunung ini terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung keramat yang banyak dikaitkan dengan sejarah dan mitos, sebagai tempat bertapa Wali Sanga dan moksanya Prabu Brawijaya V yang mengasingkan diri ke Gunung tersebut karena pertempuran di kerajaan Majapahit, itu masih menjadi sangat sakral terutama bagi pemeluk agama Hindu, Budha, dan Kejawen. Dipercaya bahwa bulan Suro adalah waktu di mana semua "makhluk gaib" berkumpul di Gunung tersebut, dan banyak sekali upacara dan orang-orang yang mencari "berkah" datang ke sana.

2017-10-06 11.05.28.jpg
Kota Tawangmangu dari depan petilasan.

Pada malam ini seharusnya saya dan kawan-kawan mendaki Gunung dari jalur pendakian Cemoro Kandang, namun karena sedang terjadi kebakaran dan ditutup, niat itu pun terpaksa dibatalkan. Kebakaran yang terjadi cukup besar dan menewaskan sekitar 10 orang pendaki. Menurut cerita, kebakaran itu akibat lalai mematikan api unggun dan ada juga yang meyakini sebagai hukuman dari para penunggu guning keramat itu karena sudah berbuat maksiat di gunung tersebut, apalagi di Bulan Suro. Jadi, akhirnya kami memutuskan untuk naik saja ke Pringgodani, sebuah situs sejarah di Gunung tersebut, lereng barat Gunung Lawu di ketinggian 1300 dpl. Saya ingin melihat bagaimana orang-orang "beribadah" di sana pada tanggal 10 Suro yang sangat sakral itu.

Kebetulan hari itu juga adalah hari Kamis, dan kami berpuasa, sehingga kami menunggu waktu lepas Isya untuk mulai naik ke atas. Kami berbuka dulu di kota Tawangamangu yang dingin dan sangat tenang. Hari sudah gelap dan suasana mistis dan mencekam sangat terasa. Api yang membakar hutan dan para pendaki malang itu nampak jelas, tentunya membuat hati dan pikiran pun ke mana-mana. Jika tidak terbiasa, pasti sudah takut duluan dan balik badan tidak jadi naik. Saya tidak mau kalah dengan rasa takut, saya tetap memutuskan ikut.

Di perjalanan, kami bertemu dengan beberapa rombongan kecil yang malam itu sengaja juga naik ke atas. Mereka memang ingin melakukan ritual mandi di pancuran tujuh alami dan sembahyang di petilasan Eyang Panembahan Koconegoro, untuk membersihkan diri sekaligus memohon berkah. Mereka membawa segala macam keperluan ritual seperti kemenyan, bunga tujuh warna, dupa, nasi dan lauk pauk untuk persembahan, dan entahlah apalagi, saya kurang pedulikan.

Perjalanan cukup melelahkan, nanjak banget, gelap, licin dan tanahnya berair. Barangkali juga efek dari masih lemas karena puasa dan baru makan banyak. Kawan-kawan sudah duluan naik, mereka lebih cepat. Saya "alon-alon sing kelakon saja", sendirianlah akhirnya saya berjalan naik menelusuri jalan setapak ke atas.

Di tengah jalan, ketika saya sedang asyik menikmati keheningan, suara gemercik air, dan udara yang dingin, tiba-tiba saya melihat tiga orang pria yang sedang menuruni gunung, di hadapan saya meloncat dan berteriak. Saya ikut terkejut jadinya, ngeri-ngeri sedap juga perasaan pada waktu itu. Jangan-jangan mereka melihat yang bukan-bukan di dekat saya. Saya pun langsung mendekati mereka, dan mereka memandangi saya dengan mata yang ketakutan.

"Dik, ada apa?", saya pun bertanya.

Salah seorang dari mereka kemudian tersenyum dan kelihatan lega sekali. Kedua temannya ditepuk dan diberi tahu kalau tidak ada apa-apa.

"Walah, mbak! Tak pikir jenengan (kamu) itu makhluk halus. Perempuan rambut panjang diurai jalan malam-malam naik gunung di bulan suro lagi! Pakai kain jarik dan nggak nampak sepatunya. Kaget aku, Mbak!", kata salah satu menjelaskan.

Saya tertawa. Saya memang sengaja pakai kain karena mau numpang dan mencoba mandi di pancuran, katanya airnya segar banget. Kalau pakai baju biasa, repot urusan gantinya. Saya tidak yakin ada tempat layak dan "aman" untuk ganti baju. Kalau sepatu, saya suka malas pakai sepatu, enak pakai sendal jepit saja. Lagipula, karena licin sekali, saya memutuskan membukanya, saya berjalan tanpa alas kaki. Telapak kaki dan jemari kaki "grip"nya lebih kuat daripada plastik! Wajar dikira hantu, saya juga baru sadar! Apalagi kalau cuma disenter! Hahaha....

Akhirnya saya sampai juga di pancuran, sebelumnya melawati sebuah tempat yang konon dipercaya tempat ritual khusus bagi yang ingin mencari pasangan dan memiliki keluarga harmonis. Saya tak mampir, untuk apa juga, saya pikir. Di pancuran itu banyak sekali orang ternyata. Sebagian duduk-duduk di sekitar, ada yang sedang sembahyang dan melakukan ritual, dan banyak sekali yang telanjang mandi di pancuran! Masyaaallah....

Itu perempuan dan laki-laki hilir mudik berebutan air pancuran, ketujuh pancuran tersebut harus dipakai mandi airnya agar mendapat berkah, katanya. Tapi, mengapa sampai harus telanjang dan atau hanya berpakaian dalam? Malu banget kelihatan ke mana-mana walaupun lampu penerangan sangat minim. Saya tidak mau berpikir macam-macam dan lebih jauh, biarkan mereka dengan kepercayaan mereka. Otak dan hati saya saja yang harus dikendalikan, pikiran porno itu 'kan karena saya sendiri. "Mereka cuma ritual, kok!", begitu saya pikir.

Setelah agak sepi, jam sudah menunjukkan pukul hampir jam 1 pagi, saya baru mau mencoba mandi. Saya pikir dingin banget, ternyata tidak. Segar! Airnya masih murni dan alami, enak banget! Barangkali karena saya sudah terbiasa, saya memang tinggal di gunung dan malas mandi air hangat.

Ada kemudian seorang kawan, yang duduk di sebelah saya persis. Dia tidak berani mandi karena takut dingin. Dia meringkuk saja seperti kucing. Namun, tiba-tiba dia mulai seperti membeku, bola matanya naik ke atas dan tak sadarkan diri. Saya berusaha keras menghangatkannya, dan meminta bantuan. Orang-orang kemudian membawa dia naik ke atas, ke restoran di atas petilasan yang sekaligus dijadikan tempat orang-orang bermalam. Menurut orang-orang, dia kesurupan, orangnya kecil paling hanya 50 kg saja beratnya, dia harus sampai digotong tujuh orang, baru kuat diangkat. Aneh juga.

Akhirnya saya jadi penunggu, deh, di pancuran. Kawan-kawan berhamburan menolong dan sudah sepi pengunjung. Barang-barang milik kawan-kawan ditinggalkan begitu saja, siapa yang jaga? Bawa barang segitu banyak sendiri dan nanjak lagi? Malas banget! Nggak kuat!

Berhubung saya gemas juga melihat sampah bertebaran di mana-mana, dan membuang rasa jenuh serta pikiran macam-macam, saya memutuskan untuk bersih-bersih. Saya ambil kedukan dan sapu, saya pun membersihkan sampah di sana. Ada yang nyeletuk berpikir saya gila, ada juga yang pikir saya sudah kemasukan juga. Yang paling menjengkelkan, kenapa tidak membantu?!

Setelah menunggu hampir dua jam, saya pun akhirnya naik ke atas. Saya mampir dulu di sebuah rumah tempat orang-orang sembahyang, petilasan Eyang Koconegoro. Beliau konon adalah seorang petapa pada jaman kerajaan Kaling yang mendapatkan mandat langsung dari Prabu Brawijaya V untuk menguasai wilayah kekuasaan Raja Majapahit tersebut. Beliau memohon diberikan hidup abadi kepada Yang Maha Kuasa dan mendapatkan petunjuk untuk bertapa di puncak Gunung Lawu. Bagaimana selanjutnya dan kebenarannya, saya tidak tahu. Beliau juga dianggap sebagai inspirasi dari tokoh Gatotkaca dalam perwayangan.

Ada banyak peninggalan sejarah di sana berupa arca-arca di sekitar. Di dalamnya sendiri penuh dengan sesaji dan orang-orang melakukan ritual. Bau kemenyan dan dupa begitu menyengat, asapnya sampai membuat mata saya perih. Setelah menengok sebentar, saya keluar dan melihat sekitar. Ada banyak foto pejabat dari berbagai daerah dan tokoh negara yang ternyata pernah ke sana, entah untuk apa. Gusdur pun ada fotonya, dibawa pakai tandu naik ke atas sana.

Badan saya lelah dan mengantuk, saya memutuskan ke restoran dan tidur di sana. Paginya saya bangun, menikmati burung-burung jalak, monyet, dan kupu-kupu yang bermain riang gembira di antara pepohonan di depan tempat saya menginap. Sebentar saja, karena kami ingin segera pulang. Lagi-lagi saya ketinggalan, karena ingin menikmati pemandangan indah yang ada.

Bersyukur semua selamat dan tidak kekurangan sesuatu apapun. Di bawah saya mendengar bisik-bisik bahwa malam itu ada dua orang yang meregang nyawa ketika hendak ritual dan kembali dari ritual. Ada juga rombongan sekeluarga yang tersesat, konon karena berjumpa dengan seorang perempuan berambut panjang dan berkain jarik. Aduh! Bukan saya loh!!!

Semoga bermanfaat.

Bandung, 8 Oktober 2017

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

Foto: Saya tidak diperkenankan mengambil foto malam itu dan terlalu asyik juga menikmati keindahan untuk berfoto-foto ria. Jadi hanya itu saja foto yang saya punya.

Sort:  

Asyik,seru dan serem juga ceritanya Tanpa photo pun sudah bisa menggambarkan fenomena yang ada disana.
Trims mbak sudah berbagi...

Merasa tertantang juga kayaknya. Hehe

Keren kak... Banyak pesan pesan nya.
Terutama pas mandi telanjang haha

Hahaha ke sana dong! Cobain mandi telanjang @kakilasak!

Thanks to provide Great New and Useful Information

Keren.. Foto dan narasi yang memikat. Good job @mariskalubis

Pengalaman yang sangat menarik. Saya sangat menyukai postingan tentang pengalaman pribadi, baik itu menyenangkan maupun kurang menyenangkan. Seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru yang paling berharga, sehingga dapat menginspirasi ataupun pelajaran berharga bagi setiap yang membacanya.🤗

Terima kasih @tusroni, semoga postingan saya ini bermanfaat.

Semoga jika saya berkunjung ke Bandung, saya bisa bertemu dengan anda secara langsung @mariskalubis.🤗

luar biasa mbak @mariskalubis,,cerita yang menarik dan sedikit menakutkan..good post..👍

This post has been ranked within the top 80 most undervalued posts in the first half of Oct 08. We estimate that this post is undervalued by $10.94 as compared to a scenario in which every voter had an equal say.

See the full rankings and details in The Daily Tribune: Oct 08 - Part I. You can also read about some of our methodology, data analysis and technical details in our initial post.

If you are the author and would prefer not to receive these comments, simply reply "Stop" to this comment.

Mantap buk mariska.

Hahaha. Untung bukan hanti blau.. hehe. Pengalaman seru kak. Kapan2 ajak saya juga ya kesana, mandi di pancuran.. hehe

Ayo! Enak segar! Tapi jangan ikut2 telanjang yah, nanti repot kalau difoto masuk Steemit hahaha...

Anak itu tidak salah. Sista @mariskalubis memang makhlus halus, halus budi pekertinya, halus tutur katanya, halus tulisannya, dan halus pula yang lainnya.

Hahaha... yang lainnya tu nggak kuat....