Pemikiran Yang Salah Kaprah Namun Membudaya Haruskah Dipertahankan Dengan Alasan Budaya?

in indonesia •  27 days ago

Sudah terlalu sering saya mendengar budaya menjadi alasan untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya salah atau kurang tepat. Budaya dijadikan tameng, dan apa kata orang itu menjadi lebih penting dari kebenaran terima dan mau dibilang bodoh. Mau dibilang pintar pun, kenapa tidak juga berpikir lebih maju agar budaya yang salah itu diubah menjadi yang benar? Apakah memang semua budaya itu sudah pasti benar hanya karena sudah menjadi budaya yang dibenarkan dan bahkan diyakini banyak orang? Bagaimana bila budaya itu sendiri sudah bertentangan dengan ajaran agama yang katanya diyakini dan diimani, bahkan diikuti sebaik mungkin, apakah tetap harus dipertahankan?


@mariska.lubis

Sudah bukan satu dua orang lagi pasangan muda yang bercerita kepada saya bagaimana mereka sulit untuk menikah, karena mereka belum sanggup memenuhi segala persyaratan yang diberikan oleh orang tua mereka. Persayaratan itu sebenarnya bukan persyaratan utama yang memang diwajibkan dalam agama, namun lebih kepada karena budaya yang dilakukan oleh kebanyakan orang dan dibenarkan. Antara lain adalah pesta pernikahan yang memakan biaya banyak, dan seringkali membuat pasangan baru menikah terjebak dengan hutang justru pada saat baru saja memulai membangun rumah tangga.

Orang tua mereka mudah saja alasannya, selain karena sudah budaya yang seharusnya seperti itu, apa kata orang, dan juga alasan untuk menghormati mereka, sementara contoh yang baik dan benar sudah ditunjukkan bahkan bagi yang beragama muslim, Nabi Muhammad SAW yang merupakan junjungan, sudah mencontohnkannya. Aneh juga bila apa yang dicontohkan oleh beliau, yang seharusnya dibenarkan ditiru, justru kalah oleh budaya dan apa kata orang serta keinginan.

Terus terang saja saya tidak habis pikir, apalagi dalam situasi dan kondisi ekonomi yang sedang tidak sehat beberapa tahun terakhir ini, kenapa harus sampai begitu memaksakannya? Sementara ada prioritas yang lebih penting dan jauh lebih berguna dan bermanfaat, selama semua syarat utama pernikahan itu dilakukan, maka tidak perlu ada yang berlebihan. Kalau menurut saya pribadi, malah lebih menjadi berkah bila diberikan saja kepada yang tidak mampu dan membutuhkan bila memang ada uang lebih. Atau, paling tidak digunakan sebagai modal awal untuk membangun masa depan, jangan sampai menjadi kacau balau kemudian hari hanya karena pemborosan percuma akibat urusan pernikahan. Lagipula, kenapa harus sampai dipersulit urusan menikah jika sadar penuh sebenarnya bahwa perilaku demikian tidak baik.


@mariska.lubis

Tentunya semua orang tua ingin anaknya bahagia, namun dibutuhkan kedewasaan dan kebijaksanaan dari orang tua untuk bisa membuat anak menjadi bahagia. Memuliakan orang tua itu memang diwajibkan, tetapi jangan sampai juga orang tua menjadi egois dan banyak menuntut dari anak. Keikhlasan kasih sayang dan cinta orang tua sepatutnya ada, dan tidak perlu ada tuntutan timbal balik, semampu dan seikhlasnya anak di dalam memberikan yang terbaik bagi orang tua adalah yang terbaik.

Belum tentu apa yang membuat orang tua bahagia itu benar adalah yang terbaik dan membahagiakan anak itu sendiri, orang tua juga manusia yang tetap bisa melakukan kesalahan. Jangan sampai kesalahan orang tua itu kemudian pun menjadi beban bagi anak, apalagi sampai harus menanggung hutang yang sudah pasti sangat berat. Jika anak berani untuk memegang kebenaran walaupun itu jauh dari kebenaran yang dipegang oleh budaya dan dinilai buruk oleh orang lain, maka apakah anak menjadi salah? Bukankah memang sudah sepatutnya setiap manusia itu lebih memilih kebenaran Allah daripada kata manusia dan budaya yang salah kaprah?

Entahlah, terkadang saya pusing menghadapi yang seperti ini. Dunia ini jadi seperti terlalu banyak yang diputar balik hanya karena kepentingan dan keinginan saja, kebenaran yang sesungguhnya pun hanya dipakai sebagai alasan pada saat yang dibutuhkan, sementara pada saat yang lain justru diabaikan. Sedemikian sulitnya untuk konsisten dan berani memegang teguh kebenaran, hanya karena urusan budaya dan kata orang saja sudah kalah.


all by @mariska.lubis

Kasihan betul nasib anak-anak muda ini, mereka justru diberikan contoh bahwa tidak konsisten itu tak apa selama ada alasan, sehingga munafik itu jadi benar pada saat-saat tertentu. Mereka juga diajarkan untuk tidak berprinsip dan tidak berkepribadian karena harus mendahulukan apa kata orang, dan mereka juga diajarkan egois serta tidak ikhlas. Yang parahnya lagi menurut saya, mereka malah diminta untuk menduakan Allah, karena kata orang dan budaya adalah lebih penting daripada ajaran Allah itu sendiri. Ampun!

Bandung, 19 September 2018

 

Salam hangat selalu,

 

 

Mariska Lubis

 

 

 

 

 

 

 


Posted from my blog with SteemPress : https://mariskalubis.com/2018/09/19/pemikiran-yang-salah-kaprah-namun-membudaya-haruskah-dipertahankan-dengan-alasan-budaya/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Setuju sekali kak, yang penting ikatan janji suci dan buku nikah sudah sah, soal pesta untuk ini itu menurut ku juga terlalu menghamburkan uang, karena jaman sekarang resepsi berjuta juta, kenapa tidak untuk modal , karena saya juga pernah mengalami hal serupa karena adat harus ini dan itu, alhasil saya bekerja di arap saudi dua tahun habis hanya untuk pesta pernikahan, dan itu masih menyiksakan hutang, harapn terbesar semoga adat yang salah bisa menjadi cambuk agar kami Indonesia bisa seperti negara negara maju lainnya, aminnnn, jika ada yang slah mohon maaf sebelmy

Posted using Partiko Android

·

aduh mengerikan sekali.... semoga semua bisa diselesaikan segera ya...

Mantap, ini bukan lagi jaman siti nurbaya tetapi org tua harus kontrol juga tentang latar belakang calon anaknya jangan sampai anaknya menikah dengan hantu,,hehehe

·

hahaha ya memang orang tua wajib untuk mengingatkan dan memberikan jalan yang benar bagi anaknya.... tetapi kalau orang tua sudah meminta yang tidak benar, kacau deh...

Sebenarnya orang tua pingin anaknya bahagia tetapi terkadang salah dalam melaksanakannya sehingga membuat anaknya tidak bahagia.

·

Iya terkadang orang tua tidak bijaksana dan banyak yang egois....

Orang tua harus mempertahankan anak nya bila mereka melakukan pernikahan yang tidak seakidah dengan kita atau boleh di bilang tidak seagama, kalau masalah kekayaan menurut saya pribadi tidak menjadi penghalang kaya atau miskin di mata tuhan tetap sama.

·

selama memang itu sesuai dengan syarat utama dan aqidah sebaiknya memang dilaksanakan, tetapi di luar itu untuk apa dipaksakan....

Wacana yang patut dipertimbangkan agar tidak cuma ikut-ikutan. Dari pada meninggalkan Sunah lebih baik kembali pada hakikat yang sepatutnya.

Salam KSI
Irman Syah | @mpugondrong

Baik sekali tulisan kakak ini, Perkara menikah adalah perkara agama, bukan perkara adat istiadat, itu hanya melengkapi saja bila mampu. Jika ada budaya dan adat istiadat yang bertentangan dengan syariah islam maka tinggalkanlah. Rasulullah telah meniadakan beribu adat istiadat arab jahilyah yg bertentangan dgn syariah. Jika adat dn budya yg selaras maka silahkan lestarikan... stu persoalan lgi adalah kebiasaan yang telah membudya di klngan umat muslim yaitu pacaran.

Sarankan ke laki2 yg hendak melamar itu untk menjelaskan sbaik mngkin syariat islam kpada org tua si gadis, jika tak mampu tinggalkanlah,.. carilah calon mertua yg alim dn mngerti agama serta memiliki anak gadis yg cocok dn setara utk dijadikan istri. Cinta saat pacaran hanyalah ilusi.

·

Hahaha... kalau menurut saya lain lagi, pacaran sebatas saling kenal dan tahu tidak masalah.... cuma yang namanya cinta terkadang saru dengan nafsu, sehingga seringkali juga jadi tidak bisa membedakannya... cinta itu bahasa hati, sehingga tidak bisa dipastikan apakah saat pacaran itu ilusi atau tidak... saya pacaran dan menikah dengan orang yang sama karena cinta, dan tidak ada yang berubah...

·
·

Kalau mau sling kenal gak mesti pacran kak... wujud cinta tertinggi adalah kelamin, kyak kata the panas dalam, "ujung-ujungnya minta kelamin" taulah sndiri anak2 skrng klo pcran suka minta.............. hehe... slow saya jga dulu aktivis perempuan, sring mlakukan aksi pacran.. tpi pacaran di awak, kawin di urang hhahhaha...

Lanjuttttt...... :)

Kebanyakan sulit untuk menikah, karena mereka belum sanggup memenuhi segala persyaratan yang diberikan oleh orang tua mereka. Persayaratan itu sebenarnya bukan persyaratan utama yang memang diwajibkan dalam agama, namun lebih kepada karena budaya yang dilakukan oleh kebanyakan orang dan dibenarkan.

Sejujurnya saya pernah merasakan hal yang sama, ketika saya harus menuruti budaya dari pihak mempelai yang menurut saya itu tidak apa-apa kalau tidak dilakukan. Namun kembali lagi kepada budaya dan adat.
Saya sangat setuju dengan kakak@mariska.lubis
Budaya yang salah kiprah yang seharusnya tidak memberatkan satu pihak ini...seharusnya para orang tua menyadari betul atas kesalahan salah kiprah ini. Karena kebenaran ALLAH lah yang hakiki daripada perkataan manusia atas adat yang salah kiprah ini,apalagi harus menduakan ALLAH yang mengakibatkan munafik.....Astarfirullah hal azim
Terimakasih kakak
Salam hangat dan sehat selalu bersama keluarga
Amin ya rabbal alamin

·

jangan sampai kita menduakan Allah, karena kita akan menjadi rugi karena perbuatan demikian.

Saya sependapat dengan kakak, kebanyakan sekarang penghalang karena kita mungkin bukan orang berada di depan mata org itu boleh di bilang miskin itu yang terjadi sekarang, padahal anak nya mau tapi orang tuanya mata duitan sehingga mencari alasan untuk menggagalkanya.

·

Orang tua biasanya memang ingin agar anaknya tidak susah tetapi kita tidak pernah tahu juga nasib orang ke depan, yang sekarang berharta besok bisa saja masuk penjara. Kalau sudah begitu bagaimana?

Bagi saya budaya itu bukan sesuatu yang tak tersentuh. Ia adalah kebiasaan manusia yang dilakukan berulang-ulang. Kalau pada titik dan derajat tertentu mengganggu agama misalnya, budaya harus didobrak. Saya meyakininya seperti itu, Mbak @mariska.lubis.. :)

·

Ya, budaya yang salah kaparah menurut saya harus dihentikan dan tidak bisa terus menerus dilanjutkan jika ingin maju dan memiliki kehidupan yang lebih baik.

·
·

Tak ada bantah. Saya setujuuuuuu, Mbak!

Dunia ini makin lama makin aneh, perilaku manusia itu sendiri juga myeleneh, yang salah dianggap benar, yang benar dianggap salah. Hufff..... Mereka cenderung plin plan, hingga melibatkan Tuhan.

·

itulah semakin lama semakin tidak jelas dan jauh dari kebenaran itu sendiri...

·
·

iya mbak, semoga kita selau berpikir positif, dan berada di jalan yang benar

Inilah yang di namakan jaman NOW,,, hehehe..

·

hahaha jaman tak jelas...

Setuju dgn pendapat kak @mariska.lubis

Jika terlalu memaksakan kehendak & keinginan ortu mengikuti budaya di luar kemampuan kita, bisa besar pasak daripada tiang & bisa pusing tujuh keliling setelah selesai mengikuti prosesi acara menurut budaya yang menghabiskan dana besar tersebut

Resteem ..

Wah... Penalaran yang sangat menarik untuk disimak.

Yang parahnya lagi menurut saya, mereka malah diminta untuk menduakan Allah, karena kata orang dan budaya adalah lebih penting daripada ajaran Allah itu sendiri. Ampun!

Itu benar-benar parah dan sangat menyesatkan. Sungguh sangat disayangkan...

benar mbak, kasihan dengan kaum muda yang ingin menikah karena terkendala adat yang menyusahkan itu