Menatap Palangkaraya Dari Atas Bukit Tangkiling

in indonesia •  last month

Palangkaraya tengah naik daun setelah ramai disebut-sebut sebagai calon ibukota negara. Saat berkunjung ke Palangkaraya, jangan lupa berkunjung ke Bukit Tangkiling, di mana Anda bisa menatap kota Palangkaraya dari atas.

Bukit Tangkiling sendiri berjarak sekitar 34 km dari pusat Kota Palangkaraya. Untuk sampai ke sini, Anda hanya perlu menempuh perjalanan sekitar 30-45 menit. Setibanya di Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling, segera mulailah perjalanan mendaki. Untuk sampai ke puncak bukit, Anda harus menaiki sejumlah anak tangga. Namun saat hampir sampai, Anda harus mendaki area yang lumayan terjal. Jika lelah, berhentilah sejenak di beberapa pos yang disediakan ataupun di warung makanan-minuman yang tersedia di area atas.


Gambar 1. Untuk mencapai bukit harus menaiki sejumlah anak tangga

Di Bukit Tangkiling ini, Anda akan menemukan banyak sekali batu-batu besar. Salah satunya yang terkenal adalah Batu Banama. Bentuk batu ini seperti perahu. Konon katanya, dulunya batu ini adalah bahtera (banama). Bisa dibilang, legenda Batu Banama mirip dengan legenda Sangkuriang di Jawa Barat, karena menceritakan tentang pemuda Dayak yang menikahi ibu kandungnya.

Legenda Bukit Tangkiling

Dulu hiduplah seorang ibu dan anak laki-lakinya. Saat sedang memasak, si anak merengek meminta makan hingga membuat sang ibu memukul kepala si anak sampai kepalanya berdarah. Merasa diperlakukan kejam, si anak meninggalkan rumah dan berlari ke dermaga. Sang ibu pun merasa menyesal dan terus mencari, namun tak juga menemukan anaknya. Sementara itu, sang anak masuk ke kapal dan bertemu dengan kapten kapal yang kaya. Di sana ia menceritakan perihal ibunya yang sudah memukul kepalanya. Merasa iba, kapten kapal itu pun merawat lukanya dan menjadikannya anak angkat dengan nama “Tan Kim Lin”.

Setelah beberapa tahun, Tan Kim Lin tumbuh menjadi pemuda tampan dan gagah. Suatu ketika, tanpa sadar ia berlabuh di kampung halamannya. Saat itulah ia bertemu dengan wanita cantik yang sedang membawa sejumlah barang untuk dibarter dengan barang dagangan Tan Kim Lin. Merasa terpesona dengan kecantikan wanita itu, Tan Kin Lin pun jatuh cinta dan langsung melamarnya meski wanita bergelar Bakuwu itu mengaku sudah pernah menikah sebelumnya.

Singkat cerita, setelah melangsungkan pesta pernikahan, keduanya berbulan madu di atas banamanya. Saat itulah, Bakuwu yang sedang mencari kutu di kepala Tan Kin Lin melihat bekas luka. Tan Kin Lin pun bercerita bahwa dulu ia dipukul oleh ibunya sendiri, hingga kemudian meninggalkan kampung halamannya dan menjadi anak angkat kapten kapal yang kaya. Mendengar itu, terkejutlah keduanya ketika saling mengetahui bahwa mereka adalah ibu dan anak kandung. Tan Kin Lin pun berlari memasuki hutan, sementara Bakuwu tetap di atas banama. Di dalam hutan, Tan Kin Lin berburu babi dan kijang untuk dijadikan hewan kurban dalam acara adat penebusan kesalahannya.

Setelah berhasil mendapat hewan buruannya, ia mengumpulkan semua warga untuk menghadiri pesta penebusan (Pali) tersebut. Namun di tengah acara, Raja Pali mengirimkan kilat dan petir untuk menghukum Tan Kin Lin, hingga ia dan keenam pengawalnya berubah menjadi batu. Banama miliknya juga berubah menjadi batu, dimana Bakuwu terkurung di dalamnya. Sejak itu, oleh dialek masyarakat Dayak setempat, area di sekitar Batu Banama disebut sebagai Bukit Tangkiling (Bermula dari Tan Kin Lin).


Gambar 2. Batu Banama

Dari atas batu

Setibanya di area puncak, Anda akan menemukan batu-batu besar yang mana di atasnya terdapat patung Hindu yang dialasi selendang berwarna kuning. Naiklah ke atas batu dan lihatlah bagaimana Palangkaraya dari atas. Di segala penjuru, Anda akan melihat rimbunnya pepohonan dan beberapa pepohonan. Palangkaraya sendiri memang dikenal memiliki banyak kawasan hutan, di mana salah satunya adalah hutan lindung di Taman Nasional Sebangau.


Gambar 3. Palangkaraya dilihat dari atas

Puas menikmati Palangkaraya dari atas dan menikmati anginnya yang sepoi-sepoi, Anda bisa langsung melanjutkan perjalanan untuk menuruni bukit. Bisa dengan menuruni jalan awal keberangkatan, bisa juga menuruni jalan yang lain. Hanya saja, jika Anda menuruni jalan yang satunya, Anda tidak akan menemukan sejumlah anak tangga batu. Di sini, Anda akan merasakan trekking melewati jalanan yang terjal dan terkadang sedikit licin jika sebelumnya hari hujan.


Gambar 4. Bangunan peribadatan Hindu

Sesekali di tengah perjalanan, Anda akan menemukan bangunan-bangunan kecil yang diselimuti selendang kuning dan bangunan pura yang menciptakan nuansa mistis. Namun tak mengapa, Anda hanya perlu menjaga sikap. Bukankah menjaga kesopanan juga bagian penting dari perjalanan? Puas melihat-lihat area pura yang kosong, silahkan lanjutkan perjalanan karena tidak lama lagi Anda akan tiba di titik awal.

Akses

Dikarenakan akses angkutan umum yang kurang memadai, Anda harus menggunakan kendaraan pribadi untuk sampai ke Bukit Tangkiling. Perjalanan bisa dimulai dari Titik Nol Kilometer Palangkaraya atau yang biasa dikenal dengan Bundaran Besar, menuju Jalan Tjilik Riwut. Setelah menempuh perjalanan 34 km, Anda akan menemukan gapura Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling di sisi kiri jalan. Untuk masuk ke dalam Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling, Anda hanya perlu membayar Rp 10.000 per orang.

Oleh: Rahel Simbolon

Sumber:
Perjalanan pribadi penulis
Sumber gambar:
Dokumentasi pribadi penulis

Voting bot @kakibukit: kirim 0.002 - 0.04 SBD + memo = URL, voting setiap 2.4 jam, min ROI 10%, max age 3.5 hari, jenis posting bukan komentar.

Pilih @puncakbukit Sebagai Witness Anda - setiap suara menentukan.

  • Akses halaman Witness Voting.
  • Scroll down sampai bawah.
  • Ketik "puncakbukit" di textbox berikut.
  • Klik tombol "VOTE".
  • Kami akan follow anda.. ;-)
  • My Witness Update

Lihat juga:

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

2016 pernah ke Palangkaraya. Tapi tak sempat naik ke atas bukit Tangkiling.

like this place, beautifull. this good article thank @kakibukit n @puncakbukit