Cara Menulis Buku (III)

in #indonesia8 years ago (edited)

Ada beberapa karib yang bertanya berapa lama untuk menghasilkan satu buku. Sebenarnya tidak ada jawaban yang pasti. Pengalaman saya satu buku itu bisa diselesaian dalam 2 atau 3 tahun. Akan tetapi, ada juga penulis yang mampu menghasilkan buku dalam masa 6 bulan atau 1 tahun. Bahkan untuk tertentu, seperti Masa Depan Dunia (2018), saya memerlukan masa hampir 5 tahun. Adapun penulisan buku Acehnologi (2017-2018) memerlukan waktu 6 tahun. Karena itu, tidak ada buku yang dihasilkan secara instant. Lantas mengapa seolah-olah setiap tahun saya dapat menerbitkan buku? Inilah pertanyaan yang sering diajukan, terutama pembagian waktu saya di dalam menulis buku atau artikel-artikel di jurnal ilmiah.

Begini ceritanya. Dalam folder di PC saya selalu ada draft atau konsep untuk dijadikan sebagai buku. Jadi, folder itu bisanya hanya terdiri dari satu file yang berisi tentang pendahuluan buku. Adapun judul atau bab-bab buku dapat berubah sewaktu-waktu. Biasanya Pendahuluan itu menjadi penting, karena akan menjadi kompas saat saya menulis atau mencari bahan dari berbagai sumber. Karena itu, dalam setiap tahun, folder judul buku selalu bertambah seiring dengan muncul gagasan atau inspirasi untuk ditulis menjadi buku yang utuh.

Ketika pendahuluan sudah selesai, walaupun hanya beberapa halaman, maka saya akan melakukan penelitian sepanjang masa. Di sini kemanapun saya pergi akan teringat folder-folder judul buku di dalam PC saya. Setiap ada waktu yang senggang di kampus, saya akan bertamasya ke alam maya. Di sini yang saya cara adalah artikel ilmiah, buku, hasil riset dari lembaga-lembaga yang memiliki otoritas, blog-blog dari penulis-penulis selumnya. Membaca blog itu sama dengan membaca on going ideas dari beberapa penulis blok. Jika kecepatan internet kuat, saya akan berselancar di Youtube untuk mencari bahan, terutama ceramah-ceramah dari pakar, seperti TED Talks, Book TV, dan wawancara ilmuwan-ilmuwan besar walaupun terkadang hanya rekaman suara mereka.

Manakala ada bahan yang bisa saya unduh, maka akan saya simpan dalam file transit untuk kemudian saya klafisikasikan dalam data base bahan-bahan bacaan saya. Saat berselancar saya sama sekali tidak membaca sampai akhir, cuma saya cek penulis, isu, tahun terbit, dan kadang kala jumlah sitasi dari artikel atau buku tersebut. Di Google Scholars hal ini bisa dilakukan. Adapun search engine yang saya gunakan adalah Proquest dan database jurnal lainnya yang dapat membantu upaya saya mencari bahan untuk folder-folder saya di PC. Penting untuk mengikuti tren perkembangan keilmuan, supaya tidak hanya merujuk pada data yang tidak up-date. Kebiasaan lainnya adalah setiap ke bandara yang ada toko buku, maka saya akan singgah untuk melihat-lihat jika ada bahan untuk penulisan buku saya. Tidak hanya itu, terkadang buku yang dijual di toko buku di bandara banyak buku-buku baru, walaupun terkadang tidak lengkap seperti tokoh buku Kinokuniya di Kuala Lumpur misalnya. Membeli buku adalah tradisi yang bagus untuk oleh-oleh kepada keluarga.

Setelah terkumpul data, maka perlahan-lahan saya membaca secara serius di ruang pustaka pribadi. Jika ada buku yang menarik dan mendalam, maka saya akan baca secara detail. Biasanya, setiap tema atau topik yang saya tulis, biasanya saya mencari siapa sarjana yang pakar di dalam bidang tersebut. Lantas buku atau artikelnya saya hunting. Dari karya-karya tersebut saya kemudian belajar memahami pergumulan ide pada topik yang sedang saya tulis. Siapa menulis apa. Siapa mengkritik siapa. Apa ditulis untuk apa. Demikianlah seterusnya. Untuk memudahkan hal ini, setiap data baru yang saya anggap penting dan perlu dikutip, akan saya masukkan ke dalam program Zotero. Program ini untuk menyimpan buku-buku, artikel jurnal, dan apapun entri yang tersedia dalam program tersebut, yang kemudian sewaktu-waktu bisa digunakan saat menulis buku yang sedang saya tulis atau tulisan lainnya di kemudian hari.
Dalam menulis terkadang hanya dapat satu halaman atau satu paragrap setiap harinya. Karena dilakukan tujuh hari seminggu, maka terkadang draft buku bertambah dengan sendirinya. Untuk mensiasati hal ini, maka saya menggunakan model jumlah kata, bukan halaman. Satu bab paling banyak 8000 ribu atau paling kurang 6000 kata. Jadi, satu bab terkadang bisa menjadi 20 halaman atau lebih kurang. Untuk kategori yang 10 ribu kata biasanya itu jarang saya lakukan, kecuali dalam buku Masa Depan Dunia. Jika sudah mencapai 75 ribu kata, maka buku tersebut sudah saya anggap selesai. Draftnya saya biarkan berbulan-bulan untuk tidak saya sentuh. Sambil menulis buku tersebut, terkadang saya juga menulis draf buku lainnya. Hal ini dilakukan manakala ada bahan yang cocok untuk saya masukkan dalam draf tersebut. Proses seperti ini sebenarnya dapat dikatakan menulis sebagai kebiasaan, bukan paksaan.

Draft buku yang hampir selesai, kemudian saya baca berulang-ulang untuk melengkapi mana saja yang perlu ditambah atau dikurang. Ada satu kebiasaan saya dimana terkadang bab-bab tertentu saya publikasikan dalam jurnal ilmiah. Hal ini untuk menguji ide yang ada di dalam buku. Tradisi menerbitkan bab buku dalam jurnal memang lazim di lakukan di perguruan tinggi di Barat. Bahkan, beberapa buku penulis terkenal merupakan rangkaian bab-bab yang pernah diterbitkan dalam jurnal. Untuk sekedar menyebutkan contoh penulis dalam kategori ini adalah Anthony Reid, dimana karya-karyanya pada awalnya telah terbit dalam bentuk artikel jurnal, bab dalam buku, makalah dalam konferensi.
Jadi, beginilah cara kita memperkenalkan ide kita dalam komunitas akademik.

Dalam pengalaman saya, beberapa isi bab dalam buku saya jadikan bahan ceramah atau seminar. Di situlah saya kemudian mendapatkan masukan dari mustamik. Komentar dari mustamik ini saya jadikan bahan renungan ketika pulang untuk saya masukkan di dalam draft buku. Tidak hanya itu, saya kadang membawa gagasan dalam buku ke dalam diskusi-diskusi sejawat di manapun. Tentu saja saya tidak mengatakan minta masukan untuk karya saya, namun saya coba melalui model chit chat. Model ini sering kami praktikkan di La Trobe University, dimana mahasiswa yang sedang melakukan penelitian diajak untuk ke chit chat room. Di situlah kami berdiskusi secara informal mengenai apa yang sedang kita lakukan. Hal yang sama juga saya lakukan saat menjadi dosen di Walailak University tahun 2005. Kami ada ruang common room yang hanya menjadi tempat pertemuan satu atau dua jam pada hari-hari tertentu. Mungkin di Aceh, ruangannya sudah berpindah ke warung kopi. Masukan atau kritik yang diterima kemudian dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk merevisi draft buku.

Dalam proses penulisan yang dilakukan secara terus menerus ini memang terkadang membosankan. Karena selalu berpikir tentang “folder” di PC. Untuk menyelangi kebosanan tersebut, saya terkadang menulis opini di surat kabar. Menulis opini ini penting untuk juga memperkenalkan ide kita ke publik. Hal lain yang saya lakukan untuk menghindari kebosanan adalah dengan “jalan-jalan.” Inilah hobi lain selain meneliti dan menulis. Jalan-jalan bersama keluarga merupakan hal yang baik untuk mengatasi kebosanan dalam rutinitas. Di sini “jalan-jalan” bukanlah ke mall atau shopping, melainkan ke tempat terbuka, seperti tepi pantai, pegunungan, atau areal persawahan. Beruntung, di Aceh belum ada “tamasya gedung-gedung bertingkat.” Udara masih gratis. Ombak masih dapat dinikmati. Bau tanah masih dapat dirasakan keasliannya.

Jadi, menulis buku bukanlah pekerjaan saya. Menulis adalah kebiasaan setelah membaca. Menulis adalah ujung dari setiap penelitian. Beruntung saya dilatih dengan disiplin ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Akan kita lanjutkan bagaimana menggunakan disiplin ilmu dalam menulis.

Bersambung...

Sort:  

Sangat bermanfaat prof.
Saya banyak belajar dari antum salah satunya dari buku Islam Historis. Amazing

Terimakasih. Buku tersebut sudah dicetak versi revisi.

Sangat inspiratif Bang Doktor... saaya juga membaca setiap hari.. minimal status2 facebook, postingan steemit dan koran... :(

Terimakasih, skrg banyak kawan kawan yg gunakan steemit. Jadi, saya ingin berbagi pengalaman dgn para sahabat saya.

Untuk menulis artikel ini berapa menit prof habiskan waktu?

Ini tergantung kesibukan Bang. Paling hanya 45 menit Bang..khe khe khe

Sepertinya patut dicontoh caranya Prof. Terima kasih sudah berbagi pengalaman.😊

Makasih Bu.

Kehadiran Prof kba di steemit akan turut mempercepat hadirnya konten2 berkualitas di steemit.👍

Congratulations! This post has been upvoted from the communal account, @minnowsupport, by forfun from the Minnow Support Project. It's a witness project run by aggroed, ausbitbank, teamsteem, theprophet0, someguy123, neoxian, followbtcnews, and netuoso. The goal is to help Steemit grow by supporting Minnows. Please find us at the Peace, Abundance, and Liberty Network (PALnet) Discord Channel. It's a completely public and open space to all members of the Steemit community who voluntarily choose to be there.

If you would like to delegate to the Minnow Support Project you can do so by clicking on the following links: 50SP, 100SP, 250SP, 500SP, 1000SP, 5000SP.
Be sure to leave at least 50SP undelegated on your account.

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.33
JST 0.096
BTC 62885.60
ETH 1754.15
USDT 1.00
SBD 0.39