Menjaring Mimpi
Menjaring mimpi di kepekatan malam
Aku jerat juga sepasang kunang. Cuaca beku
Penuh serpihan-serpihan waktu. Di ruang
Tamu: Tak ada siapa-siapa, selain gambarmu
Yang kesepian di dinding batu. Angin dingin
Terus saja berhembus dari arah laut. Berapa
Jauh jarak antara kesedihan dan kebahagiaan?
Seseorang telah bicara tentang isu-isu politik
Siang tadi. Tiba-tiba aku melihat baying-bayang
Mengambang di kaca jendela – wajahnya mirip
Gambarmu di dinding batu. Lalu tanganku bergetar
Menuliskan mimpi demi mimpi yang menjadi dongengan
Yang kelak akan meledak dalam pelukanku
Menjaring mimpi di sepanjang kesunyian
Malam: aku dengar juga gumam gelisah
Orang-orang yang kesasar dengan luka-luka
Bermekaran di sekujur tubuhnya. Di sini
Tuhan telah dimassalkan, lalu disebarkan
Ke rumah-rumah rakyat. Sedangkan bahasa
Adalah ruang lain bagi pencuri dan pendusta
Pamulang, Desember 2004
Menyedihkan memang, bahasa adalah ruang lain bagi pencuri dan pendusta. Apalagi untuk tahun politik saat ini. :(
Kadangkala seperti itu. Hahaaaa....