Aku Makhluk Kesunyian

in indonesia •  4 months ago

sirkus pohon.jpg

Petang tadi aku mengunjungi Taman Wisata Krueng Aceh di sisi Jalan Cut Meutia, Banda Aceh. Taman ini selalu saja menarik perhatianku, tapi baru petang tadi niatku untuk bersantai di sini kesampaian. Beberapa bulan lalu aku pernah merapatkan tapak sepatuku dengan batu-batu alam yang melapisi trotoar di bantaran sungai. Numpang lewat menuju jalan pulang. Sambil berkejaran dengan waktu yang hampir sempurna gelap, dibantu @yellsaint94, terekamlah beberapa gambar di ruang memori ponselku.

Tak lewat dari pukul setengah enam aku tiba di taman itu. Menaiki beberapa anak tangga, memijak kaki di trotoar, kemudian menuruni beberapa anak tangga lagi. Lalu berjalan menyusuri lorong setapak di antara taman bunga menuju salah satu kursi yang menghadap ke Krueng Aceh. Kursi-kursi yang dirancang khusus dan muat hanya untuk sepasang manusia berbadan ideal.

Dengan rancangan kursi seperti itu, tentunya menjadi pilihan paling nyaman bagi muda-mudi kasmaran untuk menghabiskan sore jingga mereka di taman ini. Sambil bercengkerama, tertawa malu-malu kala salah satunya menggoda, untuk menghabiskan sebungkus dua bungkus camilan sebagai bekal. Dalam diamku tadi, terlintas di benak, alangkah tak adilnya jika kemudian ada polisi khusus yang di waktu-waktu tertentu datang menghalau muda-mudi yang duduk di sini. Harusnya yang merancang kursi-kursi itu yang dihalau.

sirkus pohpn3.jpg

Aku memilih salah satu kursi. Mungkin karena bukan akhir pekan, sehingga taman ini tampak lengang. Dari tempatku duduk, di kursi sebelah kanan terlihat seorang pria duduk di sana, hanya ditemani ranselnya yang tergolek masai di sebelahnya. Pria ini bergerak meninggalkan taman pada pukul setengah enam lebih tujuh menit.

Di kursi di sebelah pria dengan ransel tergolek tadi, duduk seorang pria berkaus hijau berkerah, celananya bermotif tentara, dia juga sendiri. Duduk dengan kaki ditegakkan sebelah, dan jari-jari tangan kanan menjepit sebatang rokok. Di kursi di sebelah lelaki bercelana motif tentara itu, ada sepasang manusia di sana, lalu di kursi berikutnya hanya tampak seorang manusia teronggok di sana.

Di sini, di tempatku duduk, aku juga sendirian, tapi bertemankan sebuah buku karangan penulis berambut kriwil Andrea Hirata. Antara aku dan Andrea punya satu kesamaan; punya setitik tahi lalat di dekat bibir. Aku suka cerita-cerita yang ia tulis di dalam bukunya yang berjudul Sirkus Pohon. Aku pernah mengikuti kelas menulis dengannya pada 2007 silam. Di balik untaian kalimat yang jenaka, terselip pesan moral dan intisari cerita yang bikin mata batin terbuka. Andrea oh Andrea, bilakah aku mampu menulis sebohai itu?

sirkus pohon-.jpg

Membaca bab demi bab dalam Sirkus Pohon seperti menghisap candu tak berkesudahan. Benar-benar terbuai kita (aku) dibuatnya. Cobalah sejenak kawan-kawan bayangkan, duduk di tepi Krueng Aceh ini saja sudah membuat senang hati luar biasa. Aku merasakan berulang-ulang kesiur angin lembut hinggap di kulitku. Di seberang sungai, punggung-punggung rumah toko terhalang pandang dengan tanggul, rerumputan, dan pohon di dekat bantaran sungai.

Saat aku membuang pandang ke bilah kanan, tampak jembatan Pante Pirak yang ramai oleh kendaraan. Sementara di sisi sebelah kiri, di kejauhan sana menjulang menara masjid di Peunayong yang hijau. Berada di sini membuatku teringat pada sepotong cerpen berjudul Di Tepi Sungai Pidra, karya pengarang terkenal Paolo Coelho. Aku pun teringat pada sungai Rhein yang membelah kota-kota di Benua Biru nun jauh dari tempatku berada. Juga potongan imajinasi pada Selat Bosphoros yang memisahkan Turki dengan dua benua sekaligus.

Ditambah dengan teman dalam wujud sebuah buku yang renyah dan berbobot seperti ini, bukankah berkali-kali lipat senangnya? Sesekali, saat mata lelah, aku menyantap buah langsat yang kubeli di Pasar Kampung Baru. Sore tadi, sebelum ke sungai, aku mampir ke warung Asahi untuk menikmati hidangan berupa nasi putih dengan sayur pakis, dan semur ayam. Plus tiga keping jengkol rendang yang dalam pandanganku dengan perut lapar, tampak seperti kepingan-kepingan mata uang digital Bitcoin yang sedang heboh itu.

Dalam suap demi suap itulah karangan buah langsat yang warna kulitnya menjadi dambaan banyak perempuan terlihat oleh mataku. Mungkin tanpa bantuan kacamata, buah-buah langsat itu takkan tampak. Aku menukar selembar dua puluh ribuan untuk sekilo langsat.

Ratusan burung-burung hitam bersayap kecil sempat mengusik kekusyukanku. Aku menoleh ke udara. Decit berdecit suaranya tembus ke telingaku. Burung-burung ini seketika mengingatkanku pada bungkus bubuk agar-agar merk Sriti. Maka kusebut saja dia burung sriti. Nama latinnya Collacalia esculenta.

Jika sedang tak hujan di hulu, air sungai ini biasanya berwarna kehijauan. Tidak keruh seperti tadi. Beberapa tumpuk sampah mengapung di permukaan. Permukaannya yang biasanya tampak berkilau-kilau, sore tadi hanya tampak beriak-riak kecil tanpa kilau cahaya. Sebab langit Banda Aceh memang agak dikulum mendong sore tadi. Tapi itu justru menambah kenyamanan duduk di tepi sungai.

sirkus pohon-3.jpg

Aku menikmati betul kesendirianku ini. Aku bisa menenggelamkan diriku sedalam-dalamnya ke berlembar-lembar buku yang sedang kubaca. Sesekali berbalas pesan dengan teman-teman di Whatsapp. Aku adalah makhluk kesunyian. Makhluk yang sangat mencintai suasana lengang dan sunyi. Perihal istilah 'kesunyian' ini, adalah kosakata baru yang kudapat siang kemarin dalam kelas Forum Aceh Menulis yang diampu seorang penyair muda Ricky Syah R.

Ricky mengatakan, seorang penulis umumnya dalah makhluk kesunyian. Karena mereka senang menyendiri untuk mengeksekusi ide-ide liarnya. Tak masalah mereka berada di mana saja, entah itu di warung kopi yang riuhnya bikin kita mengucap berkali-kali, mereka selalu bisa menghadirkan ruang sunyi itu untuk dirinya sendiri. Aku terinspirasi dengan kata kesunyian, dan lahirlah catatan ini; aku makhluk kesunyian.[]

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  Trending

Trus karyanya mana? Ini kan cuma curhat ke akuan haha

·

hahahahha hussss nggak sopan nanya begituan wkwkwkwwk

·

Nah! Ikut bertanya, tapi dengan santun. 😊

·
·

apa pertanyaannya?

Saya juga pernah punya niat untuk nongkrong disana kak, tapi selalu tidak tercapai niat itu, entah karena apa.. haha..

Sunyi itu kadang punya kebahagiannya tersendiri kak 😁

·

Ayo, Indah. Duduk dan rasakanlah kenikmatannya. Eh, sudah aku follow ya...

·
·

akhirnya di follback juga :D
wkwkwkwk

Saya pernah buat film pendek di lokasi itu. sore itu teman saya kebetulan sangat lelah krna seharian kami terus-terusan shot video untuk footage film pendek kami. Saat tiba disana, hanya dalam hitungan menit dia langsung tertidur pulas disalah satu kursi tersebut 😆 ini menunjukkan kalau tmpat tersebut benar-benar tenang meski berada di tengah kota sekalipun.

·

Iya betul, apalagi lalu lintas di kawasan itu tidak terlalu sibuk ya? Btw buat film apa?

·
·

iya, cuma beberapa kendaraan tertentu yang lewat di pinggiran itu. kebetulan waktu itu saya buat film pendek tentang "anti hoax". film durasi pendek semacam pesan kepada masyarakat untuk lebih cerdas menanggapi berita-berita hoax.

manusia mahluk sosial

·

betul, Bang.

Sudah dua orang terinspirasi dengan Ricky Syah, dia memang mampu

·

Itulah bedanya inspirator dan motivator, seorang inspirator adalah penggerak.

·
·

Bukannya motivator yang penggerak? Arti dari motiv kan daya gerak dalam diri seseorang hehe

·
·
·

kalau keduanya sama atau beda, kira-kira ada dapat SBD kita? hahahah

·
·
·
·

Sangat apik tulisannya... Love It @ihansunrise

·

love you too @taufiksagoe ehhh....:-D salam kenal yaaa,

Kenapa keinginan kita selalu sama ya? Saya sangat ingin juga menikmati suasana pinggir sungai ini sambil membaca buku, tapi belum kesampaian juga

·

Kamu masih belum nyadar juga yaaa, apa yang membuat kita bersama selama ini?

·

Man kapan kesampaian.. di garut rame yang bakar meriam hahah

·
·

Wah ada @anakkorea!! Annyeonghaseo..

Keren.. penulis yang berbakat!

·

Terimakasih, Kak. Semoga suatu hari kita bisa berdiskusi bersama ya, mungkin dengan suguhan kopi dan sirih manis heheh.

·
·

Ayuh..kapan????

·
·
·

085276081046 , ini no Ihan ya Kak. Boleh dijapri, Minggu sore maybe...

Salam kenal makhluk kesunyian, semoga anda tak keberatan diusik dengan komen yang usil ini.

·

Salam kenal juga @dianaakmbal, senang sekali jika saya diusik dengan komentar-komentar, inilah awal pertemanan yang baik. Sudah saya follow ya... :-)

Aaaahhh... aku masih ingat pelatihan menulis itu. Selain Andreea Hirata, ada juga Gus Tf Sakai dan Hernowo. Aku bahkan masih punya fotonya.

·

Uhuy.... itu dulu Eky dapat dari mana fotonya...

apa kabar @ihansunrise ? 😂

·

Kabar baik, mengetahui @iamrifk berkomentar di sini heheh

·
·

napa gitu ihh ?

·
·
·

sudah begitu hahahha

Aku suka sama tulisan2 Andrea Hirata. Tapi bukunya yang Ayah dan Sirkus Pohon ini menurutkh agak membosankan. Kurang greget dibandingkan bukunha yang lain.. 😞

·

kalau aku suka, karena belum pernah baca bukunya yang lain hahahaha

Taman favorit kami utk membaca buku. Andai ada payung, pasti betah duduk lama-lama dari pagi sampe siang di sana.

·

Betul Cit, kalau di taman ini paling enak duduknya sore, karena mataharinya sudah ke barat, kalau pagi justru kita disiram oleh guyuran matahari yang berlimpah.

Tak perlu menjadi orang lain, tulisan inipun sudah cukup bohai, Kak Ihanku :*

·

Bukan menjadi orang lain, Ayi, tapi maksudnya bisa menulis serenyah tulisan mereka itu heheheh......

yang jangan lagi enak2 nya duduk, tiba2 datang buaya sungai ngajak ngobrol