Kosmologi Aceh
Pada kesempatan ini saya akan menulis lanjutan review dari buku Acehnologi karya Kamaruzzaman Bustamam Ahmad Ph.D Volume 2 bab:15 tentang kosmologi Aceh. Jika bab sebelumnya merupakan upaya untuk merekontruksikan sejarah Aceh dalam study Acehnologi, bab ini berupaya untuk menemukan konsep kosmologi Aceh. Kosmologi adalah study tentang pandangan dan hubungan suatu komunitas dengan alam, baik mikro maupun alam makro.
Melalui sejarah, ditemukan bagaimana perjalanan lorong waktu bagi suatu peradaban. Tentu saja dalam perjalanan tersebut ada kekuatan yang mengikat manusia dengan kekuatan kosmik, fondasi Acehnologi yang menjadikan manusia Aceh sebagai objek study, tentu tidak lepas dari kekuatan kosmik yang mengikat masyarakatnya. Karena itu, kajian tentang kosmologi menjadi begitu penting.
Kajian kosmologi sebenarnya sangat erat kaitannya dengan study filsafat, sejauh ini memang belum ditemukan kajian khusus mengenai filsafat Aceh. Namun, bukan bearti di Aceh tidak pernah ada tradisi berfikir secara falsafah. Di Indonesia, kajian filsafat lebih banyak merujuk pada tradisi kefilsafatan Jawa dan Hindu Bali.
Sistem kefilsafatan dan sistem kosmologi di dalam suatu peradaban, tidak dapat dipisahkan. Karena, kosmologi akan memberikan pengaruh pada tata pikir kefilsafatan. Begitu juga, filsafat akan menjelaskan bagaimana bentuk sistem kosmologi yang terbangun di dalam suatu bangsa. Sistem ini dihasilkan sebagai pengetahuan yang kokoh mengenai kepercayaan suku bangsa terhadap alam yang ada di luar diri mereka dan alam yang terdapat di dalam diri mereka. Dengan demikian, manusia dipandang sebagai bagian dari alam, maka sebagai manusia adalah bagian dari sistem kosmologi itu sendiri.
Mempelajari kosmologi akan memberikan dampak yang signifikan terhadap apa yang mempengaruhi suatu kepercayaan/keyakinan yang dianut oleh manusia, baik itu kemudian diarahkan pada aspek kefilsafatan, maupun di dalam sistem religi yang dianut oleh masyarakat tersebut.
Menurut Samer Akkach, ada 3 wilayah intelektual yang menjelaskan secara teoritis mengenai kosmologi di dalam islam, yaitu : " theology and polemics, philosophy and science, and hermeneutics and mysticism.
Dewasa ini, kajian kosmologi tidak menjadi perhatian utama di kalangan para pendidik generasi muda. Sebab terkadang sistem kosmologi yang terbangun di dalam suatu komunitas, terkadang tidak dianggap rasional, apalagi sudah berhubungan dengan mitos atau legenda. Demikian pula, generasi muda tidak mampu menangkap pesan-pesan alam secara baik, karena mereka tidak diajarkan untuk memahami kosmologi yang melingkupi alam kehidupan mereka sendiri.
Di dalam ajaran islam, berita tentang kosmologi dijabarkan secara berulang-ulang di dalam Al-qur'an. Islam telah memberikan kontribusi yang amat penting di dalam pembentukan fondasi berpikir kajian kosmologi. Dampak sistem kosmologi yang berkembang di Aceh, yakni sistem kosmologi yang menuju Tuhan yang Ahad.