Aku dan Komunitas Songket Aceh (Bagian 3-Tamat): Tanamlah Kebaikan dan Tak Usah Acuh Siapa yang Akan Mengetam

in #indonesia3 years ago (edited)

Tibalah pada bagian terakhir dari tulisan ini. Semoga bermanfaat ya, Steemians.


Jika semua berjalan sesuai dengan rencana, mungkin Tuhan tak perlu menciptakan air mata dan doa. (Al Khosim)

Membumikan kembali produk bernilai sejarah dan budaya yang tinggi mungkin jadi tantangan utama yang kita hadapi saat ini. Kondisi penenun di Aceh seperti halnya di daerah lain di nusantara, di mana semakin sedikit jumlah penenun yang ada itu pun pada umumnya sudah berusia lanjut.

Tantangan kami selanjutnya adalah bagaimana mendorong pendidikan keterampilan menenun ini menjadi sebuah muatan lokal. Meskipun demikian, terdapat sejumlah peluang dari era baru fashion tradisional. Dalam bagian terakhir kami akan menguraikan langkah-langkah selanjutnya yang dapat dilakukan dalam memanfaatkan peluang dan tantangan tersebut.

Mendorong Tenun Menjadi Pendidikan Muatan Lokal di Aceh

3a1badf718d744cbea1ddad65d3d9a28.jpg
11 April 2017: Temu Ramah Membahas Fashion Tradisional Aceh dalam Lintas Kajian Sejarah, Budaya dan Desain di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Kami pernah diundang menghadiri pembahasan mengenai fashion tradisional Aceh di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Pertemuan itu dihadiri oleh sejumlah budayawan, pelaku fashion, pakar sejarah serta para pejabat terkait di dinas tersebut.

Bapak Barlian AW, budayawan Aceh yang turut hadir dalam pertemuan itu, menunjukkan kepada kami sebuah penggalan dari naskah kuno "The Atjeh Code" atau Pohon Kerajaan Aceh. Manuskrip tersebut berisi 21 kewajiban bagi rakyat Aceh pada masa tersebut yang dipermaklumatkan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada Ahad, 12 Rabi'ul Awwal 913 H.

Adapun isi kutipan tersebut sebagai berikut:

"... Kelima. Diwajibkan atas sekalian rakyat Aceh yang perempuan iaitu mengajar dan belajar membikin tepun (tenun) bikin kain sutera dan kain benang dan menjaid (menjahit) dan menyulam dan melukis bunga-bunga pada kain pakaian dan barang sebagainya."

Manuskrip tersebut disimpan di perpustakaan Universiti Kebangsaan Malaysia dan isi keseluruhan dari kutipan tersebut dapat kamu simak di sini

Bukan tidak mungkin kita suatu hari akan menyaksikan pendidikan keterampilan tenun menjadi muatan lokal di Aceh. Hal ini sudah diterapkan di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat di mana mereka menjadikan Jepang sebagai contoh pedoman. Di kedua wilayah tersebut, keterampilan tangan diajarkan sebagai muatan lokal dalam mengasah kepekaan dan kecerdasan emosional siswa didik.

Era Baru Fashion Tradisional

e2f1c87dd579c3e713b563109b61567c.jpg
19 Maret 2017: Tamadun Budaya Islam Aceh dan Malaysia yang digelar di Rumoh Aceh Cut Nyak Dhien, Aceh Besar. Selengkapnya bisa kamu baca di sini

Dalam satu hingga dua dekade belakangan ini, secara perlahan kain tradisional kembali digemari masyarakat.

Tampaknya, desain motif etnik-lah yang menjadi daya tarik utama dari produk kain tradisional yang juga dikenal dengan sebutan wastu citra (wastra) nusantara ini.

Desain motif tenun yang pernah berkembang di masa lalu tentunya memiliki nilai sejarah yang tinggi, ditambah fakta proses pembuatannya yang masih tradisional. Para pecinta kain -- umumnya dari mancanegara -- sangat mengapresiasi pekerjaan keterampilan tangan (handmade) ini.

Sementara industri batik nasional sejak penetapan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO, sudah menyerap 600 ribu tenaga kerja dengan jumlah pelaku usaha sebanyak 56 ribu (selengkapnya di sini).

3423.png
4 Mei 2016: Talkshow Pre-Event Festival Kota Kita 2016 dengan Tema Peluang dan Tantangan Industri Kerajinan Budaya Daerah Aceh. Sumber foto dan cerita lengkapnya di sini

Secara global, fashion dunia saat ini mulai membahas isu fashion berkelanjutan (sustainable fashion) di mana produsen fashion diharapkan dapat lebih berperan dalam tanggung jawab sosial, budaya dan pelestarian lingkungan hidup.

Di sejumlah negara maju, masalah limbah pakaian dan dampak pewarna kimiawi pakaian pada kesehatan menjadi isu yang hangat dibicarakan. Sejumlah brand ternama dunia mulai berinisiatif terlibat dalam isu fashion berkelanjutan.

Hal ini membuka peluang bagi pelaku usaha tenun terlebih bagi mereka yang masih menguasai pewarnaan yang masih sangat alami. Semakin alami dan semakin tradisional pembuatannya, tentu semakin bernilai produk yang dihasilkannya.

I Love Songket Aceh: Selanjutnya Apa?

800a34d041402a5aea829e7bd78608a5.jpg
Azhari, persona baru komunitas I Love Songket Aceh yang sudah mendalami keterampilan dasar menenun

Bagi saya dan teman-teman di komunitas I Love Songket Aceh, "mengurusi" produk budaya ini bukanlah semata mengenai uang. Namun lebih kepada kecintaan terhadap produk budaya warisan indatu.

Namun tentunya kami tetap membuka peluang untuk bertransformasi menjadi lini usaha. Di sinilah kemudian Asli Songket Aceh (Assoka) kami perkenalkan sebagai bentuk keseriusan kami. Tenun songket Aceh sebagaimana kerajinan budaya daerah Aceh lainnya tidak boleh tenggelam sebagai sekedar pemanis artikel dan buku sejarah.

Kerjasama dengan semua pemangku kepentingan (stakeholder) tentunya menjadi kunci, terutama dari pengrajin sendiri. Merekalah pemain utama dan aktor utama yang harus terus dibela dalam mendukung pelestarian budaya daerah ini. Kolaborasi inovasi, perluasan pemasaran dan dukungan regulasi dapat menyelamatkan warisan indatu tenun songket Aceh dan juga produk budaya daerah lainnya.

Dengan sekedar wawasan saya di bidang manajemen usaha coba saya kolaborasikan dengan teman-teman saya di komunitas I Love Songket Aceh: ada yang bergerak di bidang literasi; budaya; keterampilan tangan (handmade); pembinaan usaha kecil dan menengah (UKM); penata rias; perancang busana; hingga pelaku bisnis daring (online). Ibaratnya lidi yang lebih kokoh saat terjalin menjadi sebuah sapu lidi, semoga dengan kolaborasi menjadikannya lebih bermakna.

Komunitas yang didirikan bersama para co-founder: Bang Hijrah Saputra, Bang Yudi Randa, Ibu Laila Abdul Jalil, Yelli Sustarina dan saya sendiri sejak awal berharap kehadiran komunitas ini dapat memotivasi tenun songket Aceh sebagai mahakarya warisan indatu dapat kembali berjaya.

11352411_1091459794199935_1584707507_n.jpg
Ibu Laila Abdul Jalil dan Yelli Sustarina: Ide lahirnya komunitas I Love Songket Aceh berawal dari diskusi kami di sebuah warung kopi. Selengkapnya di sini

Demikian Steemians dan audiens. Mohon doanya semoga dimudahkan terwujudnya impian komunitas ini songket Aceh kembali mendunia. Sampai berjumpa lagi. (-:

Sort:  

Mantap jiwa songketnya. Pasti mahal yah😂

Terima kasih Mbak Puan, songket Aceh bagus-bagus ya, Mbak? (-:

Wow penjelasan yang bagus @azharpenulis dan bisa membangkitkan semagat kaula muda untuk lebih kreatif dalam melestarikan khazanah dan budaya bangsa ini.

Semangat berkarya dan saling menyemangati @maepoong sabah terima kasih. Budaya warisan indatu atra geutanyoe. (-:

Melestarikan jejak kekayaan seni budaya. Tidak pernah mudah, dan tidak ada jalan pintas. Tetap semangat, rendah hati dan fokus pada tujuan.

Mohon bimbingannya suhu Bang Said @dngaco. Aamiin, sukses berkah selalu Bang..

Bila menenun menjadi suatu kewajiban sebagaimana tertulis di Manuskrip tersebut, maka pelajaran menenun bukan lagi mejadi pelajaran muatan lokal tapi pelajaran wajib bagi setiap siswa. Sayangnya untuk hal yang seperti ini pemerintah kita masih belum melek ya, karena mereka meleknya kepada pembangunan fisik.

Bukan tidak mungkin pemerintah malah akan ambil bagian. Tugas kita mengingatkan saja. Selebihnya terserah kepada Allah Swt.