Jangan Norak!

in #indonesia8 years ago

Sebelumnya, mohon tidak dipahami kata “norak” dalam tulisan ini sebagai makna kasar. Norak. Kebanyakan publik memaknainya sebagai sesuatu yang dianggap tidak ikut trend. Mulai dari fashion, food, hingga gaya hidup. Yang tidak mengikuti model fashion terbaru dianggap ketinggalan zaman. Tidak pernah makan di KFC, tidak tahu cara makan pizza, makan di restoran dengan tangan, ataupun tidak pernah mencoba kopi vietnam, dianggap tidak kekinian. Tidak safari dari caffee-caffee terbaru, berkelas, dan selfie dianggap tidak gaul.

Zaman telah berubah. Pemaknaan akan norak juga perlu di upgrade. Perlu meluruskan pemahaman bahwa norak itu tidaklah dilihat dalam ranah demikian. Ada banyak kenorakan lain yang perlu segera dihentikan. Kenorakan yang banyak dari kita malah tidak sadar bahwa kita sedang norak, senorak-noraknya.

Corak-Corak Norak

Lalu bagaimana norak yang dimaksud? Baiklah, akan saya paparkan beberapa praktik norak yang selama ini terjadi. Pertama, meninggalkan sampah atau membuangnya sembarangan. Jenis norak ini tidak pandang usia, gelar dan strata pendidikan. Menjangkiti hingga mereka yang bergelar tinggi dan mengaku menjadi bagian dari kaum terdidik. Padahal pelajaran “membuang sampah pada tempatnya” sudah diajarkan sejak di bangku SD. Saya coba terapkan hal ini. Terkadang tas saya penuh sampah. Kotor? Iya. Tapi selemah-lemah iman sampah saya itu tidak mengganggu orang lain dan membuangnya ketika menemukan tong sampah.

Kedua, Illegal logging dan membuka lahan tambang. Hutan dibabat tanpa ampun. Rawa-rawa ditimbun. Surat izin pembukaan lahan tambang diberikan dengan santun. Malah berhembus kabar, penguasa bekerja sama dengan perambah hutan untuk kemudian rupiah dikucurkan. Setelah banjir, lalu menyalahkan Tuhan. Ini masuk dalam kategori norak kelas berat.

Ketiga, memaki dan menghujat orang di dunia nyata dan sosial media. Dulu marah-marah di depan umum dianggap tindakan memalukan, merendahkan diri sendiri. Namun hari ini, konteksnya sudah di upgrade. Banyak orang bebas memaki di dunia maya hingga banyak yang lupa bahwa sosial media itu juga di depan umum. Malah sangat umum. Semua orang bisa melihatnya bahkan tanpa harus berada di lokasi kejadian.

Lalu apakah selesai di situ? Tidak. Jamaah maya kemudian men-share makian itu ke jamaah lainnya. Ditambah dengan caption: Wajib dibaca jika Anda peduli. Yang tidak baca berarti berdosa. Lalu jamaah lain pun ikut memaki secara berjamaah. Hei, bukankah ini ajaib? Kini orang bisa bertikai tanpa harus saling mengenal. Belum lagi yang men-share berita-berita hoax. Seolah keren. Merasa paling tahu. Paling cepat mengabarkannya kepada orang lain. Takut sekali ketinggalan. Dianggap tidak update.

Keempat, pertikaian yang terjadi karena beda pendapat dan pilihan. Misalnya, bertikai antar suporter bola karena berbeda tim yang diunggulkannya. Rusuh dimulai dari yang menonton langsung di lapangan sampai yang hanya menonton di warung kopi. Belum lagi di musim pilkada, pertikaian antar simpatisan karena beda pilihan gubernur yang dikampanyekan. Ini lebih mengerikan.

Kelima, menerobos lampu merah. Kalau ditanya, dijawabnya: “Kata Wakil Presiden, lebih cepat, lebih baik. Lagian tidak ada yang menyeberang.” Ini bukan persoalan tidak ada yang menyeberang. Tapi ini bicara kepatuhan peraturan. Jika hal sederhana ini saja tidak mampu diterapkan, tak perlu bicara berbusa-busa tentang teori-teori , hukum, keadilan, hak, dan lainnya. Berhenti di lampu merah adalah bagian dari menghormati hak orang lain. Sekalipun tidak ada orang yang lewat. Karena bisa jadi ada kucing yang menyeberang. Apalagi sederet kendaraan sudah menunggu untuk menyeberang. Lalu mereka pun dibingungkan: apakah peraturan sudah berubah? Lampu merah dibaca hijau. Sedangkan lampu hijau tetap hijau. Hargai hak-hak sederhana ini.

Di tengah kebiasaan masyarakat yang tidak taat aturan, ini memang sedikit susah diterapkan. Nyatanya, ketika saya berhenti di lampu merah dan tidak ada yang menyeberang, pengendara di belakang langsung berteriak: “Ngapain berhenti. Gak ada yang menyeberang. Jalan terus.” Inilah salah satu tantangannya. Di era yang membingungkan ini, kebenaran tanpa dukungan terlihat seperti sebuah kesalahan. Tapi saya bergeming. Terkadang saya malah senang berkesempatan berhenti paling depan. Karena dengan begitu saya bisa “menghadang” penjahat-penjahat lampu merah tersebut.

Keenam, orang-orang yang masih mengaktifkan handphone di pesawat sambil asyik selfie, padahal pramugari sudah mengingatkannya berkali-kali karena pesawat akan segera lepas landas. Ketujuh, merokok di tempat yang sudah jelas-jelas tertulis “Dilarang Merokok.” Ini memalukan sekali. Padahal pelakunya bukan orang tak bisa membaca. Hanya pura-pura buta pada tulisan yang ada.

Bukan Norak
Seperti yang disampaikan Tere Liye, bahwa orang-orang dengan jenis kenorakan di atas adalah termasuk orang yang bisa membaca tapi sungguh “tidak bisa membaca.” Ia tahu lampu merah bermakna berhenti, tapi dibacanya: silahkan jalan. Ia tahu dilarang membuang sampah sembarangan, tapi dibacanya: silahkan dibuang. Ia tahu jangan membabat hutan hingga gundul, tapi dibacanya: silahkan ditebang. Ini pundi-pundi uang. Banjir di Aceh Singkil dan beberapa daerah lainnya adalah akibat dari banyaknya pribadi yang berperangai norak dan orang yang bisa membaca, tapi sungguh tak bisa membaca.

Jadi jangan keliru memahami arti norak. Kita tidak akan menjadi norak hanya karena tidak pernah naik pesawat,selfie di caffee terbaru dan berkelas, atau belanja di mall. Kita juga tidak serta merta menjadi norak hanya karena tidak pernah makan di KFC, paparons, pizza hut, ataupun makanan ala barat-barat lainnya. Sungguh, kita tidak akan norak hanya karena tidak pernah punya pengalaman itu.

Maka tidak etis sekali rasanya menertawakan masyarakat kampung yang sekali-kali datang ke kota, yang tidak tahu bagaimana cara naik lift, tidak pernah naik pesawat, atau pun makan makanan yang dianggap branded seperti KFC. Mereka bukan norak, hanya tidak tahu caranya karena memang belum pernah. Saya sendiri, sejak KFC dibuka di Lhokseumawe sampai beberapa waktu lalu terbakar, belum pernah makan di tempatnya langsung. Paling sekali-kali hanya di bawa pulang. Lalu apakah saya merasa norak? Tidak. Saya masih baik-baik saja. Tidak kurang suatu apa, walau jarang makan KFC dan pizza bubuk merica. Karena saya pikir, makan makanan ala barat bukanlah simbol kekerenan seseorang.

Mulailah untuk melihat norak dalam kacamata yang berbeda. Perlu membuang jauh-jauh perangai norak seperti di atas. Jangan berkhutbah menyelamatkan dunia kalau melakukan perubahan sederhana itu saja tidak mampu.
Jangan norak!

*Tulisan ini adalah corat-coret satu tahun silam ketika penulis menjadi orang paling tersalah karena memilih berhenti di lampu merah, padahal hanya sedikit yang menyeberang.

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.32
JST 0.082
BTC 59866.06
ETH 1573.69
USDT 1.00
SBD 0.42