Steemit dan Buku Demokrasi Kurang Ajar

in Indonesia3 months ago

camera720_20210329_215119.jpg

Beberapa tahun lalu, tepatnya pada Januari 2018 saya baru mulai bergabung dengan steemit setelah mendapat info dari beberapa teman, bahwa ada satu platform bernama steemit yang bisa digunakan untuk menulis dengan "imbalan" "uang digital"

Awalnya saya tidak percaya dan mengabaikan informasi tersebut karena tidak masuk akal. Demikian menurut pikiran saya waktu itu. Apalagi saat itu saya juga sering menulis artikel di koran-koran lokal yang mendapat bayaran secara pasti, meskipun tidak banyak, tapi cukuplah untuk sekadar ngopi dan jajan beli rokok. Cuma saja tidak mungkin tulisan kita bisa terbit 3 atau 4 kali dalam seminggu, sebab penulis bukan cuma kita, meskipun level koran lokal, pesaingnya juga lumayan ramai.

Saat itulah saya mulai berpikir untuk bergabung dengan steemit setelah mendapat penjelasan dari senior saya berinisial RR, salah seorang tokoh media di Aceh.

Sejak Januari 2018 saya pun mulai menulis di steemit. Awalnya saya sempat kebingungan karena tidak mendapat apa-apa karena hampir sebulan nilai vote yang bertengger hanya berkisar 0,01.

Namun saya terus saja menulis, karena memang sudah menjadi hobi jauh sebelum saya mengenal steemit.

Saat itu saya berpikir, selain menulis lintas topik, tentang apa saja yang saya anggap layak, saya juga mulai membuat klasifikasi tulisan. Salah satunya tentang topik politik praktis yang berlangsung di tanah air. Waktu itu saya bertekad, suatu saat tulisan-tulisan dengan tema ini akan saya kumpulkan dan diterbitkan menjadi buku.

camera720_20210329_215151.jpg

Maka, mulailah saya menulis setiap hari di steemit. Dari awalnya yang hanya mendapat vote 0,001, seiring perjalanan waktu, nilai vote yang saya dapat pun mulai meningkat dengan adanya vote dari kurator dan juga masuknya program Curie (saya lupa tulisan yang benar) dan program satu lagi, saya lupa namaya yang voternya datang berduyun-duyun itu, sehingga nilai vote yang saya dapat pun mulai meningkat. Kemudian muncul pula program steempress sehingga saya bisa memosting di blog yang kemudian terpantul ke steemit.

Nah, terlepas dari itu semua, tujuan awal saya untuk mengumpulkan tulisan juga terbilang berhasil. Pada 2019 ketika sedang berlangsung kampanye pilpres dan pileg, saya berhasil mengumpulkan tulisan terkait kontestasi politik.

Kumpulan tulisan itu kemudian saya terbitkan menjadi buku tipis, sekitar lebih kurang 120 halaman dengan judul "Demokrasi Kurang Ajar." Penerbitan buku itu saya biayai sendiri dan diterbitkan oleh Penerbit Zahir Publishing di Yogyakarta dengan harga jual Rp. 45.000 per eks.

Tulisan dalam buku tersebut semuanya berasal dari artikel-artikel saya di Steemit yang saya tulis setiap hari tanpa jeda.

Pasca menerbitkan buku itu, saya masih terus melanjutkan menulis di Steemit sampai tiba satu waktu harga Crypto meluncur dan menukik sehingga saya beristirahat sejenak di Steemit.

camera720_20210329_215219.jpg

Jadi, kesimpulannya, selain mendapat penghasilan dari Steemit, meskipun tidak banyak, saya juga mendapat bonus dengan terbitnya satu buku.

Ada juga tulisan-tulisan tema lainnya yang kalau saya kumpulkan mungkin bisa menghasilkan satu atau dua buku lagi. Tapi sementara cukup itu dulu, dan semoga Steemit tetap berjaya!